Nasionalis, Haruskah Berbahasa Indonesia?

Agak tertampar aku ketika melihat sebuah program di TV tentang orang Suriname yang belajar Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Seseorang Suriname yang mengajar Bahasa Indonesia dan Jawa berkata dengan lumayan lancar, “Bisa Bahasa Indonesia saja sudah bangga. Saya heran kenapa mereka (orang Indonesia) memakai kata Bahasa inggris. Seperti di Jakarta orang bilang ‘Saya mau shopping. Apa itu mau terlihat gaya?”

*numpang view dari thomascrampton.com*

Beberapa hari yang lalu aku juga membaca sebuah artikel di Koran yang berisi kekhawatirannya mengenai Bahasa Indonesia yang bergeser karena penggunaan sms. Kata-kata banyak yang disingkat dan diubah – beberapa malah sudah terlalu jauh pergeserannya dari kata aslinya. Pernah membayangkan darimana istilah bokap dan nyokap? Lebih parah lagi bapak dan ibu berubah menjadi bonyok. Duile, mestinya kita hormat sama orang tua kok ini malah dibilang bonyok…

Untuk kita-kita yang masih mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa membedakan yang benar dan salah, serta early adopter dari sms maupun internet, kata-kata Bahasa slang masih bisa kita filter dan bilang kalau itu bukan Bahasa baku – walaupun untuk mengartikannya lebih susah. Namun anak-anak yang sekarang sudah pegang hp dan internet, mereka sudah terpapar Bahasa Indonesia yang tidak baku, bahasa slang, bahasa gaul, dan bahasa sehari-hari sejak dini. Membuat mereka lebih sulit untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baku.

Seorang teman asisten pernah bercerita ketika memeriksa laporan angkatan bawah, yang berarti umurnya masih sekitar 20-an, laporannya menggunakan Bahasa sehari-hari seperti kok, kan, dan ya. Aku geleng-geleng kepala.

Mungkin 5 tahun lagi ketika aku baca laporan bawahan (amiiiin), aku akan menemukan paragraf

seperti ini:

J4dI recommendati0n 9w adlh ga bnyk2 berIkL4n, kl0w trlalu bnyk nnti kan bs ru9i loh.

Lengkap sudah penderitaan bangsa ini: korupsi dan alay.

Balik lagi ke cerita orang Suriname, sebenarnya aku tidak setuju 100%. Betul bahwa kita harus bangga dengan bahasa sendiri, apalagi di Sumpah Pemuda para leluhur sudah berjanji untuk menggunakan satu Bahasa Indonesia saja. Tapi untuk menggunakan bahasa lain, apalagi bahasa internasional, tidak ada salahnya. Semua pasti setuju kalau penguasaan bahasa itu fungsi dari penggunaan. Semakin banyak dipakai, semakin fasih.

Apalagi Bahasa Inggris yang sekarang masih dipakai menjadi bahasa perdagangan internasional. Kalau Indonesia sudah punya teknologi sendiri, bisa swasembada pangan, bisa memenuhi kehidupannya sendiri dsb tanpa bantuan Negara lain, bolehlah kita fasis. Masalahnya kami mahasiswa saja masih harus mengambil referensi dari luar negeri karena penelitian dalam negeri belum ada atau malah tidak dapat diakses, beras saja masih impor, apalagi teknologi asli dalam negeri??? Yang ada orang berprestasi di Indonesia diboyong ke luar negeri. Jadi karena alasan itulah aku merasa kita perlu menguasai Bahasa asing, terutama Bahasa Inggris dan mungkin nanti Bahasa Cina, tapi dengan catatan bahwa kita sendiri telah menguasai Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Tetap nasionalis secara pintar bukan?

Filipina saja punya dua Bahasa resmi, Tagalog dan Bahasa Inggris. Kata teman Filipinaku sih, untuk kalangan akademik biasanya Bahasa Inggris yang banyak dipakai karena buku-buku mereka dalam Bahasa Inggris. Tapi itu kan karena mereka bekas koloni AS, sedangkan kita bekas koloni Belanda yang Bahasa Belanda saja kita hampir tidak pernah pakai.

Yang salah adalah ketika kita percaya diri cas cis cus dengan bahasa lain, sementara Bahasa Indonesia kita nol besar. Mungkin keluarga-keluarga baru bisa memulainya dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baku di rumah, alih-alih menggunakan bahasa asing dengan alasan semakin dini diajarkan maka semakin baik. Nah itu. Bahasa Indonesia belum lancar sudah diajari bahasa asing. Apa kata orang Suriname yang bangga sekali belajar Bahasa Indonesia?

Pelajar juga tidak boleh takut dengan Bahasa Indonesia. Kalau dulu nilai Bahasa Indonesiaku jelek, itu karena aku menganggap sehari-hari sudah pakai Bahasa Indonesia masa masih belajar? Walhasil aku tidak pernah belajar Bahasa Indonesia dengan baik, tidak tahu kalau ternyata tata bahasa yang baku itu banyak yang masih belum aku ketahui.

Sekarang yang namanya UAN Bahasa Indonesia itu sekarang semakin ditakuti dan semakin dianggap susah. Mungkin anak-anak ogah belajar Bahasa Indonesia karena memang sulit lantaran pergeseran bahasa mereka terlalu jauh. Padahal, kata orang Suriname yang diwawancara di TV plus orang-orang Jepang berbahasa Indonesia yang kutemui bilang kalau Bahasa Indonesia itu mudah sekali. Bahkan saya pernah dengar kalau Bahasa Indonesia itu termasuk 3 besar bahasa yang paling mudah dipelajari.

Blog ini boleh campur aduk, boleh full Bahasa Inggris, full Bahasa Indonesia walaupun kadang masih pakai Bahasa sehari-hari, tapi Anda yang baca aku jamin bahwa aku masih bisa menulis laporan dengan Bahasa Indonesia yang baku.

 

Tagged , , ,

2 thoughts on “Nasionalis, Haruskah Berbahasa Indonesia?

  1. tyas says:

    hidup bahasa indonesia!!!😀

  2. fafa says:

    Wah,betuuul..
    oya,kalo ga salah denger,kata Sultan Hamengkubuwono, 40% bahasa yang digunakan orang Indonesia adalah bahasa jawa Ras,hehe, mungkin setelah berwajib berbahasa Indonesia, wajib juga belajar bahasa jawa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: