LOCKED

Jumat 15 Agustus 2008, H-2 OHU dimana semua keluargaku harus pergi ke Jakarta dan meninggalkanku sendiri di Bandung bersama si corolla. Tadinya aku pengen ikut pergi, tapi karena beban moral INKM di mana cuma ada 1 bendahara yaitu aku dan masih harus ngurus surat-surat penyewaan logistik secepatnya supaya dana turun cepat, aku pending untuk pergi keesokan harinya dan akhirnya malam itu aku memutuskan untuk tidak pergi.

Kalau ditilik, satu paragraf di atas cuma terdiri dari 2 kalimat, benar-benar majemuk bertingkat yang membuat mata capek. iya kan?? haha

Nah, si Ibu dari magrib nelepon, ngewanti-wanti. Aku ga boleh pulang ke rumah. Loh? Iya jadi beliau pengennya aku nginep di rumah temen atau bawa temen ke rumah, pokoknya ga boleh sendiri! Akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumah Nene.

Jam 10 malam, kami semua yang di sekre dan masih terjaga kelaparan. Akhirnya aku, Nene, Ivan, Gilang, sama Batok meluncur untuk mencari tempat makan (Gilang sih cuma mau nganterin batok aja, karena batok ikut mobilnya Gilang, sisanya sama aku). Tempat pertama itu ayam goreng RCTI di jalan lombok depan Steak n shake, tapi pas sampe sana tutup. Akhrinya ke nasi kalong depang renaritti.

Setelah semuanya turun, seperti biasa aku menutup kunci pake central lock dari dalam mobil. Klek!

Kok ada yang aneh ya..

Kok cuma ada dompet dan hp ya di tanganku.

“Oh My God! Kuncinya di dalem!!!”

“APAAA??!!!”

Aku langsung nelepon papa sementara Batok mencoba mencongkel lubang kunci pakai peniti. kebetulan Nene punya peniti super besar.

5 menit berlalu dan yang aku dapat adalah Ibu marah-marah sama papa ceramah kalo Corolla itu kuncinya memang bandel dan ga bisa dicongkel. Setelah aku menutup telepon, aku beralih pada teman-temanku dan meminta maaf sebesar buah kelapa (loh?). Mana ga enak banget sama Ivan pula, karena dia baru saja menerima telepon untuk ngebikin surat undangan untuk datang OHU buat IA ITB yang sangat mendadak dan ga mungkin dikirim lagi (besoknya kan sabtu). Terus aku ke kios di depan untuk minta bantuan, 2 orang supir taksi datang membantu dengan membawa kawat kaku berdiamater 5 mm. Mereka berjibaku membuka, mencari celah untuk memasukkan kawat itu. Tok ketok ketok, bak buk bak…

Setengah jam berlalu dan ga ada hasil. Batok udah menyerah mencongkel karena justru sekarang penitinya yang nyangkut di dalam lubang kunci! Akhirnya dia nyaranin supaya aku, dia, dan Gilang nyari tukang kunci di Cihapit sementara Ivan dan Nene dengan terpaksa menunggu si corolla.

Selama nyari tukang kunci, Nisa menelepon. Nanya kabar gimana mobilnya. NO wonder she knew, soalnya pas aku nelepon papa pasti semuanya lagi di rumah NIsa di jakarta. Terus NIsa ngasitau katanya kebetulan Doddy di Braga dan sedang meluncur ke tempat kejadian perkara. Udah gitu Rino, saudaraku yang lain tapi yang ini mah beda kakek, juga menelepon. Tapi dia ga bisa bantu karena ga bisa kemana-mana, motornya baru hilang. Walah jadi ga enak ama semua, jangan-jangan Nisa neleponin semua orang yang dia kenal, dan aku sedang bikin panik semuanya…

Pencarian tukang kunci sampai jam 12 malam di daerah malabar tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya kami kembali ke TKP dan mendapati Doddy sedang mencongkel pintu kiri depan. Pintu kanan depan kondisinya sudah mengenaskan dan nampaknya sudah tak bisa diselamatkan.

Lalu datanglah seorang laki-laki umur 30an berpenampilan seperti ingin dugem dengan kalung besar menjuntai di lehernya.

“Kenapa mbak?”

“Ini kuncinya di dalam.”

“Oh…”

Terus dia nunggu di situ sambil ngeliatin Doddy masih berusaha ngubek-ngubek pintu. Selang beberapa menit dia pergi untuk minta duit parkir ke mobil-mobil yang pergi, terus ke warung seberang jalan, terus ke tempat mobilku, terus balik lagi, ampe tiga kali sampai akhirnya aku nanya doddy apa perlu minta bantuan dia. Doddy bilang ya coba lah. Akhirnya si oknum tersebut datang kembali sambil membawa kawat yang tadi dipake sama supir taksi.

Trok ketrok ketrok.

Setengah jam berlalu. Jam 1 pagi dan masih belum ada hasil. Temannya si oknum tersebut datang. Badannya gemuk dan lebih besar dilengkapi otot-otot kayak di iklan M150 susu.

“Kenapa nih?”

“Kunci ketinggalan di dalam,” kata si oknum yang masih nyongkel-nyongkel.

10 menit kemudian, Doddy nyongkel bagian kanan, sementara dua orang preman itu di sebelah kiri.

Trok ketrok ketrok.

10 menit kemudian lagi, preman yang pertama pamit pulang dengan motornya karena dipanggil entah apa. Tinggal si preman badan besar yang masih berusaha nyongkel. Aku dengan setianya nungguin Doddy sementara teman-temanku yang lain sudah dibuai mimpi di dalam jazz Gilang. Karena ngantuk, aku tidur sambil duduk. Setengah jam kemudian, jam 2, aku bangun dan mendapati pintu sebelah kiri bagian interiornya sudah hancur lebur dan si preman itu masih berusaha naikin kunci dari lubang di pegangan pintu. Masalahnya yang dinaikin bukan kuncinya tapi housingnya– dan itu yang rusak parah. Sudah mencuat kemana-mana.

“Ya udah deh pak, ni lagi mo diambilin duplikatnya. Makasih yaa”

Untung banget dia manut-manut aja dan pergi. Terus aku samperin Doddy.

“Dod, malah rusak parah tuh..”

“Lah, yang temennya tadi aja bau naga. Masih sadar ato ga tuh pas nyongkel-nyongkel?!? hahaha…”

Sialan ni doddy ga bilang-bilang. Mana aku tau bau alkohol macam apa. Pantesan dari tadi nyium bau-bau aneh gitu.

Yah, akhirnya ga lama setelah itu Doddy menyerah dan kami berdua ngobrol di pinggir jalan sampai akhirnya Mum, Pap, plus dua ade2ku datang. Aku segera ikut ke rumah sama ibu, adit, dan ino sementara papa tetep di tempat parkir.

Setengah empat pagi, aku sama adit datang lagi dengan membawa kunci duplikatnya. Harap-harap cemas dan ternyataaaa…

Malah kuncinya yang retak.

Hopeless.

Akhirnya Nene dan Ivan aku antar ke kampus, Gilang dan batok pulang, Doddy juga pulang. Terus aku sama papa sama Adit nyari temen premannya papa yang katanya sudah insaf tapi masih ahli bongkar-bongkar kunci di daerah terusan pasteur.

Jam 5. Om Abig dan temannya kembali mencongkel-congkel. Aku papa sama adit tidur nyenyak di dalam mobil. Hehehe…

Jam 6, aku bangun. Yah gak Subuh. Dan belum berhasil. Katanya Om Abig, karena dicongkel-congkel tadi, sekarang dibuka dengan cara yang “benar” jadi ga bisa… Oh My God. Padahal jam 7 aku udah janjian sama orang provider tenda buat OHU untuk ngambil surat-surat. Kalo lebih telat lagi, wah gawat bisa-bisa duit ga turun dari rektorat sementara Ohu itu besoknya.

Gak habis pikir deh kenapa Allah ngasih ujian begitu di H-1 OHU di mana urusan uang begitu genting. Dan hebatnya kok ga kebuka-buka yah?? Padahal aku udah selalu nyebut nama Allah setiap saat siapapun itu sedang mencongkel kuncinya.

Akhirnya jam 7 pagi aku nazar, kalo  kebuka sebelum jam 8, aku nazar sehari. Udah gitu aku pamit ama Papa pengen pulang untuk mandi dulu dan makan berhubung maag ku sudah tak tertahankan. Akhirnya aku sama Adit pulang ke rumah sementara om abig dan temannya masih berusaha congkel sana congkel sini.

Baru 500 meter jalan, Papa nelepon. “Balik gih, ”

dan TARAAAAA!!! Alhamdulillah udah kebuka! Legaaaaaa banget. Tapi tetep aja, aku penasaran kenapa Allah masih keukeuh memberikan aku cobaan di saat hidupku juga sudah berat dengan beban keuangan INKM di pundakku.

Kenapa ya??

Kena hukum Papa deh bersih-bersih rumah😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: