Demo yang gagal…

Kemarin aku jalan-jalan ke PvJ bersama keluarga untuk pertama kalinya (PvJ udah ada sejak 2006 dan kami baru pergi sekeluarga 2011, hahaha). Di Carrefour, ada demo produk deterjen S*rf yang mengklaim paling putih cemerlang hasilnya. Yang nonton cuma dua orang Ibu-ibu, aku yang penasaran (walaupun udah sering liat di TV) liat-liat dari jauh.

 

“Eh Ibu yang disana, ayo sini mendekat aja,” kata demonstratornya. Sialan aku dipanggil ibu-ibu, hahaha… Demonstratornya berjenis kelamin lelaki, ketulenannya silahkan periksa sendiri. Badannya rada gempal, makanya mulutnya lebih atraktif daripada badannya. Yah setidaknya tangannya masih bisa melakukan demo.

“Nih saya punya dua kain putih. Tolong cek ya bu apakah ini kainnya sama…” demonstratornya nyodorin dua lembar kain putih ukuran 10×10 cm ke ibu-ibu paling depan. “Sama.. sama…”

“Nah sekarang saya punya air berisi tanah merah. Dua kain ini akan saya celupkan ke dalam air ini…” dia celupin tuh kain, aduk-aduk pake pinset, kok aku merasa dia lagi bikin teh ya? Dia keluarin terus dia peras kainnya. Aku berkata dalam hati, yah kalau cuma air tanah merah mah kainnya ga bakalan kotor-kotor amat. Dan terbukti, kain yang udah dicelup cuma berubah warna dari putih banget ke putih belel.

“Di sini saya punya dua jenis deterjen, satu deterjen s*rf – yak Ibu-ibu bisa melihat deterjen s*rf memiliki butir-butir berwarna biru yang berfungsi sebagai pencerah warna putih pakaian ibu-ibu sekalian. Satu lagi ini deterjen merek X, saya tidak akan menyebutkan mereknya…” lah bukannya barusan dia bilang mereknya X ya? “Satu kain akan dicuci dengan s*rf dan satu kain dengan deterjen X supaya bisa kita lihat bedanya.”

Setelah pembilasan….

“Yak ibu-ibu silahkan dilihat hasilnya, lebih putih yang mana?”

Ibu-ibu di sebelah langsung teriak dengan semangat kucing jantan ketemu kucing betina, “Yang ini!” dia nunjuk kain yang dicuci pake s*rf. Aku memicingkan mata. Putihnya sama. Aku spontan bilang, “Sama aja ah…”

Demonstratornya gak kehabisan alat demo, dia masih punya kotak bersinar biru yang dia klaim bisa menunjukkan kecemerlangan warna putih. “Nih saya masukin ya dua kain ini ke kotak sinar biru, ayo coba dilihat mana yang lebih putih.”

Lagi-lagi ibu di sebelah langsung nunjuk kain yang dicuci pake s*rf, “Yang ini!”. Tapi komentarku tetap, “Sama aja”. Wong memang dari pantulan cahayanya sama aja kok, sama-sama biru. Aku yakin banget sama pandangan mataku yang kagak ada minus-minusnya, pun masih bisa melihat kutu di dalam beras. Gak kalah sama superman. Kalau superman punya kemampuan melihat tembus pandang, kalau aku selayang pandang. Itu loh, masakan yang pedas-pedas bikinan orang minang. *udah mulai ngaco*

Rupanya si demonstrator rada panik, dia langsun bilang “Oke mungkin karena mbak – ” yah sekarang dia baru bilang mbak kalo kepepet, ” – ngeliatnya di samping. Coba ya saya tuker posisinya, pasti kelihatan deh mana yang lebih cemerlang.” Dia tuker posisi kainnya dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri.

“Sama ajaaaaaa…” komentarku. Semantara si ibu-ibu tetep konsisten dengan “yang ini” nya pada kain dengan s*rf. Aku bingung, kok bisa ya dia ngebedain. Pantulan cahaya, sama. Pendar warnanya pun, sama terangnya. Belakangan dua adikku juga ikut ngelihat, mereka juga komen “sama aja kok”. Kontan si demonstatornya rada pucat… Sadar suasananya ga enak aku langsung bilang “Makasih ya” dengan senyum termanis dan kabur. Si demonstratornya pura-pura sibuk dengan ladenan ibu-ibu “yang ini”.

Kasihan… better luck next time. Setidaknya dia telah berhasil meyakinkan satu ibu-ibu “yang ini!”

2 thoughts on “Demo yang gagal…

  1. dita says:

    gw tau ras, matamu ga setajam mata emak-emak yang biasa nyuci baju😛

  2. udin jelek says:

    kok aku jadi keinget sama salah satu trik di film “kurosagi” black swindler
    dimana c ibu2 itu kerjasama, agar secara psikologi pendapatnya/ jawabannya memancing/memberi sugesti kepada orang sekitar😕

    poor c tukang demo, korbannya ga tergugah atau iba sama sekali.
    btw jadi inget “white lies” yg km posting 1 tahun setelah ini. 2012
    apa biasa selalu komentar jujur seperti itu ras? hahaha ok ok, entar aku komentarin aja di sesi pada tempatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: