Selengket apa sih masalahnya?

Jangan pernah lari dari masalah

Nasihat klasik. Tapi ada benarnya dari sisi teori.

Aku sedang menelaah soal information stickiness yang digelontorkan oleh Eric Von Hippel pada tahun 1998, seorang professor di MIT. Tau sticky kan? Lengket-lengket gitu… kalo bahasa jepangnya, ねばねば (nebaneba), hehehe. Nah menurut Prof. Von Hippel, informasi ini juga lengket loh di kepala seseorang. Kelengketannya ditandai dengan semakin meningkatnya biaya yang dikeluarkan untuk mentransfer informasi ini.

Stickiness ini bukan sebab. Justru merupakan akibat dari faktor-faktor.

Apa coba kira-kira?

Pertama, sifat dari informasi tersebut dan kedua, ada biaya untuk mengakses informasi tersebut dari sumber. Contohnya, kamu belajar naik mobil sama temen yang udah bisa naik mobil. Informasi jenis “keahlian menyetir mobil” merupakan suatu pengetahuan yang tacit, alias tidak tampak (sebagai perbandingan, manual mengendarai mobil merupakan informasi yang eksplisit). Yang tacit-tacit ini biasanya lebih susah ditransfer dan lebih mahal biaya transfernya.

Bukan berarti temanmu ini masang tarif buat ngajarin kamu… haha… Mau gratis pun, kamu dan teman tetap harus mengeluarkan waktu duduk dalam satu mobil (ingat, waktu bisa dikonversi jadi biaya, hehehe), atau setelahnya kamu nraktir dia ngopi-ngopi di warung tegal, belum lagi ketika si teman itu dengan stressnya ngajarin kamu setengah kopling. Teorinya sih gampang, injak kopling, ganti gigi, terus lepasin pedal kopling sampai mobilnya jalan tanpa menginjak gas tapi masih nginjek kopling (nah ini informasinya eksplisit).

Atribut informasi, biaya untuk mengakses informasi dari sumber, kemampuan menyerap pemilik masalah, serta banyak informasi yang dibutuhkan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi information stickiness

Tapi toh pada akhirnya kamu sendiri yang harus menemukan “feeling” setengah koplingnya (kamu menyerap informasi itu untuk jadi pengetahuan tacitmu). Semakin bego lambat kerja sensorik-motorik kamu dan kemampuanmu dalam menyerap teori temanmu, semakin lama waktumu untuk belajar mobil bukan? Biaya transfer informasi ini semakin naik juga. Nah, kemampuanmu dalam menyerap informasi (absorbing capacity) juga termasuk faktor ketiga yang mempengaruhi information stickiness.

Nah, kamu udah coba berkali-kali injek-ganti-lepas-injek-ganti-lepas kok ga bisa-bisa juga? Malah mati melulu? Tapi setelah percobaan keseratus kali, kamu baru ngeh kalau ngelepas pedal koplingnya harus pelan-pelan. “Kenapa lo ga bilang sih kalo harus pelan-pelan?” tanyamu pada temanmu.

“Lah gue kira elo tau…”

Itulah faktor ketiga yang mempengaruhi information stickiness, berapa banyak informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (amount of information required). Ada dua hal yang mempengaruhi banyak informasi ini, biasanya informasinya begitu teknikal dan biasanya salah satu pihak ga tau informasi mana aja yang penting dikasitau. Kalau kasus ini, masalahnya adalah baik kamu maupun temanmu gak sadar kalau ternyata masih butuh satu informasi lagi yaitu kecepatan melepas pedal kopling. Kalau kamu tanya kenapa harus pelan-pelan, mungkin temanmu (dan aku) juga ga tau kenapa, harus nanya sama orang mesin yang ngerti cara kerja piston bla-bla-bla (dan kamu akan mengeluarkan biaya lagi buat nanya hal itu).

Buat apa ya Information Stickiness itu?

Nah, sekarang teori information stickiness udah ngerti. Terus bisa dipake buat apa ya?

Aku "outsource" problem memodifikasi tamiya ke adikku. Adikku lebih tahu banyak, jadi pengetahuan tamiya di kepalanya lebih lengket dibandingkan aku.

Inget jaman mobil balap mainan bernama TAMIYA et. al? (jadi generic brand, haha) Dulu aku juga kena demamnya. Mobil tamiya standar aku oprak-oprek, tambah dan modifikasi sana sini biar tambah cepet, walaupun akhirnya ga berhasil… Haha… Tapi buat orang yang ngerti banget, modifikasinya bisa membuat mobilnya melaju sekian kali lebih cepat. Jadi daripada pusing-pusing modifikasi sendiri, aku minta orang lain yaitu adikku, buat ngemodif… Hehe..

Adikku ini ceritanya punya informasi dan pengetahuan tentang tamiya. Sebenarnya aku bisa aja nanya-nanya ke adikku. Tapi ya itu, ada “biaya”-nya kan. Daripada aku keluar “biaya” buat ngeluarin informasi dan pengetahuan tamiya dari kepala adikku, mending suruh dia langsung selesaikan masalah, aku tau beres😛 Dengan begitu, biaya yang aku keluarkan untuk menyelesaikan masalah modifikasi tamiya bisa jadi nol😀

Begitu, kalau kita bisa mengidentifikasi information stickiness, pusat penyelesaian masalah lebih baik dipindahkan ke tempat dimana informasi itu paling lengket, dalam hal ini adikku.

Ini menjelaskan kenapa sekarang perusahaan begitu banyak joint development sama konsumennya, yang lebih berpengetahuan soal produk karena mereka memang memakainya. Atau alasan lahirnya template-template siap pakai, untuk MS Word misalnya (hayo kenapaaa?).

Contoh lain, ya dalam menyelesaikan masalah hidup ini, hehe… pusat masalahnya kan kamu. Yang tahu masalahnya sampai ke akar-akarnya, ya kamu. Walaupun kamu outsource (baca: curhat, berdoa) sana sini, tetap harus kamu sendiri yang menyelesaikan. Advice-advice sifatnya hanya membantu kamu to complete missing information to solve problem, tapi yang take action harus kamu sendiri. Bisa saja kamu minta orang lain menyelesaikan masalah, misal sewa tukang pukul, panggil pengacara, naik ojek (?), tapi ya kan ada biayanya. Dan belum tentu mereka bisa menyelesaikan masalah karena kurang informasi dari kita, yang ada malah nambah masalah…

Jadi, jangan pernah lari dari masalah dan menimpakannya pada orang lain. Karena orang lain belum tentu bisa menyelesaikan masalah sebaik kita menyelesaikan masalah itu sendiri🙂

Tagged , , , , ,

5 thoughts on “Selengket apa sih masalahnya?

  1. rvdirza says:

    hm.. kurang setuju euy.. tergantung frame-nya
    kalau kita lihat frame yang lebih luas lagi, akan muncul kata :
    “Banyak jalan menuju Roma”..🙂

    Prof. selalu bilang gak semua permasalahan harus diselesaikan dalam “research”, karena visi si prof. lebih luas yaitu berkontribusi buat dunia. Untuk itu banyak sekali jenis riset yang dilakukan. Kalau impossible (dilihat dari waktu, biaya dll) yah pindah ke yg lain.

    Apakah itu lari dari masalah? Yup, pada frame riset awalnya. Tapi, dia nggak lari masalah pada frame visi untuk dunia.

    Kalau menimpakan (gw sih mandangnya minta tolong sampai pada tahap tertentu :p), kan memang ada istilah serahkan pada ahlinya? :p. haha..

    Orang lain bisa menyelesaikan masalah sebaik kita menyelesaikan masalah itu sendiri.(Ini gw jg sedg beljar haha )
    Asalkan kita bisa membentuk kerangka berfikir yang hampir sama dengan kita. Hal itu bisa dilakukan melalui nasehat, pengalaman dsb. Tapi, kalau orangnya gak bisa dibilangin “atau” kitanya kurang tepat menyampaikan informasi. Yah, jgn berharap banyak..🙂

    semangat..

  2. meongijo says:

    haha… masalah lari dari masalah ini memang terlalu global sih. mengundang kontroversi.

    benar, ada banyak jalan menuju roma. nyelesein masalah pun bisa kamu serahkan pada ahlinya. tapi justru disini information stickiness terbukti benar adanya. kamu akan berusaha menyelesaikan masalah dengan biaya seminimal mungkin, dan kalau dengan kamu serahkan ke ahlinya biayanya jadi minimal ya memang begitu seharusnya dalam konteks stickiness.

    kecuali, kalau ternyata yang tahu banget masalahnya itu kamu (kayak masalah hidup), sebaiknya kamu sendiri yang selesaikan. Karena kalau kamu outsource orang lain suruh menyelesaikan masalah, akan lebih costly. Kamu mau cerai sama istri kamu misalnya, tapi yang kamu lakukan adalah mengirim orang lain buat ngomong sama istrimu untuk cerai. Bisa saja, orang itu kita bentuk dulu supaya pengetahuannya sama tentang kamu, tapi ya itu…. costly.

    Mungkin post ini salah penutup, mestinya selesaikan masalah oleh seseorang yang paling tahu masalahnya. kalau masalah hidup, karena biasanya kamu sendiri yang tahu, ya selesaikanlah sendiri. hehehehe… gimana?

    • rvdirza says:

      hmm.. bolehlah.
      Tapi, yang jelas setiap problem itu bisa didekati dengan banyak pendekatan. Dan setiap problem itu biasanya punya input yang berbeda (apalagi masalah suami istri huahaha.. ini juga diitung ya biayanya? gawat.. @_@??.. haha.. ). Jadi, kesimpulannya, ya tergantung permasalahannya, parameternya dan tergantung orang yang punya masalah.. huahahaha..😀. You need more information to determine a good solution… hueheehehe.. :p

  3. nadiafriza says:

    udah lama ga buka blog kamu jadi pangling juga.. new theme ya ras🙂

    nice posting ras🙂
    no further comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: