Omong-omong soal nikah dan masalah karakter…

Minggu lalu, masih dalam suasana lebaran, aku sama Yozzi kumpul dengan teman-temannya. Teman-temannya cowok semua, kalau ada cewek mungkin aku akan pasang mata curiga. Nah kumpul kemarin rada spesial, semua teman-temannya Yozzi pada bawa pasangan masing-masing. Tapi sayangnya ada juga yang baru putus sih.

Berhubung aku sudah kenal teman-temannya dari sebelum pacaran jadi mereka sudah terbiasa dengan kehadiran seorang cewek tambahan. Seiring dengan berjalannya waktu, bertambahlah cewek yang suka ikut ngumpul dengan mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima… Mungkin sudah saatnya kami mendirikan Darma Wanita geng itu, kalau bukan karena dari kami belum ada yang menikah (dan ada yang baru putus pula).

Oleh karena itu, kumpul kemarin juga rada berat topiknya. MENIKAH. Masing-masing punya masalahnya sendiri, tapi mayoritas memang sudah pada tahap “stop main-main, markitsus” alias mari kita serius. Cuma ada aja hambatannya. Satu sih sudah punya target yang jelas mau nikah kapan yaitu 4 tahun lagi, masalahnya aku ga yakin mereka bisa seawet itu melihat track record si cowok – walaupun mereka kemarin menunjukkan kemesraan luar biasa.

Satu sudah ngebet nikah dalam 1 tahun karena di lingkungan kerjanya sudah berkeluarga semua, jadi dia sudah mulai terpengaruh. Dan emang umur dia udah umur menikah sih (doi paling tua). Cuma masalahnya ortu ceweknya masih belum bisa mengapprove hubungan mereka akhir-akhir ini.

Dua baru menjalani hubungan selama kurang lebih setahun, dan pas ditanya sih sepertinya serius *tapi entah kapan*

Satu baru putus, yang selalu kita lihat “adanya orang ketiga” sebagai alasan putusnya sementara dia menganggap orang ketiga itu hanya “katalis” putusnya hubungan dia dengan mantan yang kami kenal dekat juga. Walhasil orang ini diinterogasi habis-habisan (itu sebenarnya salah satu alasan utama mereka kumpul-kumpul). Hasil interogasinya sendiri mulai membuat kami pikir-pikir masalah karakter pasangan masing-masing.

Inti dari hasil interogasi tersebut mengungkapkan fakta bahwa faktor jenis kelamin mana yang dominan dan bagaimana lawan jenisnya memperlakukan dominan tersebut sangat berpengaruh pada sehatnya sebuah hubungan (duile aku udah kayak konsultan pernikahan aja).

You can’t expect two suns in a family, but a sun an a moon makes it complete.

 

Kalau dua-duanya mencoba dominan, mungkin prahara yang akan terjadi. Jika keduanya dominan, maka keduanya harus menjalani “role” dengan baik. Kalau satu mencoba dominan, yang satu harus nurut.

Both of them are shining but in harmonic way.

One shines at day.

One shines at night.

Guy’s true nature is to lead and to feed. Woman’s true nature is to care. Masalahnya kita hidup di jaman ini dimana emansipasi wanita membuat kami para wanita juga bisa memimpin dan mencari nafkah sendiri. Dalam pernikahan, walaupun wanita sudah terlatih menjadi pemimpin dan pencari nafkah, menurutku mereka tetap harus tunduk pada nature lelaki. Sudah saatnya para wanita meninggalkan atribut emansipasinya ketika sudah menikah karena sudah ada lelaki yang bertanggung jawab (yah kecuali lelakinya kurang ajar – untung kita sudah punya modal).

Tapi kadang suami juga bisa salah dan istri memiliki pandangan yang benar. Menurutku tidak salah apabila sekali-kali suami yang menuruti istri, kalau memang pandangan istri benar. Semuanya hanya masalah komunikasi. Play the role synchronously, kalau satu lagi dominan satunya harus ngalah, begitu juga sebaliknya. Dua-duanya harus toleransi.

There might be times when one’s covered the other during eclipse, but it’s temporary and it will end soon.

Dan mau sepintar apapun pasangan memainkan perannya, ga mungkin perseteruan ga terjadi. Tapi anggaplah itu pemanis rumah tangga, dan yakinlah perseteruan itu akan berakhir dan semua kembali seperti sediakala.

Itu kesimpulanku atas interogasi terhadap teman kami itu.

Aku sangat menghighlight masalah perempuan yang terlatih untuk dominan dalam keluarga. Aku contohnya, aku anak pertama. Dari kecil udah disugesti Papa bahwa aku harus jadi pemimpin. Bukan bermaksud sombong tapi alhamdulillah otakku juga ga pas-pasan sehingga aku bukanlah seorang pemimpin yang bodoh.

Pacarku yang pertama orangnya juga sangat dominan *oleh karena itu aku mengaguminya*, cuma sayang dulu aku ga ngerti masalah ini jadi masa pacaran kami sering habis untuk berselisih mengenai hal sepele. Kami putus setelah dia mengempat dan tanda-tanda dari Ibu sejak awal pacaran. Tapi baru saja dua bulan aku sama Yozzi, keluargaku bilang mungkin dia orang yang tepat karena dia tidak terlalu dominan seperti mantanku – jadi bisa saling melengkapi.

Jadi aku dominan dalam hubunganku dengan Yozzi? Ya dan tidak. Sebatas yang aku tahu mengenai pengetahuanku, aku akan mendebat hal tersebut habis-habisan sehingga dia menerima pendapatku. Tapi ada kalanya aku juga sadar diri untuk tidak memperpanjang masalah dan mengikuti kata-katanya, terutama masalah sosial. Aku juga ga mau aku superior dalam keluargaku nanti karena aku percaya seharusnya lelaki yang superior. Jadi aku juga harus mendorong dan mendukung Yozzi untuk menciptakan karakter itu. Aku boleh superior dalam hal-hal tertentu, urusan rumah tangga misalnya, tapi kata-kata suamiku nanti haruslah menjadi sebuah ultimatum bagi anggota keluarga kami. Ibaratnya aku bolehlah jadi direktur operasional, tapi suamiku adalah komisaris. Hehehee.. begitulah yang kupikir.

Mantan atasanku di kantor juga pernah berujar, dia punya anak cewek. Dia latih anaknya itu habis-habisan untuk jadi orang yang patuh pada suami dan mampu mengurus rumah tangga. Anaknya boleh sekolah tinggi, meraih prestasi – tapi di sisi lain dia harus menjaga sikap dan kelakuannya seperti seorang istri yang patuh pada suaminya, ditambah skill kewanitaan.

Mirip didikan salah satu sepupuku, hanya saja dia sekolah tinggi dengan tujuan supaya membuka peluang untuk lelaki yang lebih prospektif. Soal skill kewanitaannya, boleh acungkan empat jempol.

Yah begitulah omong-omong soal pernikahan kali ini. Aku juga pengen nikah cepat *huahahahaha* tapi setelah kupikir-pikir, umurku juga baru 23. Jangan-jangan sekarang umur nikah shifting menjadi lebih muda karena kemajuan teknologi. Baru pacaran aja udah kayak suami istri gara-gara mudahnya berkomunikasi tanpa jarak. Kupikir aku sebaiknya sedikit bersabar, karena kemajuan teknologi bukan berarti berbanding lurus dengan kecepatan yang sama terhadap kemajuan mental untuk berpikir dewasa.

Tagged , , , ,

One thought on “Omong-omong soal nikah dan masalah karakter…

  1. hendra says:

    aku sudah punya 2 anak gadis, kduanya masih kecil kecil,., 1 satu tahun dan kakaknya 2 tahun, kelak aku pengen juga anaku jg mempunyai prestasi akademis dan sama agama cukup dekat seperti mba laras, ,,,:-), aku pengen belajar dari orang tuanya mba laras gimana bisa mendidik anak-anak supaya smart, bersaing global, namun masih tetap mempertahankan hijabnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: