Tertipu

Beberapa hari yang lalu aku kena penipuan lewat telepon. Berawal dari telepon jam 9 pagi, saat aku lagi kerja. Nomornya 08121682411 ga kukenal. Begitu diangkat terdengar suara bapak-bapak.

“Lagi di mana?”

“Kantor. Ini siapa ya?”

“Masa ga kenal? Ini loh teman dari kepolisian.”

Seminggu yang lalu waktu aku masih numpang sama tante di Cipete, tetangga sebelah rumah yang ngontrakin rumah ke tanteku emang pensiunan polisi. Nomornya sekilas sama, waktu itu dia pernah nelepon ngebantuin cari montir buat mobilku yang bermasalah. Nah aku cuma tau dia dipanggil Pak Haji, ga tau namanya pula. Jadi seluruh percakapan aku sama penipu itu tidak pernah menyebut nama atau alamat.

Dia nawarin barang-barang elektronik yang dilelang secara internal oleh kepolisian dengan harga sangat murah. Aku sendiri ragu, ya masa barang lelang notabene barang sitaan aku beli? Berarti mendorong perdangangan ilegal dong… Aku tanya teman-temanku di satu ruangan dan mereka mendukung kemurahannya – bahkan pengen nitip, walaupun ada yang bilang hati-hati juga (terutama kalau diminta DP). Aku tanya ibuku, ibuku pengen ini itu juga. Akhirnya aku bilang sama penipunya bahwa kami tertarik. Serta merta dia bilang, “Waduh jangan diceritain siapa-siapa ya, ini kan internal nanti saya ga enak.”

Aku bilang aku pengen diskusi dulu sama Ibuku. Tapi dia nelepon berkali-kali (kira-kira dua menit sekali). Dia jelasin nanti ada surat dari kejaksaan, surat pindah kepemilikan, dsb… Nanti barangnya malam sudah bisa diambil, atau mau dianterin juga boleh.

Karena ragu juga aku menanyakan prosedurnya gimana. Dia bilang ya nanti prosedur pembayarannya setelah maunya apa sudah diberi tahu ke dia. Kan dia harus menghubungi panitianya lagi, gitu katanya.  Setelah aku mengekspresikan minat mau beli barang ini itu, dia telepon “Ya jadi totalnya sekian juta ya… tapi DPnya 50% ditransfer. Ibu punya rekening apa nanti saya kasih rekeningnya. Barangnya nanti mau dianter boleh, mau diambil ke rumah boleh.” Aku bilang BNI jadi dia kasih nomor rekening atas nama SYAH RIZAL 0225671543.

Sementara itu salah satu teman mengcross check ke temannya yang intel dan apa yang penelepon itu cerita mengenai prosedur lelangnya memang benar sama. Tapi temanku itu bilang, orang dalamnya dulu siapa namanya? Pangkatnya apa? Nomor rekeningnya atas nama panitia atau pribadi? Dengan lihainya penelepon itu berhasil berkelit dari menjawab nama, pangkat, tapi menjawab dia dari mabes dan rekening yang dia berikan merupakan rekening panitia. Aku inform semua itu ke temanku, dan temanku meneruskan tapi setelah ditunggu 1/2 jam belum ada kabar juga. Sementara si penelepon setiap semenit sekali nelepon, “Sudah ditransfer belum?”

Saat itu udah dekat makan siang dan aku sudah ada janji makan keluar. Kata teman-teman “Ya sudah kalau Laras percaya saya juga percaya,” nah akhirnya tanpa menunggu kabar dari teman yang menghubungi intel itu dan teman yang mengingatkan penipuan, aku transfer sendiri via ATM di kantor. Aku transfer sendirian, terpisah dari teman-teman. Aku konfirmasi bahwa aku sudah transfer ke penelepon, dan bilang bahwa keliatannya pengen nambah lagi (karena ada teman lagi yang nitip) cuma aku belum tau pasti barangnya jadi ntar kukabari lagi.

Tetap saja si penelepon menelepon berkali-kali sampai aku riweuh sendiri. Setelah kukonfirmasi pengen nambah barang ini itu dia bilang “Kalau pembeliannya di atas 20 juta boleh dapat bonus bebas pilih apa saja,” dengan posisi pembelian kolektif kami adalah 18 juta. Setelah aku konfirmasi tambah lagi supaya bisa 20 juta, dia merongrong lagi kapan bisa transfer. Karena itu tambahan teman, aku sih inginnya teman saja yang transfer, aku pengen makan siang. Temanku nanya ada BCA ga, si penelepon bilang ga ada tapi dia memberikan rekening Bank Mega atas nama HENDRA SANJAYA 010780020064731 yang katanya bisa online sama BCA. Tapi dia terus menerus nelepon, aku minta sejam lagi ditransfer si penelepon bilang “Yah ini harus secepatnya supaya petugas lelangnya bisa menyelesaikan hari ini setelah makan siang”, akhirnya aku inisiatif meninggalkan teman-temanku dari makan siang bersama dan turun ke ATM untuk transfer lewat BNIku.

Pas turun, dia terus menerus menelepon. Temanku ada yang nyusul nemenin, kebetulan dia pemain di daerah itu jadi tau jalan. Aku bilang saya di lantai 5, ATMnya di lantai 2 dan aku juga ga tau lokasinya dimana. Eh masa dia ampe nanya “Berapa menit lagi transfernya?” Aku mulai irritated sama pertanyaannya dan aku akhirnya bilang sama temanku, “Ini orang kok ngudag-ngudag banget ya…” Tiba-tiba tep, ngeburu-buru kan salah satu tanda penipuan. Aku juga belum pernah nanya namanya, dia ga pernah nyebutin lokasi dia dimana, yang aku tau aku sendiri yang mensugesti diri sendiri bahwa dia adalah tetanggaku pensiunan polisi yang kukenal. Saat itu aku baru sadar untuk cross check nomor penelepon sama nomor tetanggaku, alhamdullillah masih ada di call log dan ternyata berbeda.

Aku telepon lagi, “Bapak siapa? Domisili dimana?” dia terus berkelit dengan bilang “Ini loh yang di Bandung”. Aku bilang lagi, “Saya ga punya rumah di Bandung,” dia jawab “Eh Cirebon”. Aku ganti pertanyaannya, “Nama saya siapa?” dia jawab “Errr.. Fani?” Aku bilang, “Bukan pak, saya siapa?” aku tanya lagi.

“Salah sambung kali ya,”

“Kalau begitu saya ga mau tau uang saya harus balik. Ayo kita ketemuan saya di tempat ini,” dia mengiyakan tapi dia langsung matiin teleponnya. Aku coba hubungin lagi udah tidak aktif. Aku langsung meluk temanku itu, jelas sudah aku kena penipuan.

Pengalaman pasti berharga, cuma karena kebodohanku pengalaman ini jadi pelajaran yang mahal. Aku orang yang sangat kritis soal penipuan apalagi lewat telepon, tapi yang ini modusnya belum pernah kudengar dan bisa-bisanya aku mengasosikan dia sama kenalanku hanya dengan kata-kata “Masa ga kenal suara saya?” Ada yang bilang aku kena hipnotis, sempat cengo dan panik. Tapi di balik itu aku mau mengingatkan penipuan itu modusnya macem-macem. Tapi semuanya punya garis yang sama:

  1. Meminta transfer sejumlah uang saat itu juga
  2. Memburu-buru, menelepon berkali-kali membuat kita panik
  3. Apa yang ditawarkan biasanya sangat appealing. Yang sering terjadi adalah penipuan mengenai anggota keluarga yang masuk rumah sakit, kalau aku barang-barang elektronik dengan harga mura, ada juga yang menawarkan tiket touring murah

Lain kali, aku akan mengingatkan diri sendiri dan juga teman-teman untuk:

  • Selalu berkonsultasi dan ditemani oleh teman apabila menadapatkan tawaran dari nomor yang tidak dikenal. Penipu akan memanfaatkan kondisi kesendirian kita untuk lebih mudah dibuat panik. Keputusan aku untuk mentransfer terjadi di saat aku sedang terpisah dari teman-teman sehingga tidak ada yang mengingatkan untuk bertindak hati-hati
  • Jangan konsumtif dan impulsif. Aku ga akan kena penipuan ini kalau aku merasa ga butuh barang tersebut (aku pengen beberapa barang untuk kuberikan sama orang tua dan adikku, selebihnya aku ga butuh – tapi tetap saja dari sisi penipu aku membutuhkan barang itu jadi kena tipu). Penipu akan menawarkan barang dengan harga yang sangat murah sehingga jiwa impulsif kita muncul
  • Dalam kasusku, memang harusnya kita kalau butuh barang belilah yang legal. Dengan aku berani membeli barang sitaan kepolisian itu berarti aku mendukung perdagangan gelap. Di mana ada permintaan, supply akan terus berusaha memenuhi. Akhirnya praktik penyelundupan pun makin merajarela, akhirnya negara dan warga kita yang rugi
  • Banyak berdoa mohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa

Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, pengusutan kasus ini pun menyita waktu, tenaga, bahkan tetap keluar uang sehingga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (setelah itu masih ada pemeriksaan saksi-saksi dan sebagainya). Aku kehilangan dua hari kerja gara-gara kejadian ini. Hati-hati…

 

Tagged , , ,

One thought on “Tertipu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: