Prahara Rambut

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…

Aku ga kehilangan seseorang. Tapi kata-kata itu, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali” adalah kata-kata yang kukatakan pada diri sendiri setiap hari.

Pada rambutku.

Yang dulunya, walaupun tipis, tapi warna dan bagaimana dia bergelombang aku suka banget. Kalau lagi ga ada kerjaan aku suka mengagumi rambut sendiri (hahahaha). Kalau ada yang nanya bagian tubuh yang paling kusuka ya rambut (sama mata sih).

Tapi sekarang rontok parah. Abnormal. Luar biasa. Ini bukan rontoh sehari 10 atau 20 helai. Aku udah ga bisa hitung lagi rontoknya, saking rontoknya itu kayaknya dalam hitungan detik berkurang 1. Apalagi kalau dipegang *maksud hati mau kayak model iklan sampo* wah udah kayak orang abis kemoterapi. Serius!

Ga tau kenapa, ada terlalu banyak motif kerontokan yang mungkin. Pertama dan yang paling gampang dibilang: stress gara-gara ngurusin nikah. Kedua, yang paling mencurigakan, aku habis creambath di salon muslimah ternama di daerah Tebet – rambutku rontoh parah dalam 3 hari sejak creambath itu, sampai sekarang kurang lebih sudah 2 minggu. And it all must happen 1 month prior to my wedding….

Memang ga boleh itu, mencintai sesuatu secara berlebihan. Secara semuanya titipan Allah. Sekarang rambut, mungkin besok nyawa. Mungkin Allah mau ngasih hukuman buat Yozzi supaya ga bisa menikmati rambut indahku pas malam pertama, kekekekkkk

Tonik udah kucoba. Aku udah ga pernah nyisir selama 1 minggu. Frekuensi keramas jadi 2 hari sekali (uh panasss lengket rasanya), tetep aja ga berubah. Akhirnya, gara-gara ga sempet potong rambut, kuambil gunting dan kupotong sendiri rambutku… Hiks hiks.. Mestinya bisa kayak Mulan di mana dia motong rambutnya pake pedang dan jadi pahlawan. Tapi kalau aku, hasilnya Cuma jadi pendek dan berantakan. Aku udah ga peduli model apa, rapih atau ga, yang penting pendek dulu.

Dan hasilnya, masih rontok…………………………………….

Stressed Out

I have to admit that I’m stressed out.

I always had my schedule full 7 days a week, barely 18 hours a day. I don’t think I get proper sleep. Every Friday I went to Bandung in cold shuttle car. For the weekend I went around Bandung to wedding vendors and often argue with Mum or Yozzi about the decision.

In the weekday, my work’s piling up. My stamina dropped and I got sick again but fortunately, it didn’t get much worse in the next day. After that, I tried to rearrange my working time. I came at 8 AM. Lunch at 12. Functionally working again at 1 PM but then I’m gone to mushola for another half an hour. I tried to get home earlier before 7 PM. I think that’s better because previously, I had to work from 7 AM – 8 PM with very limited break time I never went lunch outside. Thank God my head division in the last one month, who’s new, doesn’t put too much attention so I could relax my mind a bit.

But still, even after job distribution rearrangement in my division, I got more work than before. Now I really regret why I didn’t say no, and why I didn’t constrained myself from offering myself to help another job.

In the last 1 month I always eat sate padang in two dinner times a week. I never skipped dinner also. And I do that while I should be on diet. Want more? I got two HUGE pimples in my chin, 2 or 3 coming out, and lots of small acnes I never had before.

And I tell you what, I DON’T CARE.

Well, I lied. I do care. That’s why I’m stressed out. I don’t have much leisure time so I order myself to eat more, just to feel content in the end. I have no escape plan now that I only have food as the only solution.  This acne problem is not also helping. So it’s just like a devil’s circle.

What should i do.. what should i do..

CCK – Cari Cincin Kawin yang Cocok

image

Karena aku sama Yozzi bukan orang yang suka pake cincin, dari awal kami sepakat cincin cuma simbol dan kami ga akan pakai, tapi harus ada. So walaupun minggu depan mau lamaran, kami tenang-tenang aja (sebenernya keseluruhan lamaran ini kami tenang-tenang aja, ga ngurusin apapun, cuma tinggal bawa diri aja kam?).

Tiba-tiba Bapaknya Yozzi nelepon, suruh nyari cincin. Untung lagi ada Ibu di Jakarta, yang tadinya mau cari bahan buat seragam ke pasar baru jadinya memutuskan untuk cari cincin.

Sayangnya aku sama Yozzi sama-sama bloon soal perhiasan, kami yang jadi guidenya Jakarta ga punya ide sama sekali untuk nyari di mana. Di toko emas di mallkah? Atau di ITC? Atau di Pasar? Googling dan tanya-tanya, yang ada di ITC atau pasar pasti lebih murah harga per gramnya daripada di mall. Terus aku inget Ibu-ibu di kantor katanya kalau beli emas tiap jam istirahat tuh ke Cikini. Jadilah kami ke Cikini Gold Center, yang setauku satu gedung isinya toko emas semua dan baru dibuka.

Setelah sampai sana, duile sepi banget. Setelah digali, ternyata karena 1. Hujan besar, 2. Minggu rata-rata tutup, 3. Toko-toko emas di sekitaran Cikini itu belum semuanya pindah ke Cikini Gold Center. Pas datang ke lantai toko emas, cuma ada kami doang pelanggannya. Hahahaha.. Tapi makin lama, beberapa calon pembeli berdatangan.

Puter-puter, akhirnya kami menambatkan hati di toko Harmoni Wijaja. Soalnya gara-gara harga pastinya, kami dikasih murah. Berbekal pengalaman datang ke toko sebelumnya yang berbaik hati membreakdown komponen harga pembentuknya, kami meminta toko harmoni melakukannya juga. Harga per gram emasnya termasuk murah (tapi bisa lebih murah lagi kalau beli ready stock), ongkosnya murah, trus (karena aku minta model diamond soliter yang sangat jadul klasik) diamondnya juga dikasih muraaaaah. Selisihnya ampe 1.3 jutaan dari toko Orient yang kayakmya lebih banyak dikenal (itu juga setelah nego abis-abisan sama Orient).

Trus entah kenapa pas pertama kali masukin cincin ke jari, punya Harmoni terasa lebih lembut dan kasar dibanding cincin yang dijual di toko lain. Hahahaha… Tapi kalau dibilang “comfort fit” atau “standard fit” si yang punya ga terlalu ngerti, mesti ditunjukin gambarnya baru “oooh”.

Anyway, tentang model yang kami pilih.. Sekian kali aku mencoba tanpa hasrat, sambil seringkali bilang “ga suka dan ogah pake cincin” ke Ibu dan Yozzi. Aku bener-bener ga suka model cincin nikah yang bold begitu. Terus akhirnya aku nyeletuk, kenapa sih ga ada yang pake model soliter buat nikah? Si mbaknya bilang, “Ada aja kok yang pake soliter.”

Si cincin soliter itu aku coba daaaaan ah, that’s the kind of ring i want. Elegan dan jadul klasik. Yozzi sama Ibu juga bilang aku lebih bagus pake itu. Sekarang tinggal Yozzi, yang jelas ga mungkin pake model soliter itu. Dengan badan dan jari dia yang besar, dia tetap lebih cocok pake model cincin kawin konvensional yang lebar. Jadilah, cincin kami seperti yang ada di foto.

Yawes, model tak mesti sama. Yang penting sama-sama menyayangi, ohohoho….

*dan mungkin aku bakal dihujani komentar “Itu mah paling banter engagement ring, bukan wedding ring!”

Tagged , , ,

Gedung Pernikahan Kapasitas Besar Bandung

Karena nyari gedung itu susyaaaaaaah (lebih karena faktor waktu sih, nyari mepet-mepet), ini aku review gedung pernikahan yang kapasitasnya di atas 1000 dan bukan gedung TNI/ABRI (preferensi pribadi emang ogah pake gedung yang berbau militer, walaupun sebenarnya murah).

