Die..t

Aku sama Tice janjian buat preliminary medical check up mandiri sebelum menghadapi real medical check up dalam rangka tes masuk BI. Berbekal informasi yang kami dapat, dulu MCU BI dilakukan di RS Budi Kemulyaan atau di RSPAD Gatot Subroto. Aku ambil pemeriksaan standar (penyakit dalam, tes darah, tes urin, EKG) sedangkan Tice ambil paket standar plus USG. Paket MCU standarnya aja biayanya 1 juta. Tapi, yah demi kesehatan juga- toh aku belum pernah MCU sebelumnya.

Ga ada persiapan sama sekali, kami memutuskan untuk MCU pada sore hari untuk besok pagi. Serta merta kami langsung puasa, ga makan malam, lagipula siangnya kami baru ditraktir sama temen kantor di Seribu Rasa. Udang telor asin, sapo tahu seafood, cumi (yang entah diapain), cukup membuat perutku ga minta makan malam. Eh lagian aku udah 4 bulan belakangan ga makan malam, kecuali kalau lagi lapar hebat.

Untuk ukuran RS birokrat, harus kuakui pelayanan MCU di RSPAD GS top banget. Petugasnya ramah-ramah. Apalagi waktu aku bilang aku takut diambil darah dan ngeliat darah, petugasnya memberikan ketenangan luar biasa dengan berkali-kali basmalah dan tau-taunya sudah selesai diambil darah. Bener-bener ga kerasa. Setelah itu kami disuruh berkeliling pos-pos pemeriksaan – jadi inget ospek hehe – kami diberi kertas kontrol yang isinya merupakan check list dari pos-pos yang harus dikunjungi. Cuma ada beberapa dokter yang datangnya siang, jadi aku sempat idle selama 1 jam untuk menunggu dokter-dokter itu.

Setelah balik kantor, aku sama Tice diwanti-wanti untuk jaga makanan dan olahraga. Pak Regi malah, sudah mewanti-wanti aku sejak awal tes BI padahal ga ada jaminan kita bisa mencapai tahap MCU, tahap ke 6 dari 7 tahapan tes BI. Yang aku lakukan cuma menambah sayur dan kembali tenggelam dalam pekerjaan, plus snack rapat. Hehe…

5 hari kemudian, aku dan Tice dapat hasilnya. Dan owww kolesterol aku tinggi, sangat tinggi, berada di rentang resiko tinggi penyakit jantung. LDL pun terbang jauh dari batas normal, hampir 100% dari batas atasnya. Aku tahu aku punya kebiasaan sangat suka makan gorengan dan daging, tapi ga menyangka sampai setinggi itu.

Dalam hati aku ngedumel, Yozzi yang sekali makan fried chicken saja bisa 3 potong, kolesterolnya tahun lalu masih di batas normal. Yah mungkin karena aku ga olahraga, mungkin karena h-1 MCU aku masih makan-makanan berkolesterol tinggi, mungkin karena aku punya bakat kolesterol tinggi. Apapun itu, aku dihadapkan pada diet ketat rendah lemak (plus disarankan untuk menurunkan berat badan yang berada di rentang overweight).

Khawatir terhadap MCU yang akan datang, dan lebih-lebih lagi pada kesehatanku yang sebenarnya, sejak saat itu aku mencoba makan sehat. Paranoid dengan kandungan lemak jenuh membuatku meneliti nutrition fact pada setiap kemasan dan menghindari tumisan apalagi gorengan. Aku cuma bisa melihat teman-temanku makan cake dan daging sementara aku makan oatmeal dengan buah. Terbayang olehku, masa depan tanpa burger dan makanan enak lainnya.

Teman-teman kantor sangat mendukung – ada yang bilang minum teh hijau, teh daun jati, daun salam, air kelapa muda, sampai obat yang belakangan kuketahui adalah obat pengencer darah untuk orang stroke. Tice bahkan jadi pemasok kebutuhan buahku. Aku malas makan buah, apalagi kalau buahnya harus dikupas dan dipotong. Tice bilang ibunya mempersiapkan buah ekstra buat Tice tanpa bilang itu buatku juga – yang membuatku sangat terharu. Mbak Rinta hampir selalu mengontrol makananku ketika sedang makan bersama. Bahkan ia berhasil membuatku tidak jadi memakan satu potongan cake kecil yang bisa langsung ditelan. Dia bilang kolesterolnya sama kalau aku makan satu mangkok bakso dengan kerupuk kulit. Hiii…

Dua belas hari berlalu dan aku periksa lagi kolesterol + LDL di Bandung. Hasilnya sudah jelas turun. Kolesterolnya sudah mendekati batas atas normal (tinggal sedikit lagi dan kolesterolku sudah di batas normal), tapi LDL nya masih di rentang beresiko. Yah masih ada beberapa hari sebelum MCU BI, itu pun kalau aku lolos tes psikiatri.

Aku ga keberatan dengan makanan sehat, justru aku lebih senang karena bisa lebih sehat. Satu-satunya penderitaanku adalah aku belum bisa makan burger – makanan favoritku semenjak Ibu hamil aku (dia ngidam burger, haha). Dan yang agak mengecewakan sih, setelah 12 hari diet aku cuma turun 1 kg, hahaa… Keliatannya dendamku ga bisa makan daging dibalas dengan makan lebih sering – itu artinya semakin banyak kalori. Tak papa deh, even diet has its priority. Low chol first, then body weight.

Tagged , ,

3 thoughts on “Die..t

  1. udin jelek says:

    di jakarta ya ras? hemm.. sama males ngupas buah-buahan tapi di siasati dgn beralih ke jus buah, (da cuma teguk)
    anyway nice info

    • meongijo says:

      iya sekarang di jakarta hehe. masih mending tuh suka jus. Kalau aku tetep aja susah minum jus. udin dimana?

      • udin jelek says:

        uwohh minum jus aja susah yah hahaha.. bedalah yah kucingmah doyannya minum susu :p

        iah ras kerja di jakarta, ngekos di daerah setiabudi😀
        tapi ini gi liburan di bandung hehehe..

        sama sama di jakarta traktiran doong, kalau sekarang udah bisa makan burger kann??😀 #halahMasalahMakananGratisAjaBaruNgarep #whehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: