Bukan salah Kartini Mengundang…

Aku sedang baca buku ASIA FUTURE SHOCK. Penulisnya Michael Backman. Yah beliau sih katanya memang pengamat Asia dan nampaknya cukup sering bertandang ke Jakarta. Dia cukup banyak menyebut- nyebut Jakarta sebagai kota dengan permasalahan logistik terparah.

Tapi bukan itu. Di salah satu bab dalam bukunya tersebut dia berpendapat bahwa angka perceraian di Asia cenderung meningkat. Apa itu penyebabnya, dia menyatakan lebih karena kemapanan. Alasannya sih biasanya klasik, orang ketiga, ekonomi, tidak tanggung jawabnya pasangan, dan terakhir yang paling lucu alasannya adalah tidak harmonis lagi (beuh, gonta ganti istri kayak gonta ganti pacar!). Tapi apapun alasannya, ketika salah satunya sudah merasa mapan untuk menghidupi keluarga kecilnya, mereka bercerai.

Logis… Buktinya, artis dikit-dikit nikah cerai. Kalau orang kecil kayak keluargaku, yaaah kalau mau cerai sih pikir-pikir dulu, biaya ekonomi anak-anak tinggi, pendidikan belum selesai. Doh mendingan tunda dulu atau ga usah jadi cerai sama sekali, iya ga sih? Demi anak, pendidikannya dan mentalnya juga.

Tapi seorang teman pernah dilanda konflik antara kedua orangtuanya yang bertengkr hebat tiba-tiba ingin bercerai. Ia bercerita seolah itu adalah kegiatan seperti “Ibu tadi pagi pergi ke pasar dan ayahmembaca koran”. “Kok kamu ga sedih?” tannyaku. Dia bilang, ah sudah biasa. Lagipula ga semua yang berasal dari keluarga broken home bakal jadi buruk. Lalu dia menyebutkan seorang contoh yang orang tuanya bercerai sejak SMP.

Dan memang sih, orang yang temanku sebut itu untungnya memang  orang yang luar biasa. Aktivis kampus, organisasi agama, dan akademis pula. Ga ada cacatnya. Sekarang aku jadi mikir mungkin dia bisa mengalihkan tekanan-tekanan negatif pada dirinya atas perceraian orang tuanya apda hal-hal yang bermanfaat. Tapi ga semuanya bisa begitu kan?

Jadi, sudahkah perceraian menajdi hal yang biasa di negeri ini?

Ketika perceraian itu membawa anak, biasanya yang kedapatan hak asuh kan Ibunya. Kalau digeneralisasikan, ya bisa dbilang makin banyak wanita yang merasa mampu menghidupi dirinya sendiri dan anak-anaknya. Kemapanan itu berbanding lurus dengan kesibukan. Dan bisa kita bayangkan ketika orang tua tunggal sibuk bekerja, anaknya diurus siapa? Tempat penitipan bayi? Sewa Baby sitter? Ga heran bahkan saudaraku yang umurnya sudah 7 tahun pun masih ga bisa ditinggal sama pengasuhnya, sementara sama Ibunya ditinggal dia adem ayem saja. Anak baby sitter…

Kalau masih kecil itu, kalau sudah besar? Rumah kosong? Anak jadi tidak diperhatikan? Wah ga heran juga kemaren-kemaren aku baca di koran, 62,5% remaja SMA dan SMP di Jawa Barat sudah tidak perawan lagi.

So? Salah siapa? Salah orang tua bercerai? Salah mekanisme di negara ini yang masih bisa meloloskan begitu banyak orang bercerai? Atau jika hiptotesis Michael Backman memang benar adanya bahwa perceraian itu meningkat kjarena faktor kemapanan, salah jika kami wanita bekerja?

Apa Kartini tidak memikirkan hal ini ya? Emansipasi yang ia teriakkan kok kini mlaah menjadi pisau bermata dua? Atau kita yang menafsirkan emansipasi si Kartini ini terlalu berlebihan?

Jadi sebenarnya harus sampai mana wanita dibatasi? Terlalu rendah malah dibodohi laki-laki. Terlalu tinggi justru laki-laki tidak mau karena ego mereka mengatakan seharsunya mereka yang superior dibandingkan wanita. Ada pula yang merasa nyaman sebagai laki-laki inferior, tapi apa sih yang mereka lakukan? Berleha-leha dan bersenang-senang seharian semenatara istrinya kerja banting tulang, ketika dia diminta bekerja dia bilang istrinya kan sudah bekerja (alias dia malas cari kerja juga).

Aku ulang lagi, jadi wanita itu boleh berkembang sampai mana?

1. Apa seharusnya tak boleh ada lagi wanita yang bekerja di negeri ini, agar mereka bisa lebih konsentrasi mengurus, menjaga, dan mendidik anak supaya ga kecolongan?

2. Apa seharusnya wanita cuma boleh jadi sekretaris, atau karyawati, yang  jelas-jelas bawahan agar suami-suaminya tidak merasa tersaingi?

3. Apa seharusnya wanita tidak bisa apa-apa, tidak bisa nyetir, tidak bisa bisa betulin alat elektronik, dan lalalala lainnya jadi kalau ada apa-apa biar laki-laki saja yang mengurus?

Tapi yakin deh, untuk pertanyaan ketiga, pasti ada beberapa laki-laki yang bilang kalau perempuan ga bisa apa-apa, bisanya nangis doang, uh manja (ga bisa nyetir jadi tiap hari harus antar jemput).

Untuk pertanyaan kedua, istri karyawati, suami karyawan, bahkan ketika penghasilannya digabung pun masih belum cukup. Padahal hei sang istri punya potensi leadership yang sangat menonjol sementara suaminya tipe duduk di belakang meja.

Untuk pertanyaan pertama, hei dengan atau tanpa diawasin dan dididik orang tua pun, nyata-nyatanya banyak juga tuh yang kecolongan. Wong lingkungannya mendukung.

So?

Duh wanita, perempuan serba salah…

One thought on “Bukan salah Kartini Mengundang…

  1. bintang says:

    yang penting, rumah tangga jangan sampai ketinggal.. terutama anak, tetep prioritas bo,,hehe

    ~bagi yang keluarganya damai, bersyukurlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: