Why Busway is Always on My Way?

Ia menyebutkan, pada 2008 sebanyak 194.000 penumpang transjakarta telah berkontribusi dalam pengurangan 120 ton polutan di Jakarta setiap hari dan pengguna busway ikut menyumbang penghematan BBM sebanyak 14 juta liter dan pengurangan 62.000 ton setiap hari.” http://megapolitan.kompas.com – Senin, 8 Juni 2009 | 10:26 WIB

Semua orang di Jakarta pasti punya kisah dengan TransJakarta Busway. Termasuk aku yang kaum pendatang untuk KP selama 2 bulan ini.

Pertama kali naik busway itu waktu dulu bela-belain ke Mangga Dua langsung dari stasiun KA Bandung sendirian. No Problem at all. Soalnya ada guidance dari ci Ira.

Kedua kalinya naik busway itu waktu harus datang wawancara ke Indosat. Pas pulangnya berdua bareng tury naik busway ke pool travel jalan Blora. Dari Indosat KPPTI jam 1 dan kami naik dari halte Bank Indonesia sesuai arahan Bude. Nah yang aku inget, kata Bude turun di Dukuh Atas.

Tapi pas nanya sama yang jaga di pintu bus, bilangnya turun di Tosari aja. Turunlah kami di Tosari. Terus nanya lagi sama yang jaga di sana. “Mas kalau mau ke Jalan Blora lewat mana ya?”

“Uh eh oh…” si Masnya nyengir-nyengir. “Waduh saya juga ga terlalu ngerti daerah sini.”

Buset, orang Jakarta apa bukan? Apalagi dia kerja di daerah situ masa ga tau jalan? “Gini aja deh, kalau halte Latuharhary?” mendadak tu nama halte melintas di kepala karena travelnya sempet lewat halte itu sebelum nyampe di pool.

“Wah itu sih mesti ke Dukuh Atas. Trus nanti pindah shelter di ruas sebaliknya.”

Yah whatever. Aku ma Tury akhirnya lanjut ke Dukuh Atas. Gak lama aku ngeliat stasiun Setiabudi. Seingatku, tadi kami naik taksi dari jalan Blora tuh di sisi belakang stasiun itu. Well, oke berarti ga jauh lagi. Turunlah kami di Dukuh Atas, pindah shelter dan yang dimaksud dengan pindah shelter adalah naik tangga penyebrangan yang sangaaaat panjang ke ruas jalan tegak lurus jalan di shelter pertama (Entah itu namanya mungkin jalan setiabudi). Terus naik busway lagi deh, tanpa tahu itu mau kemana. Pokoknya Latuharhary!

Pas udah naik dan halte Latuharhary keliatan, aku jadi ragu. Kayaknya masih jauh deh. Mungkin turunnya satu shelter lagi. Si Tury memandangku penuh Tanya (huaha). Terus aku Tanya deh tu sama mas-mas yang jaga pintu bus, “Mas kalau ke jalan Blora turun di mana ya?”

“Yah mestinya barusan Mbak turun di Latuharhary. Bla bla bla…” and so on yang intinya dia mengarahkan untuk turun di Dukuh Atas lagi.

Tiba-tiba ada Bapak-bapak yang ngasitau, turun di Dukuh Atas udah gitu nyebrang kemanaaa gitu “Pokoknya ada jembatan penyebrangan, nah nyebrang di sana.”, ntar langsung nyampe Blora. Oh, oke.. Akhirnya aku sama Tury turun (lagi) di Dukuh Atas. Setelah jalan kesana kemari nyari yang namanya jembatan penyebrangan, akhirnya ketemu juga yang dimaksud dengan jembatan penyebrangan itu adalah JALAN SETIABUDI yang melintas di atas jalan something, ada terowongannya. Naik ke jalan itu pake jalan setapak, agak manjat, kecuali kalau mau pake cara yang lebih moderat tapi agak muter dan jauh yang ditempuh Tury. Aku sih enteng-enteng aja lewat jalan setapak itu.

Setelah jalan di atas jalan Setiabudi itu, feeling membawaku untuk masuk ke Stasiun Setiabudi dan moga-moga keluar di pintu belakangnya yang langsung menghdadap jalan Blora. Alhamdulillah betul… dan pas banget waktunya nyampe di pool jam 2, sesuai dengan jam yang dibooking sebelumnya. Cuma ya, no time to take a break…

Setelah diliat di peta, aku sakit hati. Gimana gak? Kami harus muter-muter satu jam untuk mencapai tempat yang sebernya “Cuma tinggal jalan lo”.

Oke, kalau kasus di atas kayaknya biasa karena itu memang biasa kalau salah turun halte. Nah aku punya cerita lain lagi. Karena rumah di Blok M, aku mesti naik busway dari Terminal Blok M setelah sebelumnya naik Metromini jurusan 72. Metromini sih ga masalah. Buswaynya ini yang masalah. I can’t find the shelter’s entrance.

Di terminal blok M, tiap bus punya jalur masing-masing. Antar jalur dibatasin sama pagar. Nah aku pas turun dari metromini di luar terminal dengan pedenya ke jalur busway. Loh, kalo bukan kesitu kemana lagi, ya kan? Tapi sampai shelternya ketemu, aku ga nemuin pintu masuknya dimana. Terus aku keluar jalur dan berusaha nyari pintunya dengan nanya-nanya orang. Bilangnya pada, “Udah ke bawah aja nanti ada pintu masuk.”

Oke, bawahnya sampai bawah mana? Tapi akhirnya ketemu juga tangga ke bawah kayak pintu masuk subway di luar negeri sono bertuliskan, “Pintu masuk busway” – atau sejenis itulah yang tertulis. Turun… sepi banget. Di border ada pertigaan, satu naik lagi ke atas, satu lagi belok kiri tapi pas ditengok, loh kok kayak hall way buat orang jualan ya? Karena masih pagi, los-losnya pada ditutup terpal. Terus aku jadi serem sendiri, masa iya pintu masuk busway ada di situ? Lagian sepi amaaat… akhirnya aku keluar lagi ke atas. Di kiri tampak shelter busway. Tapi lagi-lagi ga ada pintu masuknya.

Ya udah kupanjat.

Orang-orang transJakarta yang ada di jalur sebelah, yaitu jalur yang sekarang digunakan busway untuk transit, pada manggil-manggil. Oala, ternyata shelter yang barusan kupanjati itu lagi tidak beroperasi karena jalur di situ lagi diperbaiki. Makanya dipindah ke jalur 2 tempat orang-orang itu teriak. Aku disuruh turun dan pindah jalur.

“Jadi ini saya panjat aja ya,” kataku sambil mulai mengambil ancang-ancang memanjat pagar pembatas jalur busway dan jalur 2. Si bapak-bapak transjakarta yang ada di seberang pagar panic, “Waduh jangan Mbak, turun aja ke bawah. Nanti naik lagi kesini, jangan dipanjat nanti jatuh.”

Oke, aku turun. Turun ke jalan kan? Dan lagi-lagi aku kembali ke jalan yang sama TANPA pintu masuk shelter. Hopeless karena udah ampe 20 menitan aku muter-muter ga jelas di situ, aku panjatin lagi pagar yang agak rendah yang langsung terhubung ke shelter, di mana tampak orang-orang sedang berjalan mengejar busway. Kalau panjat itu pasti bisa naik busway!!!

HOP! Taradaaaa… orang-orang pada melototin. Aku udah ga berani liat orang-orang transjakarta yang ada di jalur itu. Aku ga berbuat kesalahan kan? Sambil jalan aku siapin uang buat beli tiket. Loh, tapi kok di ticket boxnya ga ada orang? Orang-orang juga pada masuk tanpa beli tiket.

Oalaaaa… pantesan pada melototin. Kayaknya beli tiketnya di bawah. Ya udah aku tanpa rasa bersalah ikut menunggu busway. Daripada telat nyari-nyari ticket boxnya? Siapa suruh juga naruh pintu masuk kok susah amat ketemunya. Jangan salahkan aku yang naik gratis ya… hehe.. (but it was paid with my 15 minutes lateness).

Ga Cuma sampe situ, pulangnya aku naik busway dari halte Jembatan Gantung. Pertama naik jembatan penyebrangannya, I was shocked by a passing motorcycle on my way!! Hello, itu jembatan dipake buat Yozzi lewat juga ga muat, ini dipake buat jalan motor juga?? Dua arah pula. Orang-orang terpaksa nyingkir ampe ngempesin perut sekempes-kempesnya pas motor-motor itu lewat. Ga sampe sana doang, ada motor PARKIR di bordesnya. Buseeet….

Emg ruwet banget dah Jakarta!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Why Busway is Always on My Way?

  1. ladysherry says:

    main panjat2 aje.. di bandung ga da yang bisa di panjat sih ya ras?
    hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: