Akhir dari Ramadhan 1429 H

Ramadhan kemarin berjalan seperti biasa. Nothing special, kalaupun ada yang spesial itu adalah kami sekeluarga masih bisa menjalani ramadhan bersama. Keluarga dari ibu sudah datang dari H-2, semua berkumpul bersama.

H-1, kami semua berkumpul di kamar utama, bercanda. Atau lebih tepatnya ngejailin papa sebagai objek penderita di rumah, hehe.

“Wah Papa ga level nih,” kata Adit tiba-tiba. Dari cermin kamar aku melihat Adit memasuki kamar sambil membawa bingkisan. Aku langsung mengambilnya, hmmm… kue pastry kesukaanku (apapun itu, pokoknya pastry, hehe) dibalut dengan mukena warna pink. Kartu di atasnya tertuju untuk Ibu (hmm.. pantes Adit bilang Papa ga level, hehe). “Buat ibu nih,” kataku.

“Siapa, siapa?” aku juga ingin tahu. Langsung kubuka kartu pengirimnya.

“Ir…” aku tercekat, tak perlu kulanjutkan. Ibu yang ikut melihat kartu itu juga langsung terdiam. Aku melihat Papa dan jelas saja dia terbengong-bengong. Rino merebut kartu itu dan dengan begonya dia bilang, “Irina tuh siapa?”

Papa langsung paham. “Ih, apaan sih maksudnya?  Buang aja buang,” Ibu ngomel-ngomel. Yang terbayang di benakku saat itu adalah “yah gagal makan pastrynya, padahal keliatannya enak…”

“Mana aku tau ya, emang mau minta maaf kali.” Aku saja tidak percaya itu, apalagi Ibu ?? mengingat pengalaman sebelumnya, pasti Ibu mikir di bingkisan itu sudah diselipin jampi-jampi. Jadi langsung saja bingkisan itu dia bawa keluar, sempat ditunjukkan kepada kakak-kakak ibu dan saat aku menghampirinya di belakang, dia sedang melangkahi bingkisan itu 7 kali sambil dihentak-hentak.

“mampus lo mampus, “ katanya. Aku terkikik, “Yah mana ngefek kalo begitu mah, “

“Eh, ini tuh Papa yang ngajarin, “ no comment dah.

Aku ga tau nasib pastry itu kemana, mungkin bude-bude ada yang mau mengangkatnya sebagai anak – eh – makanan biasa. Begitu pula dengan nasib si mukena, tapi dia sudah pasti diangkat salah satu budeku.

“Loh, ntar bude kena lagi…”

“Ah kalo Bude mah nggak. Kan itu buat keluarga dalam aja,” jawabnya. Walah…

Aku teringat dengan kejadian pembakaran buku Harry Potter and the Goblet of Fire british version, hard cover yang baru kumiliki 5 bulan, pemberian orang yang sama. Saat ibuku tahu, langsung dia bakar di halaman depan, kayak bakar sate sambil dikipas-kipas. Sedih, but Mum promised me to buy the complete British version of Harry Potter – jadi yah aku relakan…

Haha, alih-alih sedih dan terbayang-bayang, buat kami kejadian seperti itu sudah menjadi hal yang lucu. Alhamdulillah deh, semoga aja selalu seperti ini…. Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: