No more imports?

24 Jan

I seldom update my blog recently, but when I do, I complain a lot. So that’s why I stop automatic importing my blog posts to facebook notes since 2010. I don’t even know that this automatic import feature is not available since last year, now that I want to continue sharing my blog posts.

Reason I can find why this feature is not supported anymore:

We want you to connect with your fans in the most effective ways possible. That’s why as of September 30th you’ll no longer be able to automatically import posts from your website to your Page notes. The best way to get people to interact with your content is to give them insight into the links you share on your Wall by adding personal comments and responding to feedback from fans. source

Fans? Except you’re a celebrity, then what you have are only friends.

For a shy and humble person like me (which is probably arrogant and attention-seeker to you), sharing blog post that contains personal life or personal message is a complete disaster. It’s like admitting that you produce such a stink fart to the public. But I want others to know, especially when I tried to signal some personal message to someone that I hope he/she would read it, this feature helps a lot.

It’s like “Oh, did I just share my personal life to everyone here? Sorry, I did not notice that my facebook notes are importing all of my blog posts. But you read it, right? Please make a comment then…”

That do happen to me sometimes, ha… ha… But normally I would remove the imported notes as soon as possible if it contains inappropriate story to be shared directly to my friends. I still need those import feature to directly import more beneficial knowledge content of some blog posts.

Now I miss this feature so much. Because here, now, I’m trying to write a thoughtful blog post but this post idea was poof-ed somewhere after I know the feature is not exist anymore. Instead, I’m writing another complain post, again…

We are what we choose

18 Dec

Lately I have no idea to write. If I have something to blame, it’s work. Like the other else, I always do the routine on weekdays. In addition, I got home at 9 PM most of the time. Reasons? Lots of works, I prefer to free ride a colleague, and we prefer to stay out from the traffic jam hours.

I spend one set of weekends in Bandung and in Jakarta thereafter. Mostly staying at home, trying to substitute lack of sleeping during weekdays. All of those lead to one thing: dull idea.

But the point is, I choose it that way. I actually can spend weekends with more challenging agenda, not just staying at home all day or having entertainment at shopping centers. I simply just not do that.

So what’s to blame?

It’s not work. It’s myself.

We are what we choose :)

 

and yeah, I did not choose that PhD scholarship.

Talks about marriage

23 Oct

Recently, I was bombardized by marriage stories. I have 2 friends that decided to get married with their fiancee, one in two weeks – married two weeks later, one in three days – will be married next year. On the contrary, I have another 2 friends who cannot decide to get married with their partner although they are reaching their 30’s. Their reason is simple, “I just have not feel that he/she’s the one, my heart is not fixed yet.”

In Indonesia, getting married is a must for most people for several reasons. For Moslems, it is obliged to get married if you are quite of age, physically and mentally able to get married. Indonesian also has quite strong social pressure for getting married and having children – even widow and widower are still considered as “fail person in life – do not get close to them” in some ethnics and areas. In my opinion, marriage is a phase of life that you have to go through it whether you like it or not. Well, except that you can escape the social norms, then marriage could be an option for you.

Surely, to get married is not an easy thing to do especially these days. Finding a perfect partner would be hard, as you know. But even after you found someone, it does not mean you will promptly marry him/her. And that is 2 of my friend’s case. They are romantically involved with their partner but they are not just ready to say “YES, I WILL MARRY YOU!!”

After engagement, are still exposed to the risk that the engagement is cancelled. Well this is what happened to my friend’s friends for many reasons. Cheating or suddenly felt that he/she ain’t right after more time being together are the most frequent reasons that I know. I personally believed that broken engagement is more caused by personality shock during marriage preparation.

When you are dating, you and your partner are deciding on small things – where to eat, what to watch, when to meet, etc. But marriage preparation is something else. You really have to unite yours and your partner’s preference on one thing that will affect not only you, but your family, relatives, colleagues, acquaintances, etc… For example, deciding on invitation, that’s a small thing. Next thing you know, you will decide who will follow whom to live together and that’s a big decision especially if one of you has to leave something behind for a new life… You will be exposed to the real side of your partner, and for some people, would find it shocking.

But here’s the point: you don’t know what destiny awaits for you, you don’t know when, how and with whom you will be married to. I might have described the difficulties of getting married, but one of my friend has proved that marriage is easy once you’re set for it. Two weeks after their first meeting, they’re engaged. In another two weeks, they’re married. Well, this is life, full of colors. If there’s only one color in getting married, then I would not write this post :)

Anyway,  I want to borrow Mike Rowe’s statement that he gave for interview in Oprah Winfrey Show about “Dirty Job” reality show to end this post.

“… I won’t say fearless because everybody’s scared of something—but they process risk differently. They live differently, and it’s fascinating.”

Demo yang gagal…

18 Sep

Kemarin aku jalan-jalan ke PvJ bersama keluarga untuk pertama kalinya (PvJ udah ada sejak 2006 dan kami baru pergi sekeluarga 2011, hahaha). Di Carrefour, ada demo produk deterjen S*rf yang mengklaim paling putih cemerlang hasilnya. Yang nonton cuma dua orang Ibu-ibu, aku yang penasaran (walaupun udah sering liat di TV) liat-liat dari jauh.

 

“Eh Ibu yang disana, ayo sini mendekat aja,” kata demonstratornya. Sialan aku dipanggil ibu-ibu, hahaha… Demonstratornya berjenis kelamin lelaki, ketulenannya silahkan periksa sendiri. Badannya rada gempal, makanya mulutnya lebih atraktif daripada badannya. Yah setidaknya tangannya masih bisa melakukan demo.

“Nih saya punya dua kain putih. Tolong cek ya bu apakah ini kainnya sama…” demonstratornya nyodorin dua lembar kain putih ukuran 10×10 cm ke ibu-ibu paling depan. “Sama.. sama…”

“Nah sekarang saya punya air berisi tanah merah. Dua kain ini akan saya celupkan ke dalam air ini…” dia celupin tuh kain, aduk-aduk pake pinset, kok aku merasa dia lagi bikin teh ya? Dia keluarin terus dia peras kainnya. Aku berkata dalam hati, yah kalau cuma air tanah merah mah kainnya ga bakalan kotor-kotor amat. Dan terbukti, kain yang udah dicelup cuma berubah warna dari putih banget ke putih belel.

“Di sini saya punya dua jenis deterjen, satu deterjen s*rf – yak Ibu-ibu bisa melihat deterjen s*rf memiliki butir-butir berwarna biru yang berfungsi sebagai pencerah warna putih pakaian ibu-ibu sekalian. Satu lagi ini deterjen merek X, saya tidak akan menyebutkan mereknya…” lah bukannya barusan dia bilang mereknya X ya? “Satu kain akan dicuci dengan s*rf dan satu kain dengan deterjen X supaya bisa kita lihat bedanya.”

Setelah pembilasan….

“Yak ibu-ibu silahkan dilihat hasilnya, lebih putih yang mana?”

Ibu-ibu di sebelah langsung teriak dengan semangat kucing jantan ketemu kucing betina, “Yang ini!” dia nunjuk kain yang dicuci pake s*rf. Aku memicingkan mata. Putihnya sama. Aku spontan bilang, “Sama aja ah…”

Demonstratornya gak kehabisan alat demo, dia masih punya kotak bersinar biru yang dia klaim bisa menunjukkan kecemerlangan warna putih. “Nih saya masukin ya dua kain ini ke kotak sinar biru, ayo coba dilihat mana yang lebih putih.”

Lagi-lagi ibu di sebelah langsung nunjuk kain yang dicuci pake s*rf, “Yang ini!”. Tapi komentarku tetap, “Sama aja”. Wong memang dari pantulan cahayanya sama aja kok, sama-sama biru. Aku yakin banget sama pandangan mataku yang kagak ada minus-minusnya, pun masih bisa melihat kutu di dalam beras. Gak kalah sama superman. Kalau superman punya kemampuan melihat tembus pandang, kalau aku selayang pandang. Itu loh, masakan yang pedas-pedas bikinan orang minang. *udah mulai ngaco*

Rupanya si demonstrator rada panik, dia langsun bilang “Oke mungkin karena mbak – ” yah sekarang dia baru bilang mbak kalo kepepet, ” – ngeliatnya di samping. Coba ya saya tuker posisinya, pasti kelihatan deh mana yang lebih cemerlang.” Dia tuker posisi kainnya dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri.

“Sama ajaaaaaa…” komentarku. Semantara si ibu-ibu tetep konsisten dengan “yang ini” nya pada kain dengan s*rf. Aku bingung, kok bisa ya dia ngebedain. Pantulan cahaya, sama. Pendar warnanya pun, sama terangnya. Belakangan dua adikku juga ikut ngelihat, mereka juga komen “sama aja kok”. Kontan si demonstatornya rada pucat… Sadar suasananya ga enak aku langsung bilang “Makasih ya” dengan senyum termanis dan kabur. Si demonstratornya pura-pura sibuk dengan ladenan ibu-ibu “yang ini”.

Kasihan… better luck next time. Setidaknya dia telah berhasil meyakinkan satu ibu-ibu “yang ini!”

Aduh bingung

18 Sep

Horee postingan baruuu… tapi lagi-lagi isinya bakalan curhat.

Jadi gini,

sedari SMA cita-citaku tuh jadi CEO Telkomsel. Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang, alias pas lulus dosen pembimbing nawarin jadi dosen. Aku iyain tuh, akhirnya ngelamar beasiswa buat sekolah lagi ke Jepang sama Singapura. Sembari menunggu, aku cari kerja dengan short term contract, pokoknya tahun depan udah bisa sekolah lagi ke Singapura kalau dapat beasiswanya. Dapatlah kerja di BI – dan impian jadi CEO terpaksa aku tutup, kuras, dan kubur kayak membasmi nyamuk demam berdarah.

Sudah 4 bulan kerja di BI, tepatnya di UKMI yang menangani informasi, dan baru beberapa minggu lalu merger dengan direktorat teknologi informasi, aku merasa kerasan dan senang dengan proyek yang kukerjakan tentang XBRL (kapan-kapan cerita). Suasana kerja mendukung, bos yang baik dan suka ngegaring – kadang-kadang curhat, teman-teman yang membuatku merasa ga lagi ngomong sama orang in the middle of their 30s, klop. Aku udah membuka lagi impian untuk menjadi CEO – soalnya kalau Gubernur ga sanggup ah, jabatan politis. Kalau kata Kak Bayu, senior TI 2005 yang udah jadi pegawai BI, baru Boediono doang seorang mantan gubernur BI yang ga masuk bui. Hehehe…

Aplikasi beasiswaku ke Jepang ga diterima. Ditambah lagi dengan dosen pembimbingku yang bilang, kalau mau kerja di BI ga jadi dosen juga gapapa, aku sudah melupakan hasrat untuk sekolah sampai S3.

Dan suatu hari, datanglah berita menggembirakan dan membingungkan. Aku keterima beasiswa SINGA di NUS. Beasiswa ini untuk PhD selama 4 tahun – 2 tahun belajar ala master dan ada qualifying exam untuk jadi PhD candidate. Jadi ya langsung PhD ntar dapet gelarnya, bukan master. NUS minta konfirmasi keputusan dariku terima atau gaknya 2 minggu sejak nerima email pengumuman. Artinya dalam 2 minggu aku harus mengambil kesimpulan yang akan mempengaruhi karirku seumur hidup.

Memang kalau dilihat dari plan setelah lulus, ini merupakan rencanya Allah yang “Alhamdulillah ya, sesuatu banget…” Timing yang pas dan semoga tahun 2016 aku udah bisa jadi dosen di ITB.

Tapi semakin dipikirin semakin banyak hal yang membuat aku pengen mundur. Ngejalanin PhD is all about endurance. Aku ngeliat temen-temenku yang kemarin di Jepang, kalau tanpa motivasi yang kuat silahkan kubur dalam-dalam dapat gelar PhD. Silahkan mau motivasinya menggali ilmu kek, jadi dosen kek, mau jadi ilmuwan, pokoknya harus kuat. Kondisi aku saat ini, motivasinya ga ada sama sekali. Paling motivasinya cuma “sayang ah nolak tawarannya”.

Udah gitu, abis PhD mau jadi apa aku masih belum tau. Kalau aku pengen kerja kayak sekarang, ketinggian gelarnya dan buang-buang waktu. Kecuali kalau aku mau terima dipekerjakan sesuai dengan gelar sebelumnya yaitu S1. Ada sih alternatif, jadi konsultan di pemerintahan. Tapi untuk itu aku pengen masuk ke bidang riset yang strategis macam energy efficiency. Masalahnya, aku ga tau aku diassign ke research lab mana sampai akhir tahun ini.

Plus untuk masuk ke pemerintahan tanpa menjadi PNS, aku butuh network orang Indonesia yang kuat. Satu hal yang membedakan kuliah di Jepang dan di Singapura dalam bayanganku adalah,  type of networking. Di Jepang, mahasiswa di sana bisa dimanja dengan orang-orang penting dari Indonesia yang diundang knowledge sharing di KBRI. Suatu kesempatan baik pun bisa dimulai cuma gara-gara jadi supir di KBRI. Di Singapura, terlalu banyak mahasiswa yang pakai biaya sendiri – jadi ga mungkin jadi supir. Terlalu banyak orang penting Indonesia yang datang ke Singapura – tapi cuma belanja. Kalau mau knowledge sharing sih ke Indonesia aja, deket. Kebayangnya, kalau dulu di PPI Jepang kita diskusi soal bagaimana membangun negeri, di PPI Singapura mungkin lebih banyak membahas bagaimana membangun perusahaan. Sebenernya dua-duanya hal yang baik, tapi aku lebih prefer yang pertama.

Okelah mungkin itu cuma ada dalam pikiranku aja, toh aku belum pernah ngejalanin yang di Singapura atau benchmark aku ke Jepang kebetulan hal mengalami yang seperti itu. Mungkin Jepang sama Singapura sama aja. Tapi yang jelas aku masih bimbang 50-50 mau ambil atau ga tawaran beasiswanya.

Ada yang bisa kasih saran?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.