Sabuga Convention Hall

Buat urang Bandung pasti tau lah Sabuga dimana dan seperti apa, apalagi buat kalangan ITB yang wisudanya pasti di Sabuga. Sabuga convention hall ini bentuknya setengah lingkaran, dan kita punya opsi untuk nyewa sebagian atau seluruh ruangan. Auditorium utama dengan luas 1200 m2 bentuknya setengah lingkaran (45 juta weekend). Exhibition hall yang bentuknya busur (melingkari auditorium utama) luasnya kalau ga salah 1200 m2 juga (25 juta weekend). Untuk 1000 orang, sebenarnya nyewa auditorium utama saja sudah cukup. Tapi karena layoutnya yang tricky (setengah lingkaran), plus tribunnya ga boleh dipake, dekorasi harus jor-joran. Harus bisa ngakalin gimana caranya supaya tribun tidak terlihat dan tidak diduduki oleh tamu, which is ujung-ujungnya harus bikin tenda dalam ruangan.

Biasanya yang nyewa Sabuga bakal nyewa auditorium dan exhibition hall. Kemarin Yozzi hitung-hitung, total untuk nyewa seluruh convention hall sabuga plus biaya listrik dan layar jatuhnya 89 juta. Belum lagi dekornya.. Alamak, makanya walaupun katanya bisa dapat harga dosen, kami ga ambil Sabuga (selain di bulan yang kami pengen memang sudah tidak available).

FYI pernah juga ada teman yang menghadiri pernikahan di Sabuga, tapi cuma ngambil separuh auditorium utama (exhibition hallnya bahkan ga disewa sepertinya, tapi penerimaan tamu tetap pake secuil exhibition hall). Separuh sisanya ga ditutupin apa-apa, cuma lampunya digelapin. Jadi berasa ada blank spaces dan rada garing ambiencenya. Tapi kalau soal tempat parkir dan luas, Sabuga top banget. Selama kuat budgetnya buat ngedekor, Sabuga is a good choice not to mention pricey :)

Kontak: A. Tanjung 0812949011 / 022 2511561 / 62 / 63

Pusdai

Nah ini dia gedung paling favorit di Bandung buat pernikahan. Lokasinya strategis di dekat Gedung sate Jl. Diponegoro. Luas hall utamanya 1200 m2, ditambah loby dan selasar luasnya bisa mencapai 2100 m2. Kapasitas standing party diakui bisa sampai 2500 orang. Parkir juga luas. Karena favorit, booking Pusdai harus satu tahun sebelumnya. Untuk 2014, tarif weekend dan hari libur 26 juta (siang) atau 26,7 juta (malam). Tambah biaya operasional gedung 3 juta. Biaya kelebihan per jam 3,5 juta. Pemakaian jam 6.00 – 14.00 (siang) atau 15.30 – 22.00 (malam)

Fasilitas yang diberikan:

  • Listrik 5000 W
  • AC sentral 120 PK
  • AC 5 PK 2 unit
  • Sound system 2000 W 6 Mic
  • Karpet jalan 100 m
  • Kursi 200 buah plus cover
  • Panggung kesenian 3,6  x 5,4 m
  • Panggung pelaminan 4 x 16 m
  • Lighting 10 titik (siang) / 20 titik (malam)
  • Blower 15 buah

Ga heran Pusdai jadi favorit, kalau kubilang sih dengan kapasitas dan fasilitas yang diberikan, harga segitu udah oke punya. Kalau menurutku, disarankan untuk ga pake Pusdai Minggu pagi karena pasar Gasibu bikin Pusdai susah diakses. Walaupun katanya nanti 2014 Gasibu bersih PKL, Pusdai masih kena titik Pasar Suci yang bikin doi ga bisa diakses dari Surapati.

Sebagai tambahan, my personal opinion, kini Pusdai agak kotor. Entah karena keseringan dipake atau entah karena faktor orang yang datang ke Pusdai selalu banyak, jadi tiap kali menghadiri kondangan di sini pasti kesannya kotor. Udah gitu katanya suka dimasukin sama orang-orang dari Pasar Suci. Nevertheless, Pusdai oke banget untuk ngadain acara nikah yang cukup bergengsi di Bandung dengan kapasitas di atas 1000 orang tapi tetap irit.

Oiya, kalau ngambil acara siang dan malamnya ada acara, panggung malam ditaruh di belakang panggung siang jadi luas area untuk acara siang terpotong panjangnya kurang lebih 5 m.

Kontak: Pak Nana 081320344528, Pak Indra 08122082237, Pak Purwanto 081394520723 atau kantor 022 7216214

Graha Tirta Siliwangi

Nah ini dia gedung baru yang lagi naik daun. Letaknya di Jalan Lombok, satu daerah sama Graha Manggala Siliwangi, Kolam renang Tirta Siliwangi, Lapangan Golf Siliwangi, Hotel baru (namanya lupa).

Hall utamanya berukuran 765 m2 (42 x 17 m), ditambah lobby 320 m (20 x 16 m) yang dihubungkan dengan dek kolam ikan yang kalau ga salah ukuran deknya kurang lebih 40 m2. Kapasitas yang diklaim 1500 orang untuk standing party, tapi ini ngabisin seluruh area dari hall sampai lobby. Daya tarik utamanya ada di dek kolam ikan yang jadinya bagus buat foto akad (serasa di Bali katanya), plus atap kaca memanjang yang bikin suasana romantis kalau malam dan teduh kalau siang (soalnya di atasnya langsung pohon-pohon cemara besar yang tumbuh di sepanjang jalan Lombok). Lobbynya sendiri hampir ga bisa difungsikan sebagai ruangan resepsi karena ada kursi-kursi dan kantor, jadi most of the time lobby benar-benar berfungsi sebagai lobby, reception, dan photo booth doang.

Makanya, untuk claimed capacity sebesar 1500 orang standing party itu, menurutku dan menurut beberapa vendor (catering sampai dekorasi) semua ngomongnya sama: kecil dan padat. Menurutku, Graha Tirta Siliwangi maksimal banget 1000 orang, jangan diisi lebih kalau ga pengen tumplek tubleg. Untung saja langit-langitnya tinggi (dan tidak ada chandelier).

Fasilitas:

  • AC 7,5 PK 12 unit (acnya standing, bukan sentral)
  • free listrik 10.000 watt (kelebihan Rp50/watt)
  • Kursi 100

Parkir sebenernya luas kalau mau memanfaatkan tempat parkir stadion siliwangi. Tapi entah kenapa orang-orang lebih suka parkir di sepanjang jalan Lombok, bikin tempat parkir serasa dikit dan macet (claimed parking capacitynya sih 200 mobil). Pemakaian jam 10.00-14.00 (siang) atau 18.00-22.00 (malam). Tarifnya untuk weekend 50 juta. Waktu akhir 2013 ke sini sih, dapat diskon sampai 15 juta.

Oiya karena baru, toiletnya masih bagus banget dan ruang riasnya oke punya. Cuma entah kenapa banyak blog yang bilang manajemennya kurang baik. Waktu aku kesana nanya-nanya sih belum keliatan, hehe…

Nah ini foto-fotonya, pas kesana kebetulan lagi akad jadi bisa dapat glimpse waktu setelah didekor dan penuh dengan properti katering. Sempet kesana lagi pas kondisi kosong tapi lupa foto -___-

Graha Tirta Siliwangi

Image

Kontak: Yuli 085646542112, kantor 022 4220762

Graha Manggala Siliwangi

Ga banyak yang tau kalau Graha Manggala Siliwangi bisa dipake pernikahan, soalnya biasanya dipake buat pameran. Dalam 1 bulan paling hanya ada satu pernikahan (itupun pernikahan internasional, makanya buat keluarga yozzi yang “tradisional”, mendengar Manggala Siliwangi sebagai gedung pernikahan rasanya aneh), sisanya pameran. Masih satu owner sama Graha Tirta Siliwangi, tapi beda manajemen. Lokasinya di Jl. Aceh.

Graha Manggala Siliwangi punya 3 section, tapi yang disewakan either ngambil convention hall (semua, dengan luas 60 x 30 m 1800 m2 kapasitas standing party 2750 orang), atau Manggal II & III (36 X 30 m 1080 m2 kapasitas standing party 1500 orang). Nah karena antara ngambil convention hall atau sebagian doang selisihnya cuma 1 juta, mending ambil semua hahaha… Convention hall biayanya 50 juta, waktu pelaksanaan 10.00-14.00 (siang) atau 18.00-22.00 (malam). Penambahan jam dimungkinkan selama ga ada acara selanjutnya dengam biaya 4 juta per jamnya. Ga boleh bawa genset dari luar, jadi penambahan listrik di luar free listrik dikenakan biaya Rp 50/watt.

Fasilitas:

  • AC sentral
  • Listrik 5000 W
  • Kursi 150
  • Biaya Keamanan

Graha Manggala Siliwangi punya 2 chandelier (yang sayangnya, sudah tua, kristalnya agak semrawut dan belum ada rencana perbaikan di 2014) serta dindingnya berornamen kayu, jadi kesannya udah mewah banget. Sayangnya, ruang rias keciiiiiiiil parah (kayaknya cuma 3 x 4 m) dan mesti memanfaatkan toilet untuk ruang rias tambahan. Toiletnya sih relatif baru dan bagus. Claimed parking space sampai 300 mobil, ini memanfaatkan tempat parkir stadion siliwangi sama lapangan tenisnya. Cuma masalahnya, juru parkir di luar suka bilang parkir di dalam penuh. Jadinya orang-orang selalu mengira Graha Manggala Siliwangi tempat parkirnya kecil dan harus parkir di jalan. Sepupunya Yozzi bahkan pernah datang ke acara undangan jam 7 malam dan baru dapat parkir 8.30.

Anyway, keluarga kami akhirnya memutuskan untuk pakai gedung ini (setelah berbagai macam pertentangan dengan Mama Yozzi soal gedung ini, mulai dari yang katanya dulu suka dipake kebaktian lah, parkir susah lah, jarang yang nikah di situlah, ruang rias kecillah) karena masalah kapasitas dan satu-satunya yang available di bulan April (selain Graha Tirta Siliwangi), itupun setelah ngudag-ngudag salah satu EO yang udah booking di dua weekend. Tapi kalau soal manajemen, kayaknya perlu diacungin jempol. Responsif dan tau banget soal tetek bengek plus minusnya vendor pernikahan se-Bandung, jadi secara ga langsung serasa punya wedding advisor gitu.. Hehehe…

Walaupun gedungnya masih berbau militer, at least baunya ga militer amat (lohh ga konsisten hahahaha).

Kontak: 022 4202162, Andreas 08156004488

Bandung Convention Center

Nah ini lokasinya rada jauh dari pusat kota.. huhu… Jalan Soekarno Hatta  No. 354, ga terlalu jauh dari pertigaan M. Ramdan-by pass yang ada patung ikannya. Karena satu komplek sendiri, pintu masuknya besaaar, parkirnya luaaaaas, securitynya ajiiiiiiib. Bener-bener Bandung Convention Center deh, bukan gedung abal-abal.

BCC luas banget, 72 x 24 m 1728 m2, claimed standing party capacity sampai 2500 orang. Dan memang luas sekali… sebanding deh luasnya sama Graha Manggala Siliwangi. Sayangnya, langit-langitnya ga begitu tinggi (memadai lah), ga punya chandelier dan lightingnya sederhana banget. Atapnya ga ada ornamennya sama sekali, cenderung polos. Ada lobby memanjang yang memadai banget untuk penerimaan tamu, photo booth dan photo gallery.

Fasilitas:

  • Ruang tunggu keluarga
  • Free listrik 10.000 W
  • AC sentral
  • Izin keramaian dan keamanan
  • Kursi 200 plus cover
  • 20 VIP Parking
  • Cover dinding
  • 5 meja VIP keluarga
  • 1 set screen projector
  • Stage 12 x 4 m

Biayanya 40 juta untuk 4 jam. Biaya kebersihan katering 1 juta dan dekorasi 1 juta. Penambahan waktu dikenakan 7.5 juta per jamnya. BCC lebih sering dipake pernikahan (dan udah banyak banget yang pake), cuma minusnya ya itu, bukan daerah pusat kota yang kita kenal selama ini (Riau dan Dago). Padahal sih kalau dari pusat kota Bandung benernya mah BCC itungannya deket.

Toilet ga sempet lihat :(

Bandung Convention Center

DSC_0571Bandung Convention Center

Bandung Convention Center

Bandung Convention CenterBandung Convention Center

Kontak: 022 70704168, 022 91697200

ITENAS

Nah kalau ini sarat pesan sponsor camer, hahaha.. Karena beliau dosen Itenas, beliau dari awal getol banget promosi Aula Dayang Sumbinya Itenas yang baru dipugar ini. Besar, luas.. Diestimasikan luasnya kurang lebih 1200 m2, jadi cukup lengang untuk diisi sampai 1500 orang. Langit-langitnya tinggi, artistik, dindingnya pun bernuansa pixel kuning orange. Nah sayangnya, karena ini camer sendiri yang promosi, brosurnya ga megang. Katanya sih biayanya untuk umum 20 juta. Fasilitasnya ga tau deh apa aja, hehe.. Tapi banyak banget ruangan kecil-kecil yang bisa dipake buat tunggu keluarga, ruang rias, ruang leha-leha, baik di lantai 1 maupun lantai 2.

Parkirnya sih banyak karena mengandalkan parkir Itenas. Tapi waktu itu pernah test food Destiny di Itenas, acaranya malam minggu dan hujan besar. Walhasil mobil parkirnya sembarangan karena ga ada juru parkirnya. Akhirnya mobilku sama mobil camer malah keblok sama mobil tamu lain dan sempat terjadi insiden tidak mengenakkan, di mana mobil yang menghalangi mobil kami terbuka kuncinya secara tidak sengaja dan kami kepergok lagi nurunin rem tangan dan kopling sama yang punya mobil (saking udah kesel kelamaan nunggu empunya mobil nongol).

Itenas Pernikahan

Itenas Pernikahan

Itenas Pernikahan

So…

Sayang banget Bandung belum punya gedung berkarpet, ga kayak Jakarta (Dhanapala, Balai Kartini, Sasana Kriya, Patra Jasa, to name some Gedung favorit di Jakarta yang berkarpet). Kalau mau karpet di Bandung, pilihannya harus hotel, atau Wahana Bakti Pos jalan Riau (lantai 8. Ini juga claimed capacitynya sampai 1000, tapi menurutku terlalu kecil). Di Bandung lebih banyak pilihan yang bagus kalau untuk garden party (yang boros dekorasi dan juga hanya bisa dilakukan di musim kering, haha).

Udah gitu kalau cari gedung di Bandung harus weekday. Ga seperti Jakarta yang officenya buka selama ada acara, di Bandung marketingnya cuma ada pas hari kerja, mau hotel ataupun gedung. Kalau mau ngelit pas weekend harus janjian. Ini yang bikin aku kesel setengah mati, soalnya aku di Bandung cuma weekend aja. Akhirnya, internet dan telepon jadi andalan banget untuk nyari gedung.

Nah, kalau gedung berkapasitas besar biasanya kena charge macam-macam atau syarat tambahan. Misal, untuk katering minimal harus 1500 pax (Destiny) dan kalau dekorasi ada penambahan yang sifatnya volumetrik sebesar 10 juta (Rumah Pengantin – karena masalah banyaknya properti dekor yang harus diturunkan bukan karena masalah biaya gedungnya). Sebagai referensi, Rumah Pengantin mengklasifikasikan gedung yang tadi saya sebutkan di kelas A (ukuran, kapasitas, dan biaya sepertinya, hahaha – kecuali Itenas karena masih piyik): Batununggal, Pusdai, Graha Tirta dan Manggala Siliwangi, BCC. Kalau Kologdam ga termasuk A karena ukuran besar tapi biaya nanggung (jadi mereka masih taruh di kelas B). Gedung kelas B itu seperti Serasan dan SESKOAD  yang di Hegarmanah. Trus ada juga beberapa WO dan vendor yang cuma pengen ngambil wedding project kalau di gedung tertentu, which is biasanya gedung kapasitas besar ini yang diprioritaskan.

Yah memang ga bisa dipungkiri, gedung yang dipakai mencerminkan status banget nget nget. Jadi aku saranin untuk selalu realistis dalam memilih wedding venue. Jangan sampai kita maksain pakai gedung bagus dan besar tapi ga memenuhi ekspektasi vendor (dan banyaknya tamu, ga lucu kan udah milih yang besar dan bagus tapi yang datang sedikit?). Rugi bandar dua kali..

Oiya ini ada beberapa foto, sempet survey ke The Trans (OMG mahalnyaaaaa tapi mewahnyaa) pas lagi didekorasi untuk pernikahan anaknya pemilik FO seBandung (doi ngeblok daerah Grand Ballroom sama Convention Center, alamak). FYI, pelaminannya pake Lotus decoration, sempet nanya katanya pelaminannya doang 70 juta. Hahahahahahahaha….

The Trans Grand Ballroom

The Trans Grand Ballroom

Ini juga ada foto Sasana Kriya Jakarta waktu kosong. Karena baru, masih murah loh. Harga 2014 untuk hall besarnya 21 juta (kapasitas 2000). Hall satunya (kapasitas 1200) 18 juta. Full karpet dan baguuuuuus :’) Cuma sayang di daerah TMII, selalu maceeeeet.

Sasana Kriya

Sasana Kriya

Tagged , , , , , , ,

Sedikit Ngalor Soal Industri Pernikahan

Semua blog yang ngebahas soal wedding experience, betapa repotnya ngereview vendor satu per satu, ngurus ini itu sampai hari H, pasti dimulai dengan postingan “I’m getting married” atau “Pusingnya ngurus pernikahan”.

Tapi seperti biasa, postinganku yang ngalor ngidul ini bahasannya lari kemana-mana.

Kenapa juga sih nikah ribet banget?

Ga cuma di Indonesia doang, tapi di luar juga sama aja. Ampe dibikin filmnya, betapa repotnya ngurusin pernikahan. Sampai ada wedding planner. Sampai ada wedding organizer. Sampai ada wedding exhibition.

Dan di Indonesia lagi growing industry banget, semua hal soal pernikahan ini. Dengan para baby boomers kini memiliki anak usia menikah (20-30 tahun), kecukupan materi, relasi yang luas, ga salah kalau industri pernikahan sejak tahun 2000 an meroket. Semuanya dikomersialkan. Everything has to be perfect on your day. Penyatuan dua keluarga. Nunjukin gengsi dan martabat keluarga. Dari yang cuma menggenapkan setengah agama dan legalisasi reproduksi, menjadi komoditi “once in a lifetime”.

Salah? Ga… Tuhan memberikan banyak cara untuk menyalurkan rejeki kepada umatNya. Termasuk kepada umatNya yang berkecimpung di bisnis yang terkait pernikahan. Bagus kok, menggerakkan roda perekenomian. Apalagi industri pernikahan ini, menurutku, lebih banyak komponen lokal dan komponen intangible sehingga sedikit relasinya sama gonjang-ganjing ekonomi eksternal. Justru industri beginilah yang perlu dikuatkan dan didukung oleh pemerintah.

Potensinya besar. Dengan piramida penduduk Indonesia yang bentuknya masih segitiga, industri ini belum bakalan kehabisan bahan bakar. Pasti akan selalu ada pasangan yang akan menikah. Tinggal bagaimana pembagian kuenya saja. Mau main yang kecil-kecil, bisa… Mau main yang besar-besar, bisa…

Perkembangannya pun gila-gilaan. Vendor gedung favorit bisa dengan seenak jidatnya naikin harga. Aku pernah tanya salah satu gedung pernikahan favorit di Jakarta yang belum bisa ngeluarin price list 2014, “memangnya biasanya per tahun naik berapa persen tarifnya?”

Jawabannya, “Yah 10-20% lah ya”

BUSET udah kayak properti aja, ga beli minggu depan harga naik 1000% investasi uang kembali.

Dekorasi pun menggiurkan. Asalkan ada uang, semuanya bisa. Dekorasi pernikahan sampai 1M? SANBRAAAAY, selalu ada vendor yang sanggup mengerjakan ide tergila untuk hari pernikahan Anda walaupun besoknya hanya berakhir di tempat sampah.

Katering favorit, seperti D***** di Bandung misalnya, dalam satu tahun kenaikannya sampai 15%!

Dan karena pernikahan ini seluk beluknya bukan hanya urusan manusia tetapi juga rangkaian sistemik (halah), pengetahuan dan pengalaman menjalani persiapan pernikahan menjadi pelajaran yang sangat berharga dan bisa dijual kembali. Beberapa website sukses menelurkan model e-commerce untuk industri pernikahan yang menguntungkan.

Dengan segala keribetan urusan pernikahan ini, apakah akan menurunkan tingkat perceraian?

Meh…. walaupun ada relasinya tapi nalar saya mengatakan, itu adalah dua kejadian mutually exclusive. Pernikahan dan perceraian, apapun business modelnya, pada dasarnya adalah masalah mental manusia. Manusia bisa saja mengambil keuntungan dari eventnya, tapi untuk menjalaninya costs you your life yang ga bisa diukur dengan uang.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers