Jilbab dari masa ke masa

Setelah semalaman ga bisa tidur gara-gara menstruation cramps (atau lebih tepatnya bolak-balik nongkrongin wc – duduk di toilet pasang posisi boker bisa ngurangin rasa sakitnya, FYI), aku buka TV dan lagi ngebahas fashion hijab masa kini. Ada yang bilang hijabers namanya. Sepengetahuanku hijabers asal muasalnya dari kata hijab lalu ditambahin akhiran -er sebagai personafikasi, tapi entah kenapa kata hijabers menjadi kata-kata yang dirujuk untuk penggunaan fashion muslimah yang lagi ngetrend 3 tahun belakangan. Bukan lagi sekedar “orang yang memakai hijab”.

Aku sendiri turut menyaksikan kebangkitan fashion hijab ini. Entah kebetulan aku lahir di Bandung – kota kreatif yang memiliki segudang anak muda berjiwa entrepreneur, lalu menjadi first generation of internet user, dan masuk ITB. Dulu banget waktu jaman SMA pakai kerudung, aku kenalnya cuma kerudung putih bahan katun yang dibordir. Dalemannya masih renda-renda, atau kalau yang rada modis model bandana bertopi. Jaman kuliah tingkat satu, barulah mengenal kerudung pink, coklat, ijo, biru yang jenisnya katanya “Donatello”. Dipakainya masih pakai ciput yang ada topinya (paling populer), ciput dari mika (least option soalnya memberikan efek pakai plastik di kerudugnya), dan ciput renda. Bak jamur di musim hujan, demam Donatello ini merasuk ke dunia kampus apalagi mulai banyak teman-teman kuliah yang akhirnya mau memakai hijab. Nah baru saat itu Pasar Baru mulai diburu.

Dalam hitungan bulan dari demam donatello ini mulai muncul kerudung instan, atau kerudung langsung, atau bergo. Jilbab untuk pesta pun dibuat instan dengan hiasan bunga di seluruh kepala. Tapi itu semua lebih populer di kalangan ibu-ibu.

(Dari kiri atas searah jarum jam) Kerudung katun putih, kerudung paris pakai ciput topi, kerudung paris dengan inner ninja, latest hijabers style (ga ada aku di sana – belum bisa ikut trennya haha)

Tahun 2007, kerudung paris (versi lebih “jatuh” dan ringan) yang warna-warninya lebih beragam mulai heboh. Tahun 2008 di internet mulai banyak gaya jilbab timur tengah yang ditandai dengan ciput tak bertopi – yah sebutlah demikian karena dulu ga ada namanya, cuma disebut “inner wear” – dan pashmina berkombinasi yang dililit-lilit serta menjuntai. Di kampus aku punya kenalan seorang muslim dari jurusan seberang, anak seorang dai kondang yang dari tingkat dua memang sudah fashionable dan warna-warni dalam berpakaian muslim. Dia menulis blog di mana salah satunya berbagi mengenai fashion berjilbabnya. Di tingkat tiga dia menikah dan mulai berusaha di bisnis fashion hijab. Di waktu yang hampir bersamaan mulai banyak blog-blog online yang mempromosikan style hijba baru ini serta berjualan hijab trendi. Sejak saat itulah temanku ini meroket dan new style of hijab mulai dikenal – dan seingatku itu baru di tahun 2010 awal.

Temanku ini juga turut berperan aktif dengan para pemakai hijab lainnya sehingga berdirilah hijabers community. Komunitas tersebut membuat fashionable hijab berkembang sangat pesat seperti yang kita kenal saat ini. Banyak teman-temanku yang mulai memakai kerudung and I’m really happy for it.

Why now? Why not earlier? Reformasi, internet, dan entrepreneurship. Menurutku tiga hal tersebut yang membuat hijab berkembang pesat di Indonesia. Sebelum Soeharto lengser, yang pakai jilbab cuma ibu-ibu yang sudah haji (entah kenapa kalau ibu-ibu baru mau pakai jilbab kalau sudah haji – kayak ibuku – itupun dia lepas setelah dua tahun pakai sejak 1994), nenek-nenek yang memang sudah saatnya mendekatkan diri kepada Allah, sama anak pesantren atau islamic school student. Menurut kabar yang beredar, memang pada jaman Soeharto itu memakai jilbab agak dipermasalahkan karena katanya SARA. Habis Soeharto lengser, kita diberi iming-iming “lebih merdeka, bebas bersuara dan berorganisasi” sehingga di sinilah titik muslimah-muslimah banyak yang mulai menjilbabi tubuhnya tanpa ada rasa takut kepada pemerintah.

Model jilbab jaman ibuku naik haji tahun 1994. Alias ibu-ibu qasidahan, yeah😛

Tiba-tiba kita dihantam perkembangan internet dan kita mulai melihat dunia. Satu orang dan dia bisa bercerita ke seluruh dunia mengenai apa yang dia kerjakan. Tambahkan satu lagi orang dengan interest yang sama, dengan mesin pencari mereka bisa bertemu di dunia maya dan mulai merajut komunitas. Masukkan seorang entreprenur yang jeli melihat peluang bisnis ke dalam sistem dan interest tersebut mulai disupport dengan peralatan/perlengkapan yang dapat dijangkau oleh masyarakat banyak. End of success story.

Kini semakin banyak yang berjilbab, makin modis, buat muslimah sekarang bisa bangga berjalan di publik dengan gaya. Hanya saja jangan sampai karena saking modisnya jadi memperlambat gerak kita beribadah. Salah satu alasanku belum bisa mengikuti tren adalah repot wudhu (di lain itu alasan utamaku adalah aku memang tidak pernah mengikuti tren – aku berpakaian apa yang menurutku nyaman dan apa yang bisa kubeli di pasaran). Walaupun ada yang mengclaim jilbab ala hijabers bisa dipakai kurang dari satu menit, that’s need practice and practice needs actual implementation. Moreover, Yozzi lebih senang aku pakai jilbab yang biasa-biasa aja, yang ga aneh diputar lilit sana-sini untuk alasan yang sampai sekarang aku ga tau. Bahkan dia senang banget kalau aku pakai kerudung instan model di bawah ini (oleh karena itu umur kerudung tersebut sudah 5 tahun lamanya dipakai dan masih kupakai sampai sekarang).

Bukan tanduk rusanya, tapi model jilbabnya…

Cuma yang masih aku ga ngerti adalah, di talk show tersebut salah satu narasumbernya bilang, “Yang penting pakaian kita sesuai syariah. Pakaian tidak boleh ketat, dadanya tertutup…” tapi modelnya pakai kerudung yang jilbabnya tidak menutupi dada. “Kan suka ada juga tuh yang lehernya kelihatan – ” sedangkan modelnya pakai inner wear yang membentuk leher, “- nah kalau model ini kan lehernya tetap tertutup.” Heeeeh? Aku ga ngerti lagi mana batas syariah yang ditetapkan oleh hijabers ini. Emang sih arti kata “hijab” itu pun tafsirannya bisa macam-macam, dulu waktu di SMA aku diajarin mentorku bahwa hijab itu menutupi seluruh tubuh tanpa potongan seperti gamis (menganut tafsiran ini, beberapa temanku sampai ada yang memodifikasi seragam olahraga yang tadinya training sama kaos lengan panjang menjadi gamis). Mungkin hijab ala hijabers tafsirannya “yang penting longgar dan tidak membentuk tubuh”.

Aku juga baru diingatkan dari talk show tadi di tv (oleh Asma Nadia) bahwa “legging itu dalaman, jangan dipakai di luar”. Oke.. kemarin aku juga datang di kantor cuma pakai dress transparan dan legging (sama blazer dan dalaman sih) dan dikata-katain abis senam. Sip, syari’ first – aku mulai dengan maxi skirt deh, hehe…

Tagged , , ,

4 thoughts on “Jilbab dari masa ke masa

  1. mbintanghp says:

    alhamdulillah :p

  2. dita says:

    batasan hijab itu jelas di surat AnNuur 31. hijaber yang menurutku shar’ia-ly consistent itu si ghaida (anaknya aa gym)😛 …cuma kadang-kadang dia pakai rok 3/4 yang di dalemnya pakai legging
    *lagi jalan-jalan ke blog orang-orang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: