Pisang Hijau Ala Cilacap

Uwaaah, aku baru menghabiskan 4 hari di kota kelahiran Papa, Cilacap. *Jangan bilang ada yang ga tau Cilacap di mana, padahal itu termasuk kota yang wajib nongol di peta karena merupakan daerah penghasil semen, minyak bumi, dan dulu pasir besi, plus jadi ramai gara-gara eksekusi Amrozi CS di Nusa Kambangan.

Walaupun itu kota ga ada yang menarik selain pantai pasir hitam dan makan seafood murah😛, aku pengen ceritain tentang salah satu makanan yang dari kemaren aku pengen.

ES PISANG HIJAU!!!

Konon itu makanan khas Sulawesi. Pisang dibalut dadar berwarna hijau, dikasih kuah santan, kacang tanah, es dan susu… Wow.. Kalau lagi panas uuuuh ueeenaak tenan. Seumur-umur aku baru ngerasain pisang hijau 3 kali. Di Cipaganti, depan Advent yang sekarang udah ga ada (padahal itu enak banget… huhu), di stand unit minahasa pas OHU 2008 (open house ITB) — dan yang itu lebih enak lagi!!!! Oishi!!!, sama es pisang ijo aladin yang udah menjamur di sudut bandung (ga enak, karena alih-alih santan dia pake vla yang cuma dikasih sejumput, plus pisangnya kecil-kecil pula).

Nah, entah kenapa, suatu hari pas aku lagi jalan ke pantai pake mobil, di pertigaan aku ngeliat ada tukang es pisang hijau di Cilacap. Wah, ternyata merambah kota macam Cilacap juga! Karena penasaran, masih ngidam karena belum ketemu es pisang hijau yang enak lagi di Bandung, dan kepanasan (duh kebayang ga sih panas-panas makan es pisang hijau, uaadeeem ), besoknya aku nyari tu tukang pisang hijau.

Tapi berhubung aku ga apal jalan, tu pisang hijau kagak ketemu-ketemu juga. Hehehee.. aku cuma inget itu ada di pertigaan dan ternyata banyak sekali pertigaan di Cilacap, padahal aku sudah mengikuti rute yang sama waktu ke pantai kemarinnya. Saat sudah putus asa ingin kembali ke rumah, eh tiba-tiba ketemu tu tukang es pisang hijau. Tapi gerobaknya beda dan itu adanya di perempatan.

Yah whatever, kan kami berempat (aku, dua adikku, dan ibuku), karena udah sarapan rada berat, kami mesen dua mangkuk aja. Nah ada yang unik nih sama es pisang hijaunya.

1. Pakai potongan roti dan pacar kayak sekoteng… Uahh aneh-aneh aja ya. Tapi gapapa, masih bisa ditolerir..

2. Pakai alpukat. Aku mulai merasa kayaknya itu bukan es pisang hijau tapi es campur…

3. Pakai gula cair yang diberi pewarna merah. Agak menyeramkan, takutnya pakai pewarna tekstil.

4. Yang paling aneh, alih-alih santan, yang dipakai adalah bubur sumsum. Tau kan, bubur warna putih yang dibuat dari tepung (er ga tau tepung apa, yang jelas bukan nasi) — khas Jawa banget, rasanya agak sedikit asin dan paling enak dimakan pake gula merah.

Yah, tapi dengan kombinasi yang agak ajaib itu, es pisang hijaunya enaaaaak🙂 pakai bubur sumsum dan bukan santan menurutku such a fine idea, itu yang malah menambah rasa unik tersendiri dibandingkan es pisang hijau yang pernah kucoba sebelum-sebelumya. Walaupun pisang yang dikasih cuma 6-8 potong per mangkok dan ukurannya ga terlalu besar, plus cuma makan setengah mangkok, asli itu ngenyangin banget!

And now here comes the time for you to guess the price.

3000 rupiahs only for a bowl of heavenly taste in the middle of the day! Wah, wah.. murah!!! Soalnya bubur sumsum itu pastinya lebih mahal daripada santan karena mesti melewati proses pemasakan lagi (kalau santan kan tinggal cuuuur). Bandingin sama es pisang hijau aladin yang harganya Rp. 3500, cipaganti yang sudah menghilang Rp.4000 2 tahun yang lalu, es pisang hijau OHU Rp.7000.

Tsk tsk… sayangnya karena udah keburu amazed sama isi plus kepanasan, tu es pisang hijau langsung kusantap tanpa mendokumentasikannya terlebih dahulu. Hehehe…

Nah yang unik di sini adalah, makanan khas daerah sulawesi itu ternyata teradjust dengan baik sama lidah orang Cilacap sampai akhirnya tercipta kombinasi yang unik (speaking like a experienced chef, hehe), atau malah yang jual itu emang ga tau resep asli es pisang hijau sampai-sampai dia ngegabungin pisang hijau dengan sekoteng. Haha, wallahualam…

2 thoughts on “Pisang Hijau Ala Cilacap

  1. ashr says:

    ras, pesen saya mah satu..

    oleh-oleh!!
    hehe…

    saya yang liburan tetap di bandung dengan rute rumah-hme-rumah😦

  2. bintang says:

    @ ashr : kalo saya, rutenya rumah-CC-HME

    saya baru makan pisang ijo dua kali : di unjat waktu ngabring brg ke sana, ama di pujasera DU 21 (dipatiukur) tp sayang skarang dah gada menu itu lagi,, heu, kamu ngingetin saya lagi deh,,haha

    btw sama kaya ashr deh : ada oleh2?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: