Samapta PCPM & MLE Bank Indonesia 2012

Hari kedua kami sebagai peserta PCPM, tanggal 2 Oktober, kami ber183 diberangkatkan ke Mega Mendung, Puncak sedari jam 7 pagi untuk mengikuti latihan kesamaptaan. Nama tempat pendidikannya, Pusat Pendidikan Reserse Kriminal Polri. Aih serem ada kriminal-kriminalnya… padahal maksudnya tuh pusat pelatihan untuk penyidik kriminal, yaitu reserse (dan aku baru tau apa arti kata reserse pas di sana, hahaha). Pas sampai di sana kami langsung dibagi ke 4 pleton dengan komposisi pleton 1-2 untuk laki-laki dan pleton 3-4 untuk perempuan. Aku ada di pleton 4 bersama 39 peserta perempuan lainnya.

Berhubung masih hari pertama, jadi ada pembukaan dulu. Udah gitu lanjut makan siang tapi sebelumnya harus apel, berbaris di depan ruang makan. Kami makan siang bersama peserta lain dari PPNS (penyidik PNS) yang mayoritas Bapak-bapak jadi sejak saat itu kami harus maklum dengan suara-suara jail terutama ke pleton perempuan. Sehabis makan siang, kami masuk ke satu kelas besar untuk mendapatkan pengarahan dari Pak Kapusdik Reskrim. Di mana pengarahannya berupa kami harus menyanyikan lagu Sorak-Sorak Bergembira dengan 2 suara. Kami dibagi ke dua kelompok besar, yang satu pegang suara 1, yang satu lagi pegang suara 2. Kirain yang dimaksud suara 1 suara 2 ini adalah kedua suara itu bersatu, ternyata maksudnya saling susul menyusul (ada istilahnya nih pernah disebut-sebut sama salah satu peserta yang dari namanya aja keliatannya udah jago nyanyi banget).

Kami sebenernya udah separuh hati mengikuti acara nyanyi menyanyi itu. Walaupun kami semua udah pasang tampang menyerah dan bingung, Bapaknya entah polos atau pura-pura ga tau tetap menyuruh dirijen yang ditunjuk untuk mempimpin kami semua menyanyikan lagu. Tapi segala kepolosan dan kepura-puraannya itu membuat kami mau ga mau bisa juga menyanyi Sorak-sorak Bergembira sesuai arahan beliau.

Eh terus abis acara nyanyi menyanyi itu, ternyata kami dikasih coffee break! Gila ga nyangka banget. Semuanya udah pasang badan untuk kemungkinan terburuk — dibentak-bentak, suruh ngabisin makanan, makan 3x sehari — tapi ternyata kita salah besar, malah dikasih snack! Kami diperlakukan dengan sangaaaaaaaat, sangaaaaat baik. Gimana nggak, si snack ini pasti ada di pagi hari jam 10 sama sore hari jam 3 selama kita di sana. Pas awal-awal sih kita seneng banget ampe rebutan ga bersisa, menjelang akhir udah mulai sadar diri makannya pada kebanyakan jadi mulai bersisa-sisa.

Hari pertama kami masih orientasi jadwal dan ada ceramah malam yang harus kita bikin resumenya. Hari kedua juga masih kelas, dan asli mataku bangun dan awas hanya untuk 30 menit selama 8 jam kelas.  Belajar KUHAP, KUHP, yang paling gaul ada “dosen” yang datang ke kelas kita untuk menjelaskan satu slide dan selesai. Beliau bilang, untuk kapasitas kami tidak perlu lah dalam-dalam, yang penting satu slide itu ngerti. Total dia benar-benar ngajar cuma 5 menit. Dua puluh lima menit sisanya dia buang untuk menunggu kami balik dari toilet dan berguyon mesum yang tidak kami tanggapi dengan baik. Coba kalau dia masuk ke kelas cowok, uh pasti riuh rendah tuh anak-anak cowok setelah dengar guyonan Bapak itu.

Nah hari-hari selanjutnya mainannya udah fisik semua. To name it, ada latihan PBB, bela diri, “pola pengasuhan”. Latihan PBB dilakukan selama jam belajar pagi selama 3 hari, terus tes. PBBnya standar lah, paling aneh kami diajari melintang kanan/kiri. Bela dirinya seru, kami diajari cara-cara untuk menangkis serangan atau menangkap orang cuma dengan salaman.

Yang berat tuh, “pola pengasuhan”. Hampir tiap sore ada “pola pengasuhan”. Aktivitasnya, kami jalan. Ya jalan. Ga lari. Pokoknya jalan. Masalahnya jalannya kalau ga panjang ya nanjak. Pertama kali pola pengasuhan, kami jalan ke sebuah komplek yang namanya Mega Indah. Letaknya di atas Pusdik Reskrim banget. Tapi yang namanya juga di atas, jalanannya oweee tanjakan hampir 90 derajat. Sialnya lagi, baru nanjak 100 m kami sudah ngos-ngosan dan bapaknya cuma bilang “Itu di depan bentar lagi landai…” Kami pun tetap tidak berhenti sampai di rest point yang dimaksud, di mana setelah itu jalannya menurun doang.

Mega Indah.. hush hush

Pokoknya kenangan pertama dengan Mega Indah itu benar-benar mempesona. Saking mempesonanya kami selalu merefer Mega Indah sebagai fobia. Tiap kali pola pengasuhan akan diadakan, kecemasan kami adalah kalau kami naik ke Mega Indah lagi. Ternyata ga sih, hari-hari selanjutnya rute kami cuma diperpanjang, masuk jalanan kampung, dan kalaupun ada tanjakan ga segila Mega Indah.

Horeee jalanan turun

Weekend pertama kami, malam Senin, di mana pada Minggu siangnya aktivitas kami cuma senam aerobik uuu uuu doang (disebut uuu uuu karena instruktur aerobiknya gemar mengangkat tangan, lalu melakukan gerakan seperti meremas di udara sambil berbunyi uuuu uuuuu), tiba-tiba ada acara live music. Jangan harap live music ala generasi kami. Ini mah udah song list nya cuma bisa Indonesian 80’s song, kebanyakan didominasi sama dangdut pula. Apalagi pas instrukturnya udah naik ke atas panggung, duilee lagunya kagak ada yang berteman sama telinga kami. Walhasil kami ikut joget-joget happy aja. Walaupun sempet juga sih lagu-lagu semodern Someone Like You sama Payphone kami nyanyikan, itu juga karena hamba Tuhan Ias yang megang keyboard. Kalau ga, wah dominasi dangdut deh.

Goyang kepalanyaaa

Kemesraan ini… janganlah cepat berlalu. Karena setelahnya ada PLB

Acara live music malam itu ditutup dengan lagu kemesraan. Nah saat itu berhembuslah gosip malamnya pasti bakal ada PLB (Panggilan Luar Biasa). Ini kayak udah jadi semacam tradisi samapta kali ya, di mana pesertanya akan dibangunkan secara tiba-tiba dan dilihat kesiap-siagaannya. Secara ya, seharian kami cuma sarapan, senam aerobik, terus ga ada kegiatan apa-apa selain makan siang dan makan malam plus live music. Teman-teman saling mengingatkan untuk tidur memakai seragam, tapi dasar aku bebal, ignore the sign, aku dan teman sekamar — Reta — tidur dengan baju biasa dan seragamku kuset agar cepat kupakai.

Tau-taunya pas lagi enak-enaknya tidur, DHUAAAAR DHUUUUARR DHUAAAAR berkali-kali. Aku sama Reta sama-sama bangun, melongo liat satu sama lain, dan langsung panik pakai seragam. Kondisi kamar kami saat itu gelap karena kami kalau tidur lampunya mati. Dan tidak ada sebersit pun niat kami untuk menyalakan lampu saking udah panik bersiap-siap dengan seragam. Kami langsung ngibrit ke lapangan, di sana anak-anak udah pada ambil posisi berdiri dengan satu kaki untuk cewek dan push up untuk cowok. Chaos, panik, ada aja yang datangnya telat (termasuk kami). Kasian yang sudah siap sejak awal…

Posisi PLB

Kami diberi arahan akan pergi ke Taman Safari. Woow aku udah seneng banget. Okelah kita dibangunin malem-malem gini tapi kan worth it kalau bisa sekalian safari malam. Kami pun mulai dimobilisasi dalam ikatan kelompok satu per satu. Ternyata eh ternyata, aku baru sadar kalau bajuku kebalik, hahahahha… Akhirnya kubetulin pas lagi mobilisasi pertama menuju lapangan hijau.

Dari lapangan hijau kami dimobilisasi kembali. Setiap keberangkatan diberi jeda waktu sampai 10 menit, dan berhubung aku kelompok 18 dari 20, walhasil kelompokku baru dimobilisasi jam 3.30. Kami diberi instruksi untuk jalan kaki mengikuti jalan. Sembari jalan aku terus berharap, “Oh mungkin bisnya diparkir di sana”. Sampai kami di pos ketiga, kami diberi tahu “Yak jadi kalian akan pergi ke Taman Safari menggunakan tambang.”

Saat itu aku berpikir, oh oke… jadi kita bakal flying fox ke Taman Safari? Wow keren… tapi masa iya bisa flying fox ke Taman Safari, secara jaraknya jauh gitu. Sembari berpikir demikian, aku melihat teman-teman sekelompokku masuk ke jalan setapak menggunakan tambang. Dalam hati aku berpikir, “Eits sebentar, aku kenal jalan setapak ini. Jalan ini kan yang mau ke kuburan…”

Ke “Taman Safari” menggunakan tambang

Bukan kuburannya yang kutakutin, tapi selama ini aku bodoh banget untuk percaya bahwa kami akan ke Taman Safari beneran. Sempet kepikiran pake flying fox pula… Anyway PLB itu berakhir sesaat setelah subuh dan jelas-jelas ga ke Taman Safari. Kuburan itu merupakan pos terakhir di mana kami harus mencari papan nama kelompok kami yang nancep di antara nisan-nisan. Serem sih kagak, cuma ga bisa ngeliat aja karena kami cuma diberi satu senter.

Minggu terakhir isinya ujian semua. Ujian PBB lah, ujian lari 12 menit, ujian kemampuan fisik (sit up, pull up, lari kayak angka 8 — lupa namanya apa). Sialnya pas lagi ujian fisik, urat di tumit kakiku sakit luar biasa. Itu gara-gara PLB, aku pakai sepatunya agak longgar jadi menggesek urat kaki yang dibelakang itu. Malam sebelum ujian fisik, kakiku diurut. Besoknya pas ujian fisik, langkah tegap maju pun aku ga sanggup. Kalau ga ikut ujian, katanya dapat nilai rendah. Ya udah aku ikut ujian lari sambil terseok-seok pincang.

Ujian lari 12 menit

Dua hari terakhir, ada ujian fisik terberat kami, yaitu cross country dan dinamika kelompok. Pola pengasuhan dimaksudkan untuk melatih kami menghadapi 2 event paling besar dan paling berat ini.

Cross country menilai ketahanan fisik individu selama long march, err… 30 km kalau ga salah, dan yang paling cepat sampai pos bakal dapat nilai paling tinggi. Cross country ini benar-benar seharian dari pagi sampai sore. Ketahanan fisik dan mental benar-benar diuji. Aku cuma bisa ngiri melihat ketahanan siswa seperti Ilham yang kemarin pull up nya rekor 20 kali (rata-rata cowok cuma bisa 1 kali) dan pas cross country konstan berlari. Sementara kakiku masih sakit jadi cuma bisa jalan pelan-pelan terus menghibur diri sambil nyanyi non stop. Eh tiba-tiba ada handy-talkie disodorin ke mukaku, ternyata salah satu instruktur sedari tadi membuat suaraku terus terdengar di seantero frekuensi Pusdik Reskrim sambil terkekeh-kekeh, “Ya itu barusan suara Laras.”

Yang paling heboh, tiba-tiba kami disuruh masuk ke sawah. Dan jumping jack saudara-saudara… Tapi aku sama Atid ga ngeliat, kami disuruh nunggu di bawah jangan sampai kelihatan teman-teman yang lain. Kami ga masuk sawah gara-gara masalah kaki. Malah Atid baru cidera kakinya gara-gara hampir ketabrak motor beberapa menit sebelumnya. Setelah kotor-kotor lumpur dari sawah, kami dicelup di sungai. Aku sempat ngelihat tokai ngambang dan pampers melayang. Tapi ya sudah, nikmatin aja… Apalagi sensasi pembalut-pembalut yang kami gunakan sebagai sumpelan dalam sepatu lars kami sudah menyerap begitu banyak lumpur dan air. Awww….

Celup-celup dulu…

Dan yang paling luar biasa, ternyata rute terakhir cross country kami adalah… tanjakan maut Mega Indah. Siswa Ilham aja tidak berhasil menjadi yang pertama mencapai  pos terakhir di Mega Indah. Siswa Ryvo sampai terkapar di tengah jalan (tapi kalau dia gara-gara minum kratingdaeng sih). Dasar kelakuan anak cowok, ngeliat temannya terkapar mereka malah mengelilingi Ryvo dan menyanyikan lagu Gugur Bunga. Di sisi lain, ternyata wanita pertama yang mencapai garis akhir adalah siswi Yuni, siswi yang biasanya “menetes” kalau lagi pola pengasuhan (termasuk aku, hauahaha). Tice langganan ambulans. Yang paling salut, Erik dengan kondisi kaki yang lebih parah daripada aku, masih mencoba berjalan walaupun paling belakang dan disupport sama para instruktur.

Kalau dinamika kelompok, kami bergerak dalam ikatan kelompok 9-10 orang, membawa beban 20 kilo, rutenya jauh lebih pendek (cuma 2 jam) tapi rutenya berat juga. Tanjakannya ada yang separah Mega Indah dan ada yang cuma jalan setapak curam menuruni tebing. Cuma karena dinamika kelompok ini acara terakhir banget, belum selesai lelah kami, kami harus membangun tenda di lapangan tembak Pusdik Reskrim dan mengikuti acara puncak yaitu api unggun.

Api unggun terakhir.. Kemesraan terakhir.. dan PLB terakhir

Sebenarnya sebelum acara api unggun, kami sempet Gangnam Style berkali-kali. Rupanya teriakan kami selama 2 minggu didengar, dan dikabulkan. Kami pun berGangnam Style sampai puas. Bahkan sampai ada battle Gangnam Style antar pleton cowok. Kayaknya para instruktur ngeliat kami sangat antusias sama Gangnam Style doang, soalnya pas dikasih lagu dangdut sama lagu korea lain ga ngefek…

Setelahnya ada semacam ESQ 1 jam gitu deh. Yang dibahas tuh apa aku juga udah lupa, aku cuma inget aku ketawa-ketawa sementara yang lain menundukkan kepala dan tak jarang menitikkan air mata – terus tiba-tiba nyanyi lagu Karena Cinta nya Joy Tobing sama lagu Gigi yang religius (haduh bukannya sombong tapi aku udah ga ngefek sama yang begituan, aku bersusah payah untuk membuat hidupku ga penuh air mata, kenapa aku harus ikutan sedih juga).

Udah gitu api unggun deh sebagai penutupan, dan eh.. ada lagu kemesraan. Ga pakai ba bi bu, setelah Kemesraan berakhir kami langsung disuruh masuk tenda. Saat itu sudah sekitar jam 12 an. Kelompok kami cuma sempat mendirikan dua tenda kecil sementara kami terdiri atas 5 cowok dan 4 cewek. Aku udah ga niat tidur gara-gara tempatnya ga kondusif (sial, masih ga bisa dibawa susah). Jadilah aku ngobrol-ngobrol sama anak-anak..

Eh tiba-tiba dari atas kemah ada ledakan, DHUAAR DHUAAAR sama sirene mengaung-ngaung. “KUMPUL DALAM WAKTU 5 MENIT!”

Aduh PLB lagi. Aku sih udah siap cuma tinggal bangun, tapi kasian sama yang udah tidur kayaknya masih antara mimpi dan kenyataan. Kejutannya masih belum selesai, kami dimobilisasi… ke… barak masing-masing di mana kami bisa menikmati tidur yang layak selama 3 jam sebelum mulai beraktivitas esok paginya. Heh.. hehehehehehe… yah lumayan deh daripada lu manyun kedinginan di tenda sono.

Besoknya, sarapan terasa begitu melegakan sekaligus menyedihkan. Ga terasa sudah 12 hari di Pusdik Reskrim. Hampir kayak rumah (duh untung hampir ya). Bis-bis sudah menunggu di luar, siap untuk mengantar kami kembali ke hutan urban Jakarta. Walaupun anak-anak suka sumbar, “Walaupun Jakarta macet, gua lebih suka Jakarta daripada disiksa di sini”, kalau aku sih sedih aja meninggalkan lingkungan yang begitu segar dengan gaya hidup yang sangat sehat (makan 4 sehat 5 sempurna udah gitu olahraga terus).

Bersama anak-anak Teknik Industri ITB (minus Kak Reza) dan sertifikat yang nilainya ajaib

Begitu gedung BI menampakkan diri, aku mendadak merasa baru sadar dari mimpi. Dua minggu di Mega Mendung terasa seperti mimpi yang kalau kuingat lagi begitu merindukan. Dalam 2 jam pertama di kos aku merasa jet lag; biasanya ada Reta, biasanya ada balkon di mana aku bisa langsung ngeliat cowok-cowok yang ngerumpi, biasanya lagi Pola Pengasuhan, biasanya rebutan mandi… Ah, pokoknya sedih deh. Ada benarnya juga satu lagu yang diajarkan ke pleton 2:

Pusdik Reskrim tak akan kulupa

Tempat kita berlatih bersama

Siang malam ku slalu ditempa

Tuk menjadi pegawai yang jaya

Tuk menjadi pegawai yang jaya*

*) suka diplesetin jadi “Tuk menjadi pegawai yang kaya”

7 thoughts on “Samapta PCPM & MLE Bank Indonesia 2012

  1. masduki says:

    Saya Masduki saat ini bertugas pada Dispenda Provinsi Jambi. Kebetulan kami beserta 9 orang berencana untuk mengikuti Diklat PPNS di Pusdik Reskrim Megamendung. Mohon informasi contak person petugas yg bisa dihubungi. Trims Masduki 085357720040

  2. masduki says:

    Mohon bantuannya segera ya Bapak/Ibu tuk menginformasikan ke HP saya. trims atas bantuannya

  3. hidayatullah says:

    kereeeeen

  4. hidayatullah says:

    mudah2an ada jalan dan rezekinya untuk merasakan romantisme megamendung ameeeen

  5. Hadya says:

    Wah luar biasa ya perjuangan teman teman dari BI, Salam kenal sebelumnya saya juga Diklat di Pusdik Reskrim Mega Mendung selama 2 Bulan untuk PPNS Penataan Ruang yang difasilitasi Kementerian PU, dan waktunya kemaren berbarengan juga dengan teman teman dari BI, walau hanya sempat bertegur sapa dengan beberapa orang sih🙂

    ya Tulisan ini membangkitkan kembali memory indah di Pusdik, Lapangan Tembak, Barak, Ruang makan Tribrata, Gedung Nakula Sadewa, Gedung Johan Bakulo, Gedung Gadik dan lain lain🙂

  6. Rudi says:

    mbak mau tanya, keperluan apa yg harus dibawa pada saat kegiatan samapta ini, misalnya harus bawa baju olahraga, sepatu kets atau apa? terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: