Horee postingan baruuu… tapi lagi-lagi isinya bakalan curhat.
Jadi gini,
sedari SMA cita-citaku tuh jadi CEO Telkomsel. Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang, alias pas lulus dosen pembimbing nawarin jadi dosen. Aku iyain tuh, akhirnya ngelamar beasiswa buat sekolah lagi ke Jepang sama Singapura. Sembari menunggu, aku cari kerja dengan short term contract, pokoknya tahun depan udah bisa sekolah lagi ke Singapura kalau dapat beasiswanya. Dapatlah kerja di BI – dan impian jadi CEO terpaksa aku tutup, kuras, dan kubur kayak membasmi nyamuk demam berdarah.
Sudah 4 bulan kerja di BI, tepatnya di UKMI yang menangani informasi, dan baru beberapa minggu lalu merger dengan direktorat teknologi informasi, aku merasa kerasan dan senang dengan proyek yang kukerjakan tentang XBRL (kapan-kapan cerita). Suasana kerja mendukung, bos yang baik dan suka ngegaring – kadang-kadang curhat, teman-teman yang membuatku merasa ga lagi ngomong sama orang in the middle of their 30s, klop. Aku udah membuka lagi impian untuk menjadi CEO – soalnya kalau Gubernur ga sanggup ah, jabatan politis. Kalau kata Kak Bayu, senior TI 2005 yang udah jadi pegawai BI, baru Boediono doang seorang mantan gubernur BI yang ga masuk bui. Hehehe…
Aplikasi beasiswaku ke Jepang ga diterima. Ditambah lagi dengan dosen pembimbingku yang bilang, kalau mau kerja di BI ga jadi dosen juga gapapa, aku sudah melupakan hasrat untuk sekolah sampai S3.
Dan suatu hari, datanglah berita menggembirakan dan membingungkan. Aku keterima beasiswa SINGA di NUS. Beasiswa ini untuk PhD selama 4 tahun – 2 tahun belajar ala master dan ada qualifying exam untuk jadi PhD candidate. Jadi ya langsung PhD ntar dapet gelarnya, bukan master. NUS minta konfirmasi keputusan dariku terima atau gaknya 2 minggu sejak nerima email pengumuman. Artinya dalam 2 minggu aku harus mengambil kesimpulan yang akan mempengaruhi karirku seumur hidup.
Memang kalau dilihat dari plan setelah lulus, ini merupakan rencanya Allah yang “Alhamdulillah ya, sesuatu banget…” Timing yang pas dan semoga tahun 2016 aku udah bisa jadi dosen di ITB.
Tapi semakin dipikirin semakin banyak hal yang membuat aku pengen mundur. Ngejalanin PhD is all about endurance. Aku ngeliat temen-temenku yang kemarin di Jepang, kalau tanpa motivasi yang kuat silahkan kubur dalam-dalam dapat gelar PhD. Silahkan mau motivasinya menggali ilmu kek, jadi dosen kek, mau jadi ilmuwan, pokoknya harus kuat. Kondisi aku saat ini, motivasinya ga ada sama sekali. Paling motivasinya cuma “sayang ah nolak tawarannya”.
Udah gitu, abis PhD mau jadi apa aku masih belum tau. Kalau aku pengen kerja kayak sekarang, ketinggian gelarnya dan buang-buang waktu. Kecuali kalau aku mau terima dipekerjakan sesuai dengan gelar sebelumnya yaitu S1. Ada sih alternatif, jadi konsultan di pemerintahan. Tapi untuk itu aku pengen masuk ke bidang riset yang strategis macam energy efficiency. Masalahnya, aku ga tau aku diassign ke research lab mana sampai akhir tahun ini.
Plus untuk masuk ke pemerintahan tanpa menjadi PNS, aku butuh network orang Indonesia yang kuat. Satu hal yang membedakan kuliah di Jepang dan di Singapura dalam bayanganku adalah, type of networking. Di Jepang, mahasiswa di sana bisa dimanja dengan orang-orang penting dari Indonesia yang diundang knowledge sharing di KBRI. Suatu kesempatan baik pun bisa dimulai cuma gara-gara jadi supir di KBRI. Di Singapura, terlalu banyak mahasiswa yang pakai biaya sendiri – jadi ga mungkin jadi supir. Terlalu banyak orang penting Indonesia yang datang ke Singapura – tapi cuma belanja. Kalau mau knowledge sharing sih ke Indonesia aja, deket. Kebayangnya, kalau dulu di PPI Jepang kita diskusi soal bagaimana membangun negeri, di PPI Singapura mungkin lebih banyak membahas bagaimana membangun perusahaan. Sebenernya dua-duanya hal yang baik, tapi aku lebih prefer yang pertama.
Okelah mungkin itu cuma ada dalam pikiranku aja, toh aku belum pernah ngejalanin yang di Singapura atau benchmark aku ke Jepang kebetulan hal mengalami yang seperti itu. Mungkin Jepang sama Singapura sama aja. Tapi yang jelas aku masih bimbang 50-50 mau ambil atau ga tawaran beasiswanya.
Ada yang bisa kasih saran?
Your meows on me