Gembar-Gembor Iklan BUMN dan Personal Branding Menuju RI 1

Akhir-akhir ini, TV sedang banjir iklan selamat Idul Fitri. Tanpa perhitungan statistik, sepertinya lembaga yang paling banyak beriklan Idul Fitri adalah Partai, BUMN, dan perusahaan rokok.

Partai cuma bawaan sih sebenarnya. Yang iklan-iklan itu tampilkan sebenarnya adalah bagian dari personal branding pendiri atau pembesar partainya. Sebut saja Soetrisno Bahir dengan PAN, Wiranto dengan Hanura, Prabowo dengan Gerindra, SBY dengan Demokrat, Jusuf Kalla dengan Golkar, terakhir Sutiyoso yang masih membawa brand pribadi tanpa partai, dan lain-lain yang hampir bisa dipastikan orang-orang tersebut sedang curi start kampanye pemilihan presiden atau caleg.

Hal yang lebih lucu lagi, kini banyak partai-partai baru bermunculan sebagai manifestasi dari ketidakpuasan atas partai-partai yang sudah ada. Sebut saja Laksamana Sukardi yang dulu termasuk pembesar di PDIP kini menggawangi PDP yang berlogo coretan banteng putih di atas merah. Wiranto dan Prabowo sudah dapat dipastikan telah hengkang dari Golkar. Apa mereka berpikir dengan membuat partai baru kans untuk terpilih menjadi lebih besar? Wallahu alam…

Satu lagi fenomena yang lebih menarik dari Partai adalah iklan-iklan dari BUMN ternama. Sebut saja Pertamina. Iklannya begitu menyentuh hati dengan mengekspos keinginan mereka untuk berubah (dapat dilihat dengan kemunculan iklannya di TV sejak 2 tahun lalu serta program SPBU Pasti Pas). Menurutku, kali ini Pertamina sedang ingin memunculkan rasa trust dari masyarakat Indonesia kembali atas pelayanannya. Kemunculan SPBU impor jelas tidak bisa dianggap remeh karena kualitas produk dan pelayanannya yang lebih baik. Jika Pertamina masih mempertahankan adat “curang” sementara kualitas produk tidak bisa ditingkatkan karen adanya campur tangan pemerintah, Pertamina bisa-bisa mati suri.

Pertanyaan, apakah anggaran iklan berbanding lurus dengan pengembalian tingkat kepercayaan masyarakat?

Kenyataannya, masyarakat bisa jadi tidak peduli. Iklan hanya mempertegas kenyataan yang mereka lihat di lapangan. Karena toh masyarakat masih dihadapkan pada dua pilihan saja — Pertamina dengan pelayanan apa adanya tetapi harga terjangkau atau SPBU impor dengan pelayanan dan harga luar biasa. Pertamina masih menjadi primadona, perubahan Pertamina ke arah yang lebih baik dirasakan cuma sebagai nilai tambah yang memang sudah seharusnya dan tidak serta merta menunjukkan kepercayaan yang meningkat. Jadi menurutku, agak buang-buang duit bagi Pertamina untuk beriklan dengan frekuensi tinggi di TV kalau kejarannya cuma trust dari masyarakat. 

Yah semoga saja memang benar-benar ingin berubah ke arah yang lebih baik, tapi jangan nyusahin rakyat yaaa…

BUMN kedua, Telkom. Kalau soal iklan yang satu ini, wah aku ga bisa komen apa-apa. Iklannya begitu sarat moral (lihat iklan tentang internet masuk desa, Idul Fitri, serta Telkom Prioritynya) — suatu hal yang cukup sering kita lihat pada iklan rokok. Entah kenapa, melihat iklan-iklan Telkom, rasa-rasanya kepercayaan terhadap Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi Indonesia yang baik semakin membesar (terbalik dengan Pertamina). mungkin karena sejak awal Telkom memang perusahaan yang sehat sehingga iklan-iklan yang dia tampilkan justru bisa mempertegas keyakinan konsumennya.

Aku juga heran, kira-kira iklan-iklan Telkom menggunakan agensi mana ya? Selain iklan sarat moralnya itu, aku juga mau beri applause sama iklan PSTN nya yang bernuansa video klip musik Indonesia era 80 an. Dengan model laki-laki masih berjambul ala Elvis dan model perempuan ala Betharia Sonata, iklan ini betul-betul berani!

Dari segi kreatif sih oke, dan bisa jadi memang hit sama target yang dituju. perkiraanku, target pengguna PSTN sekarang ini mayoritas generasi tua umur 50 tahun ke atas yang sudah sulit menggunakan HP. jadi jangan heran melihat iklan PSTN Telkom yang sebelumnya, modelnya adalah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang salah dengar gara-gara sinyal operator HP yang buruk dan bukan kita-kita yang masih 20an. Telkom ingin menggaet kembali pelanggannya yang lebih percaya pada reliabilitas fixed telephone, dan jalan yang terbuka lebar adalah generasi “emas” tersebut yang memang sudah lebih lama menggunakan PSTN dibandingkan yang muda-muda.

Menggunakan ide video klip musik ala 80 an mungkin oke, tapi gara-gara visualisasinya yang tidak enak dilihat, pesannya jadi ga terlalu dapat. Untuk ukuran orang tua, gambar yang ada terlalu redup dan tulisan diskonnya sama sekali ga bisa kebaca (terlalu tipis, dan ga nyambung sama tema 80an yang dibawanya). Aku aja susah bacanya, apalagi orang tua?? Untung masih kebantu sih sama liriknya yang diberi caption.

Anyway, sedikit salut untuk BUMN yang berani beriklan. Iklan di TV untuk BUMN adalah harga yang harus dibayar mahal, bukan biaya iklannya, tapi juga sebagai indokator bahwa BUMN tersebut kini ingin terbuka pada masyarakat dan bukan hanya sekedar monopli pemerintah yang kadang tidak jelas adanya. Kini BUMN-BUMN tersebut harus hati-hati melangkah, karena jika ada sedikit saja terpeleset, masyarakat bisa hilang kepercayaan terhadap mereka.

One thought on “Gembar-Gembor Iklan BUMN dan Personal Branding Menuju RI 1

  1. ina says:

    iklan yg paling berkesan buat gue tuh iklan telkom yg kakek nya mau ngasi kejutan dateng dn bawain mainan, ngga pake nelpon dulu, eh si cucu dn keluarga malah pergi, jd si kakek ga bisa ketemu. SUMPAH itu tragis bgt. saking tragis nya, tiap ada iklan itu langsung gue ganti. hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: