Satu Lagi Mental Birokrat Kita

Sekembalinya dari kick off meeting project yang di”kick” oleh Dewan Gubernur kami, salah satu teman yang mengorganisasikan acanya ngedumel. “Gimana sih tadi makanannya. Ada DG (Dewan Gubernur) tapi makanannya cuma bakso…”

Jadi tadi ada sarapan pagi juga, makanannya ada bakso, buah jeruk, anggur, risoles, teh, kopi, dan air putih. Aku ga melihat ada yang salah di sana.

“Mestinya tuh kalau ada DG, makananya harus wah, harus komplit. Ada western, japanese, indonesian…” lanjut temanku lagi. “Untung tadi DG nya baik, kalau DG yang lain tuh bisa langsung disemprot di tempat.”

Masa segitunya sih? Cuma gara-gara DG satu orang datang, makanannya harus komplit ala buffet hotel bintang lima.

“Kalau di BI itu, DG itu raja. Ya namanya raja harus lebih wah.”

Hmm ini dia budaya yang aku ga ngerti. Raja sih raja. Harus ngerti penderitaan rakyat juga dong. Lah memang siapa yang ngebiayain makanan ala buffetnya. Dia sendiri? FYI dia udah punya gaji 100 juta, tapi plus tambahan “service” lainnya di luar gaji.

Yang bikin aku paling kesel, silahkanlah makanannya komplit, asal diabisin. Lah ini kasusnya kan tidak begitu. Orang normal mana yang akan ngabisin semua makanan yang disediakan sendiri? Paling-paling tuh DG cuma ngambil makanan yang dia suka. Terus sisanya?

Dan itu sangat sering terjadi di sini. Oh well, mungkin ga di BI aja, tapi di semua lingkungan birokratis. Sangat sering sekali kita dapat makanan rapat yang ga dihabisin. Kadang jadi rejeki cleaning service dan messenger, tapi kadang-kadang makanannya benar-benar berlebih sampai basi ditinggalkan.

Aku masih ga ngerti tujuannya “Raja harus diservice”. Kalau mau, protokol-protokolnya siapin tuh list makanan favorit sang Raja, dan sediakan secukupnya aja. Ga perlu sampai komplit ala ini itu buat dia seorang. Bayangkan berapa besar penghematannya seandainya satu porsi makanan DG Rp50.000. Dia aja kasih yang spesial, kita yang underling makan risoles aja udah cukup.

Kapan kita punya pemimpin yang melayani, bukan minta dilayani? Dan kapan kita sebagai anak buah punya mental mengabdi pada tujuan besar, bukan mengabdi pada bos besar?

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: