Tag Archives: rekrutmen BI 2012

Proses Panjang Masuk BI

Alhamdulillah ya sesuatu banget, 99% dapat dipastikan aku akan terdampar di Bank Indonesia selama minimal 4 tahun. Kata-kata terdampar merupakan kata yang cocok untuk kondisiku, karena mimpiku sebenarnya masuk Telkomsel (teteeeep) tapi ternyata perahu yang kupakai terbawa arus ke Bank Indonesia. Aku tidak mencoba melawan arusnya juga sih. Tapi saat aku sudah terdampar beneran aku yakin pasti banyak hal yang bisa kulakukan di sana.

Anyway aku cuma mau sharing tahap-tahap seleksi PCPM BI angkatan 30 yang jalan sejak awal Januari sampai 31 Agustus kemarin. Berhubung aku juga lagi kerja sebagai swakelola proyek XBRL di BI jadi banyak banget yang ngasih informasi soal tips and tricks seleksi. Tapi tenang, bukan dibocorin kok ;) ga adil atuh.

Kali ini BI bekerja sama dengan PPM Manajemen untuk proses rekrutmennya. Dari 8 tahap, 5 tahap sepertinya dihandle PPM secara langsung. Sementara untuk 3 tahap lain BI bekerja sama dengan BiMC (Bidakara Medical Center) dan internal BI sendiri. Di jaman internet sekarang ini, aku merasa kami lebih beruntung karena banyak dibombardir informasi dari peserta sebelumnya maupun sharing sesama peserta. Ada satu thread di Kaskus yang khusus membahas proses seleksi PCPM BI 30 dan MLE – jadi aku sendiri ga merasa tersesat dan sendirian (selain orang kantor juga heboh nanyain sih)

Note: Untuk tips lainnya, baca post temanku di sini

0. Administrasi

Disebut dengan tahap 0, calon peserta harus melengkapi format resume yang diberikan BI dan mendaftar secara online. Tahap ini masih diorganize sama PPM Manajemen. Kabarnya sih ada 75.000 orang yang melamar untuk posisi MLE dan PCPM. Calon peserta diberi waktu seminggu dari sejak pengumuman sampai pendaftaran online ditutup.

Ga ada tips and trick, cuma bisa berdoa semoga data kita gak hilang dan dimacem-macemin. Aku termasuk yang nyaris gagal daftar karena kesalahan sistem. Jadi aku udah daftar online tapi setelah aku menyelesaikan input data, web page yang terbuka tertuliskan error ga jelas dan aku ga dapat konfirmasi apapun. Akhirnya aku telepon PPM Manajemen dan eng ing eng.. ternyata harusnya kita dikasih email. Untung aja responnya cepat jadi dalam 1 hari setelah aku telepon aku sudah resmi terdaftar sebagai peserta seleksi :)

Di resume itu juga kita memilih lokasi tes yang diinginkan untuk tes selanjutnya: Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Semarang, Denpasar (kalau yang Indonesia Tengah – Timur aku ga tau di mana lagi)

1. Tes pengetahuan umum – pengetahuan khusus – psikotes I

Selang seminggu, udah ada pengumuman kapan dan di mana kami akan menjalani seleksi tahap 1. Untuk luar Jakarta mulai lebih dulu sedangkan Jakarta selang 1 minggu kemudian. Tes dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu. Berhubung aku di Jakarta, thanks God teman-teman di Bandung (dan Kaskus tentunya) banyak yang ngabarin bahwa mereka terkaget-kaget dengan soal-soal yang diberikan. Jangan bayangkan pengetahuan umum pada umumnya, karena yang umum saja sudah membahas soal Kebanksentralan, teori ekonomi dan manajemen. Sementara itu pengetahuan khusus itu isinya lebih khusus lagi dari yang umum. Jadi banyak banget yang merasa ga mampu menjawab dengan baik, terutama yang latar belakangnya non ekonomi.

Anyway aku sendiri, berkaca dari cerita teman-teman yang sudah tes dan via kaskus, belajar dari UU 23 tahun 1999 tentang Bank sentral, UU 7 tahun 1992 tentang perbankan, buku makroekonomi dan buku mengenai perbankan. Ditambah lagi dengan pengetahuan yang aku dapat pas bekerja jadi swakelola XBRL (untung aku waktu itu kerjanya justru memahami informasi yang dilaporkan oleh Bank) dan latar belakang Teknik Industri (pernah belajar ekonomi selama 4 SKS plus sedikit banyak tahu mengenai manajemen), membuatku cukup mampu menjawab soal-soal. Cukup mampu lho ya, karena yang kupelajari sama di soal ya jelas beda. Jadi ya cuma bisa analisis ini itu untuk mengira-ngira jawabannya.

Terus psikotes – di pengumuman sih psikotes tapi menurutku ini Tes Potensi Akademik (TPA). Biasalah, tes memori, tes analitis.. Cuma aku merasa tesnya banyak dititik beratkan di analisis, seperti deret, mencari pola selanjutnya dari 3 bentuk, pola bangun ruang, kubus, dll. Mungkin memang yang dicari adalah orang yang analisisnya kuat instead of kemampuan bahasa atau matematis ;)

Note: Buat yang cari informasi mengenai tes kemampuan umum PCPM XXXI, baca ini ya

2. Psikotes II & Kemampuan Bahasa Inggris

Kenapa Psikotes II? Ini karena aku ga inget namanya pas di pengumuman apa. Tapi seingatku justru di sinilah Psikotes yang sebenarnya: ada tes  Pauli (penjumlahan angka yang kertasnya besar kayak koran isinya angka semua), EPPS (225 soal untuk mengecek personality), sama tes gambar (pohon, orang, melanjutkan 8 gambar). Seingatku juga ada pertanyaan preferensi sama open question mengenai personality dan target-target kehidupan.

Kalau aku, banyak dikasih tips untuk psikotes sama orang kantor (karena mereka semua juga pernah mengalami psikotes yang sama). Misalnya untuk tes Pauli nih, yang dilihat adalah apakah ketahanan kita; konsisten menjumlahkan, terus naik, terus turun, atau berfluktuasi. Nah karena banyak informasi, aku cenderung bias dalam ngerjain tesnya dan malah merasa ga maksimal gara-gara pas ngerjain mikirin, “Aduh aku udah melakukan tips itu belum yaa”. Menurutku, kalau memang sudah terbiasa dengan psikotes dan selama ini selalu dinyatakan tidak ada masalah – mending ga tau maksud dari tes itu sama sekali. Just do it without thinking furter.

Setelah itu ada 100 soal pilihan berganda Bahasa Inggris. Nah ini tesnya cuma membahas structure, grammar, sama vocabulary doang. Nah tahap ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia – lagi-lagi selama 2 hari: Sabtu dan Minggu.

3. Focus Group Discussion dan wawancara psikologi

Oiya, dari Tahap 1 dan 2, pembagian kelas dan ruangan selalu berdasarkan abjad. Jadi jangan heran kalau ketemu terus sama orang yang sama (dan bisa jadi dengan nama yang sama pula). Tahap 3 ini juga sama, malah lebih unik karena kalau sebelumnya masih tes individual, sekarang tes grup. Pembagiannya masih berdasarkan urutan nama jadi di kelompok FGD ku yang berjumlah 6 orang, isinya 5 orang dengan nama Laras.

Semua kelompok FGD di seluruh Indonesia akan mendapatkan test case yang sama dan pertanyaan yang sama (mengenai Rocky si kontraktor yang mau buka usaha sendiri). Rumus sukses di FGD adalah: aktif tapi tidak mendominasi, jangan memotong pembicaraan dan hargai pendapat lawan bicara. Berhubung aku takut mendominasi diskusi, aku menawarkan diri untuk jadi penulis. Tidak ada moderator dalam kelompok kami, semuanya bicara dan diskusi kami hangat sekali. Semua anggota kelompok kami lulus ke tahap berikutnya ;)

Tapi tetap ada faktor lain, yaitu wawancara psikologi. Berdasarkan hasil TPA dan psikotest, kami diwawancara yang pertanyaannya mengonfirmasi temuan dari tes sebelumnya. Aku dapat pewawancara senior dan sepertinya dia mencoba membuatku menyetujui pendapatnya. Aku setujuin sih, tapi setelah perdebatan panjang. Di akhir wawancara aku nanya menurut Bapak saya ini gimana, dia jawab “Saya sih lebih suka wanita yang… yah… kamu tau lah ya – ” mungkin maksudnya adalah wanita yang tidak terlalu mengejar karir, “kalau Anda adalah wanita yang ambisius”.

4. TOEFL ITP

Kenapa ya sampai ada tes bahasa inggris sampai dua kali? Entahlah. Yang jelas dari awal seleksi udah dibilangin kalau bakal ada tes ini dan untuk orang yang sudah memiliki TOEFL/IELTS setara PBT 550 boleh ga ikut tes. Tapi kenyataannya kami tetap harus datang ke lokasi tes untuk absen.

Nah ada yang lucu di sini, sebelum tes pengawasnya keliling memeriksa berkas TOEFL/IELTS asli bagi yang sudah di atas 550. Selain meriksa, dia juga ngasih nasihat, “Wah kalau segini sih saya saranin kamu ikut tes lagi soalnya nilai segini agak riskan. Siapa tau kalau ikut tes lagi jadi lebih tinggi.”

Walhasil banyak yang terpengaruh nasihatnya dan ambil tes lagi walaupun udah di atas 550. Padahal, pas kami yang memilih tidak ikut tes dikumpulkan, sekonyong-koyong datanglah orang DSDM dan memberikan pengumuman, “Selamat, Anda yang di ruangan ini kami nyatakan langsung lolos ke tahap seleksi tes kesehatan dan psikiatri”. Kena deh! Sebenarnya berapapun nilainya, asal di atas 550 udah otomatis lulus ke tahap selanjutnya, bukan diranking lagi…

5. Tes psikiatri

Pas tes ini kelihatannya orang PPM udah ga megang secara langsung. Pengawasnya adalah psikiater dari BiMC (“anak” nya BI, kalau ga salah sih pengawasnya diambil dari institusi ini) plus orang DSDM yang tawaf dari satu kelas ke kelas lainnya. Ada 567 soal mengenai sesuai atau tidak sesuai pernyataannya dengan diri kita.

Nah berhubung Tice sebelumnya udah ngebela-belain tes psikiatri (salah satu punya keuntungan punya teman yang takut dan ga pede seperti Tice ini adalah, dia persiapannya top markotop banget. Sementara aku leha-leha dan go with the flow, hehe), Tice ngasitau tips supaya jujur saja dan jangan dibuat-buat. Soalnya PPKN banget, kalau dibaca baik-baik sebenarnya kita bisa tau mana yang kecenderungannya moral baik atau buruk. Contoh soalnya nih:

1. Aku belakangan ini pernah mimpi buruk.
2. Aku mencintai ibuku.
3. Aku suka menjadi pusat perhatian dalam pesta.
4. Aku seringkali menghindari seseorang yang tidak aku sukai dengan cara memutar arah jalan.
5. Aku seringkali merasa kesepian di tengah keramaian.
6. Aku hanya merasa nyaman berada di rumah sendiri.
7. Aku merasa dosaku tidak dapat diampuni.
8. Orang yang memberi kesempatan untuk dicuri sama bersalahnya dengan pencuri.
9. Aku merasa nyeri pada kepala.
10. Aku merasa takut pada ketinggian.
11. Aku merasa takut pada ular.
12. Aku merasa senang jika melihat binatang dianiaya.
13. Aku merasa takut pada ketinggian.
Dan sebagainya. Sayangnya set pertanyaan ini sensitif terhadap jawaban yang dibuat-buat. Ga mungkin manusia itu sangat sempurna, pasti ada satu dua hal yang menunjukkan sisi manusiawi (rasa benci, takut, marah, dsb). Oleh karena itu, begitu baca dan langsung punya feeling bahwa jawabannya ya (atau tidak), langsung jawab. Jangan dipikir-pikir lagi. Makin dipikir makin bingung, jawaban makin bias. Apalagi sebenarnya cuma dikasih waktu 1 jam untuk menjawab semua soal itu.
6. Tes kesehatan
Mengikuti rekomendasi teman kantor, kami Medical Check Up sendiri di RSPAD Gatot Subroto supaya tahu lebih dini masalah kesehatan kami sebelum tes kesehatan yang sebenarnya. Kami itu aku dan Tice, kalau Tice sih plus tes psikiatri itu (huahahaha yakin banget ya kami bakal lulus tes psikiatri). Kami ambil di RSPAD soalnya salah satu angkatan MLE BI ada yang dites di RSPAD, ada yang dites di BiMC. Entah karena pertimbangan apa, kami pilih di RSPAD. Tentunya sebelumnya setelah bertanya-tanya ke BiMC mengenai prosedur tes kesehatan yang biasanya dilakukan BI.
Di RSPAD sendiri kami memilih MCU paket standar: kolesterol, gula,  fungsi hati, urin, EKG, X-Ray paru-paru, mata, gigi, dan pemeriksaan umum. Untung tes duluan, soalnya aku ketahuan kolesterol tinggi  (banget). Langsung deh dalam 12 hari aku diet ketat. Kami juga nanya-nanya ke dokter yang memberikan hasil, dan dokternya baik banget. Walaupun BI udah ga bermitra sama RSPAD lagi, sang dokter memberitahu kami parameter tes kesehatan BI tahun-tahun sebelumnya.
Tes kesehatan yang asli ga jauh beda dari yang kita lakukan di RSPAD, cuma ada tambahan tes HIV. Jadi total ada 3 tube darah berukuran besar yang diambil, buat HIV, kolesterol, sama gula. Pemeriksaan umumnya juga biasa aja, cuma ditanya-tanya doang padahal kalau di RSPAD sampai diperiksa badannya. Tes kesehatannya dilakukan di BiMC (dan kami mulai menyesali kenapa ga di BiMC aja MCU sendirinya) secara berkelompok, 1 kelompok 8-10 orang dengan gender yang sama. Ada sekitar 1000 orang dari seluruh Indonesia yang berhak mengikuti tes kesehatan.
Nah pas di sela-sela menunggu dokter, orang DSDM juga datang muter-muter mengawasi dan malah sharing mengenai nanti kalau wawancara apa saja yang harus dilakukan. Baik banget deh, hehe.. Pengumuman lolos atau tidaknya dari tes kesehatan muncul 1 bulan kemudian beserta dengan pemberitahuan mengenai wawancara yang jadwalnya diberitahukan kemudian.
7. Wawancara
Tahap terakhir, phew! Tapi karena dari pengumuman tes kesehatan kami cuma dapat pemberitahuan “Jadwal diberitahukan kemudian”, banyak banget yang harap-harap cemas karena ga dipanggil-panggil. Kami yang di dalam BI pun juga ga dapat informasi apa-apa mengenai jadwal ini karena semuanya tergantung availability pewawancara. Ada 3 pewawancara: 2 user yaitu direktur eksekutif (G8) dan direktur (G7), plus 1 DSDM (G6) dalam 1 batch wawancara yang terdiri atas 4-5 interviewee. Total ada lebih dari 500 orang yang lolos ke tahap wawancara ini, dengan komposisi kurang lebih 350 orang dari Jakarta.
Karena keterbatasan pewawancara, pewawancara dari kantor pusat juga “diterbangkan” ke daerah untuk wawancara luar Jakarta. Total proses wawancara ini dimulai dari akhir Juni sampai awal Agustus, dengan wawancara di kantor pusat Jakarta yang paling lama. Aku sendiri dapat di akhir Juli, setelah harap-harap cemas dua bulan menunggu jadwal wawancara.
Awalnya semua batch yang wawancara di hari yang sama dikumpulkan di satu ruangan oleh orang DSDM. Nah beliau ini cuma sharing-sharing doang, dan beruntunglah yang datang lebih pagi dari jadwal karena dia sharingnya justru sambil nunggu jadwalnya jalan. Beliau ngasih info soal yang biasa ditanya seperti apa, jangan lupa bersikap sopan, ucapkan salam, jaga kontak mata, merapihkan diri, jangan langsung duduk kalau belum dipersilahkan. Hal-hal sepele tapi percayalah, aku juga suka dinasehatin sama teman-teman kantor yang suka jadi pewawancara bahwa hal-hal remeh temeh seperti itu sangat mempengaruhi. Pewawancara dapat dengan segera menangkap detail yang interviewee lakukan dan micro expression dari si pewawancara bisa sampai ke mata interviewee, akibatnya kepercayaan diri bisa menurun. Bahkan bisa jadi bahan bandingan sama interviewee lain kalau kita sama-sama kuat.
Aku sendiri diwawancara giliran pertama oleh Direktur eksekutif DPU (Direktorat Peredaran Uang), Direktur DPSI (Pengelolaan Sistem Informasi) sebagai user dan interviewer dari DAI (audit intern). Pertanyaan dari user lebih ke hal-hal yang lebih teknis, jadi aku lebih banyak ditanya soal sistem informasi.
Sedangkan interviewer dari DAI berperan sebagai “perpanjangan tangan DSDM” sehingga yang ditanya lebih ke urusan personality. Beliau tidak akan bertanya, “apakah kamu follower/pemimpin” atau “apakah kamu jujur” tapi dia akan menggunakan pertanyaan yang dimulai dari “Misalnya nih….” dan berlanjut pada sebuah kasus yang menuntut kamu untuk bersikap. Untuk nanya apakah aku bersedia ditempatkan di mana saja, awalnya ditanya dulu anak ke berapa, sudah punya pacar belum, ada rencana menikah, dan sebagainya.
Waktu wawancara aku sama sekali ga grogi, saking udah pasrah banget kali ya, jadi malah suasananya terlalu rileks dan pewawancaranya bisa diajak bercanda. Downsidenya sih aku jadi kelupaan kalau itu lagi wawancara jadi bukannya jualan diri malah ngobrol aja panjang lebar. Lama setelah wawancara aku dikasih kabar bahwa pewawancaraku menyatakan aku bagus wawancara, padahal yaaaa yang aku omongin sebenarnya ada salah-salahnya juga. Mungkin karena terdengar meyakinkan, huaauhahahahah…
Walaupun banyak yang bilang wawancara itu subyektif banget, tapi persamaannya adalah yang penting kita pede dan rileks. Itu aja sih tipsnya.. kalau rileks kita mampu berpikir jernih jadi walaupun ga bisa jawab pertanyaan pun cara menyampaikannya ga ngaco. Misal, masih maksa jawab padahal jelas-jelas salah. Kalau emang ga tau, ga ngerti, kan bisa nanya “Apakah bisa dijelaskan sedikit mengenai hal tersebut?” tapi pertanyaan kayak gitu boro-boro keluar kalau lagi panik, bisa-bisa yang keluar malah omong kosong belaka.
Yah begitulah journeyku dalam menjalani seleksi BI dari Januari sampai tepat akhir Agustus, di mana namaku diumumkan bersama dengan 149 orang lainnya sebagai calon pegawai BI PCPM XXX (hoho nomor angkatannya antara mesum sama keren nih). Pendidikan dimulai 1 Oktober dan aku masih merasa berat meninggalkan proyekku sekarang di BI. XBRL, teman tim, teman satu lantai – huhuhuhu beraaat, ditambah lagi gaji saat pendidikan turun dengan yang aku dapat sekarang. Anyway, di manapun aku berada dan bekerja harus punya visi bekerja sebaik-baiknya untuk negara dan keluarga. Semoga masa depan yang cerah menanti, yeeeaayy
Tagged , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 53 other followers