Bhinneka! Singapore :P

Kira-kira dua minggu yang lalu aku ketiban rejeki pergi ke Singapura 2 hari 2 malam buat nemenin sepupuku yang belum pernah punya pengalaman abroad tapi seminggu kemudian dia dijadwalkan cabut ke NY, konferensi tentang MDG bareng UN katanya. So there I was, berdua saja dengan sepupuku menjelajahi pulau kecil yang dulu ga ada apa-apanya dibanding Indonesia.

I don’t really care about Singapore at first. Yang aku tahu, itu Negara clean (even bubble gums and smoking are not allowed), tidy, and Singlish. Jadi masalah bahasa ga usah khawatir lah ya, ada sikit-sikit englishnya. Makanan dan mushola juga ga usah khawatir karena katanya cukup banyak melayu di sana.

Pertama kali ketemu orang Singapura waktu di imigrasi. Yang jadi petugasnya sepertinya keturunan India. Aku ngomong pake bahasa Inggris, eh dia ngomong Melayu. Udah gitu dia bilang kartu imigrasi aku bermasalah karena “Malaysia” lah, padahal udah jelas ditulis kalau itu Republik Indonesia. Pokoknya aku sama dia ga nyambung, sampai akhirnya dia memperjelas kalau aku harus ngisi kartu imigrasi Singapura. Yeh bilang kek dari tadi. Kok pake bawa-bawa Malaysia segala???

Kedua kalinya berinteraksi dengan Singaporeans, kali ini sama petugas MRT yang nampaknya peranakan Cina. Satu-satunya kata yang bisa kami tangkap darinya adalah City Hall. Itu juga karena kami tau City Hall itu salah satu stasiun MRT. Darn ternyata telinga ini masih perlu adaptasi ke Singlish. Aku kira teman-teman YSEP yang dari Singapura sudah cukup mewakili Singlish, setelah menginjakkan kaki di Singapura aku baru sadar ternyata mereka masih ngomong bahasa inggris dengan aksen Singlish T_T

Hari pertama, aku ngeliat bapak-bapak turun escalator pake sarung. Pasti dia Melayu.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya daerah atraksi turis yang merupakan landmark dari penghuninya adalah Chinatown, Little India, danBugis. Nama jalannya pun ada yang nama Cina, nama melayu, dan nama India. Orang-orang yang ditemui rata-rata sipit, kulit sawo matang, dan mata belo kulit gelap, oh serta bule-bule. Jadi aku menarik kesimpulan nampaknya penduduk Singapura mayoritas terdiri atas 3 kebangsaan itu: Cina, Melayu, India. Yang bule mah paling businessman yang kerja di Singapura.

Selain daerah dan nama jalan, 3 bangsa utama yang mengomposisi penduduk SIngapura juga direpresentasikan dalam tulisan penunjuk jalan. Selalu ada aksara cinanya, bahasa melayu, dan aksara india. Kadang-kadang dilengkapi dengan bahasa Jepang dan Thailand (shows you well that Singapore government does really care about tourists with higher language barrier like Japanese, or maybe Japanese and Thai are the two biggest numbers of tourists other than mentioned above). Aku bisa merasakan bahwa pemerintah Singapura berusaha melindungi dan melestarikan 3 kebangsaan utama itu sebagai komponen diversity dari penduduknya, soalnya ga semua Chinese bisa melayu dan ga semua Melayu bisa berbahasa India.

Yang bikin terharu adalah saat kami menonton pertunjukan Songs of the Sea di Sentosa (pertunjukan ini mengombinasikan efek laser, cahaya, api, dan air di atas stage yang berada di atas air laut). Para pemainnya boleh jadi semuanya Chinese, tapi mereka menyanyikan 3 lagu yang berbeda; lagu Melayu Anak Kambing Saya (hei, aku juga mau bilang itu lagu Indonesia tapi somewhat beberapa teks lagunya jadi tidak seperti yang kita dengar di Indonesia), lagu anak-anak China, dan lagu India. Wow segitunya banget ya orang Singapura menghargai keberagaman penduduknya yang cuma 3 jenis sampe dimasukkan ke dalam pertunjukan kelas internasional.

Aku jadi mikir Indonesia. Sukunya sih boleh banyak. Tapi ga ada usaha bagi pemerintahnya untuk menonjolkan diversity ini untuk pariwisata. Yah mungkin bisa dimengerti, kalau mau ngikutin Singapura mungkin papan penunjuknya bisa segede rumah saking harus mengakomodasi setiap bahasa dari setiap suku. Jadi yang bisa mereka lakukan adalah: kalau mau liat orang-orang yang kulitnya lebih terang bisa ke daerah barat, kalau mau lebih gelap ke daerah timur, kalau mau liat perwakilannya cukup ke Jakarta karena Cuma disitu yang fasilitasnya manusiawi jadi orang dari berbagai daerah di Indonesia larinya kesana.

Belum lagi kalau sekarang batas antar suku sudah mulai berkurang. Sekarang mulai sulit secara fisik untuk membedakan kamu orang Sunda sama Aceh, orang Ambon sama Papua, orang Kalimantan sama Jawa, atau orang Palembang sama Chinese. Kita bisa angkat pernikahan antar suku, bahasa Indonesia, dan globalisasi sebagai alasan batas-batas ini mulai memudar. Apakah pemudaran ini salah?

Mungkin ada yang bilang bagus kalau batas kesukuan pudar, berarti ga SARA lagi. Tapi toh ga ada salahnya kesukuan ini tetap di preserve untuk menunjukkan betapa Indonesia penduduknya yang paling beragam di dunia namun tetap bisa hidup akur damai tentram. Miris aja waktu ngelihat sebuah kolom yang menceritakan kok bisa ya Malaysia mengklaim dirinya The Truly Asia, padahal keberagamannya jauuuuuuuh lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Apa yang Cuma ada satu di Malaysia, di Indonesia ada lebih banyak lagi alternatifnya. Sayangnya Departemen Pariwisata kita kurang tergerak untuk mikir usaha apa supaya semua potensi kita bisa dijual di mata dunia.

 

 

Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: