Mencari Tuhan, dari sisi Doa

Aku punya banyak pertanyaan. Beberapa terjawab. Beberapa disimpan. Beberapa ditanyakan dan alhamdulillah terjawab.

Salah satunya, pertanyaanku tentang Tuhan. Dan makasih untuk Pakde Kunta yang membuatku membantu menjawab kenapa harus punya Tuhan?

Tanpa bermaksud mendiskreditkan, aku baru tahu dari Chandra kalau Budha bukanlah Tuhan. Tidak ada Tuhan. Inti dari ajaran Budha adalah selalu berbuat baik, karena apapun yang mereka lakukan akan dibalas di kehidupan setelahnya. Kalau seseorang berbuat sangat buruk di kehidupan ini, kemungkinan di kehidupan selanjutnya dia akan “turun pangkat”, bisa jadi turun pangkat jadi binatang. Tapi kalau amal-amalnya sudah mentok terlalu bagus, dia bisa menjadi Budha.

Oh begitu.

Dan seperti yang dikatakan seorang teman yang beragama Budha kepada seorang teman, yang kemudian disampaikan padaku, pemeluk agama Budha tidak mengenal konsep berdoa (mungkin berbeda pada pemeluk lain, mungkin?).

Buatku, seorang pemeluk Islam yang punya, bahkan diwajibkan berkomunikasi dengan Tuhannya minimal 5 kali sehari, tidak berdoa kepada Tuhan merupakan sesuatu kekecewaan, kehilangan, kebingungan. Aku ga bisa bayangin, kalau aku ketakutan, siapa yang bisa aku mohon? *ini karena aku sekarang masih berdoa karena rasa takut*

Hmm tapi orang lain akan bilang, selain Tuhan, bisa saja kan minta doa atau perlindungan pada leluhur yang diwujudkan dalam kuburan atau altar, pada dewa-dewi yang umumnya diwujudkan dalam patung, pada objek alam, atau mungkin pada manusia lain yang dirasa ada hubungannya. Kalau diperhatiin, apapun yang disembah atau diminta mohonnya, dalam hati si pendoa pasti ada kepercayaan bahwa yang diminta mohonnya punya kekuatan untuk merubah keadaan.

Kekuatan gaibkah?

Mari kita tilik suatu kalimat doa yang biasanya diucapkan di syair-syair cinta.

“Bintang tolonglah aku mendekati si dia.”

Kalau dipikir-pikir, bintang punya apa supaya bisa mendekatkan kita dengan si dia? Entah bagaimana, dalam hati si pemohon dia berharap kalau Bintang mungkin punya cara, punya suatu kekuatan, keajaiban yang bisa membantunya mewujudkan doanya.

Beda dengan meminta mohon kepada manusia lain.

“Saya mohon Pak, untuk membukakan hati anak Bapak kepada saya.”

Waktu kita memohon kepada manusia lagi, dalam hati kita yang terbersit adalah si orang memiliki kekuasaan langsung untuk mewujudkannya. Ga ada kan yang meminta, “Saya mohon Pak, saya ingin bisa terbang ke galaksi andromeda.” Well, untuk saat ini no human can do that. Kalau kita memang ingin memohon seperti itu, biasanya kita minta ke hal-hal lain yang kita percaya punya kekuatan gaib kan? Karena itu seperti suat mukjizat, miracle, keajaiban, dan kalimat sejenisnya.

Nah kalau ajaran agamaku mengharuskan untuk menyembah dan meminta doa hanya kepada Tuhan, kalau meminta kepada selain Tuhan berarti aku bukan pemeluk agama yang baik, alias musyrik.

Tapi kenapa harus ada Tuhan? Yang satu. Yang tidak diciptakan dan tidak pula diperanakkan. Tak bisakah manusia dan lain-lainnya itu ada dengan sendirinya?

Ga bisa, semua itu ada yang menciptakan. Meja saja diciptakan oleh manusia. Tapi sampai sekarang belum ada yang berhasil menciptakan makhluk hidup termasuk manusia. Berarti harus ada suatu kekuatan tunggal yang menciptakan semuanya, asal muasal dari seluruhnya.

Kenapa tunggal?

Kalau banyak, nanti yang banyak itu nanya lagi, mereka diciptakan oleh siapa. Jadi intinya, memang diperlukan satu saja, yang Maha Kuasa, yang bisa menciptakan segalanya, yang mengatur segalanya.

Tapi itu semua cuma konsep kan? Bagaimana kalau memang sebenarnya konsep sang Pencipta tidak ada?

Inilah kenapa aku di awal aku cerita soal doa. Ya, ketuklah hatimu. Coba ingat-ingat pernahkah kamu tidak berdoa? Pernahkah kamu tidak mengucapkan kata-kata, ingin, wantmohon, atau wish? Tak peduli kepada siapapun, apapun kamu mengatakan kata-kata mohon, sebenarnya di dalam hatimu telah diciptakan suatu mekanisme, perasaan yang membuatmu ingin memohon, ingin meminta, saat keadaan sedang tidak ada pada pihakmu.

Saat kamu sakit, kamu ingin supaya cepat sembuh. Dan kamu memohon. “Ma, i wish i’d get well soon.”

Saat kamu kecewa, kamu ingin supaya keadaan itu tak terjadi. Lalu kamu berandai, “If just that never happened…” dan sebenarnya kamu sedang meminta.

Bahkan saat kamu sedang di atas angin, terkadang kamu merasa hampa. Selalu ada yang kurang. “Nothing’s perfect, and I wish that imperfections could be fixed.”

It seems like human is created that way, feelings, inside human’s heart, carving for their God. Whatever the God would be. As long as the imperfection exists, there’s always be will. As long as will exists, there’s always be pray. As long as pray exists, there’s always be something you’d ask to. And as long as something you’d ask to exist, there must be God. The only one. Not created nor born.

Disini aku hanya memaparkan bahwa kita butuh Tuhan, tak peduli siapapun Tuhan yang diyakini. Mungkin masih animisme, mungkin dinamisme, mungkin monotheist, mungkin politheist, but i see no reason for someone to be atheist.

Tagged ,

6 thoughts on “Mencari Tuhan, dari sisi Doa

  1. chemieingenieur says:

    Nice post, Ras. Pencarian eksistensi Tuhan dari segi akal yak. Jadi ngingetin sy tentang kisahnya Ibrahim (a.s.) yang mencari Tuhan dengan meneliti sifat-sifat ketuhanan yang ada di Matahari, Bintang, dan Bulan, dan akhirnya menyimpulkan bahwa ada Tuhan Yang Satu di atas semua ini.

    Betul sekali ras, aku jg punya keyakinan yg sama, bahwa sebenernya semua orang itu sadar maupun ngga sadar mengakui keberadaan Tuhan. Itu sudah fitrah dari sononya. Secara logika mirip dengan apa yg laras bilang, tp secara syar’i, sebenarnya kita kan sudah disumpah di alam ruh sana untuk mengakui Allah Yang Satu.

    Mantap, lah…. benkyou ni narimashita yo🙂

  2. Achmad says:

    coba diskusi sama anak2 dari negara atheis kayak swedia or norway.. Pasti lebih menarik ^^

  3. meongijo says:

    arigatou ne bahar. sama2 belajar lah😀

    iya nih kayaknya kudu diskusi dulu sama mereka2 yang atheis. kayak yang risvan bilang mungkin ada alasan yang kita belum tau.

  4. Artikel yang bagus ras. Kalau orang yang selain beragama islam baca, pasti mereka juga berfikir secara logika kalau cerita km memang masuk akal.
    Give thumbs for you, ras.. Hihi..😀

  5. Alex T says:

    Harapan itu selalu ada. Keinginan untuk mengatasi situasi yang tidak sempurna selalu ada. Bagaimanapun absurdnya, manusia pasti suatu saat secara irasional mengharapkan sesuatu yang diinginkannya menjadi kenyataan. Antropolog dan psikolog, Scott Atran, dalam bukunya In Gods We Trust, mengkonfirmasi hal ini.

    Tapi tetap saja bagi saya, seorang ateis, mengandalkan Tuhan itu sama konyolnya dengan mengandalkan bintang atau orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: