White lies

Kemarin habis dari nikahannya Awink, aku bela-belain tuh nulis. Karena sudah jam setengah satu malam dan masih belum selesai, aku tutup worpressnya dengan harapan doi sudah automatically save. Ternyata tidak.

Ya sudah, aku lupa apa yang mau kutulis kemarin malam.

Tapi pagi ini waktu bangun tiba-tiba perasaannya ga enak. Aku ga tau after effect kejadian kemarin malam atau karena mimpi tadi malam. Yang jelas sih keduanya berhubungan. Membuatku berpikir, do I really that mean to people around me with all my honesty? Aku sekarang udah ga bisa menyembunyikan perasaan, apapun. Aku ga tau sejak kapan (mungkin sejak aku lepas kontrol di DPSI, hahaha), aku udah ga punya topeng untuk menutupi ekspresi yang mungkin akan membuat orang lain tersinggung. Lidahku juga sudah tidak ada mengatakan yang tidak jujur – paling banter aku cuma diam atau senyum.

Dari yang paling sederhana aja… misal aku nanya dan orang itu memberikan jawaban. Pas lagi enak-enaknya ngejawab, mukaku tiba-tiba menyatakan ekspresi bingung atau tidak setuju. Si penjawab sadar perubahan mukaku dan dia memotong penjelasannya denga kata-kata yang sering kudengar akhir-akhir ini, “Kenapa, bingung?” atau “Ga setuju ya?”. Padahal mah terusin aja, kan penjelasannya belum lengkap. Mungkin kalau dia menjelaskan sampai akhir aku ga akan punya doubt. Walaupun sih ya aku akuin seringkali aku ga setuju karena punya pemikiran sendiri yang menurutku ga sopan kalau harus didiskusikan saat itu juga. Kenapa sih kenapaaa muka, ga bisa diajak kompromi?

Atau misalnya ada yang cerita, “Aduh mukaku lagi perawatan nih ga boleh kena sinar matahari”. Aku langsung timpali, “Kulitmu kan sudah hitam mau perawatan kayak gimana juga ga bakal bikin putih. Sayang kulitnya malah disuruh kerja keras gara-gara obat”

Oeee kepala, oeee lidah, ga bisa apa ya aku ngomong white lies?

Atau dalam hubunganku sama Yozzi. Kami berdua sudah “terlatih” untuk membicarakan secara jujur dan terbuka sampai hal yang paling sensitif dan pribadi. Ga jarang apa yang aku ceritakan membuat dia, “Ya kesel sih, tapi mau gimana lagi”. Eks-kolegaku dulu di DPSI juga sering menasehati, “Kamu mestinya jangan ngomong gitu.. Kebayang ga kalau kamu jadi dia, kamu bakal marah ga? Mendingan kamu ga usah cerita”. Well fortunately aku ga pernah berada di posisi dia, mungkin aku harus mengalami hal yang sama dulu baru aku sadar bahwa ga semuanya harus diceritain.

Nah itu, ada yang bilang white lies itu perlu untuk mengelola ekspektasi. Seorang suami aja diajarkan untuk selalu memuji istrinya apapun kondisinya. Institusi pun kadang-kadang berbohong kepada publik, atau tidak menceritakan yang sebenarnya supaya masyarakat tidak panik. For greater goodthey said.

Tapi apapun teorinya, apapun yang orang nasehati, nuraniku selalu berbisik, “Berkata jujurlah walaupun itu sakit”. Pasti bakal sakit kalau lagi ngomongin konteks individu, dan chaos dalam konteks massal. Dua-duanya kondisi yang ga diharapkan. Tapi aku percaya dengan tingkat pendidikan orang sekarang, people will learn from the truth. Mereka akan merasa sakit awalnya, tapi berangsur-angsur mereka akan get over it and start new. Berbeda kalau kita ga jujur, orang ga akan belajar dari kesalahan atau apa yang dapat membuat mereka sakit. Semuanya berjalan seperti biasa, tampak indah, tapi semu dan kita sedang membangun bom waktu.

Pernah aku berpikir, apa jadinya kalau aku adalah seorang Gubernur BI di mana aku harus memberikan pengumuman kepada publik terkait kondisi ekonomi negara yang sesungguhnya bagaikan telur di ujung tanduk. Gubernur yang benar mungkin akan memberikan pengumuman yang menenangkan, dia tidak akan menyinggung fakta yang ada, dia tidak berbohong, hanya saja tidak memberikan seluruh informasi yang ada sehingga semuanya tampak baik-baik saja dan masyarakat tidak perlu panik. Sementara aku akan jelas-jelas bilang fakta yang ada tapi tetap meminta masyarakat untuk berpikir jernih.

Kalau itu kejadian, mungkin aku akan jadi salah satu Gubernur BI yang masuk bui (lagi).

It’s the way the society works. Looking for calm and relax condition built upon thin glass of white lies. When you said the truth, the glass cracks and it threat every life above it. Why don’t we built the foundation using hard rocks and experience? It will be hard most of the times to built it and our lives will be always full of challenge. But those challenges will make our life foundation stronger.

But it’s the society. Not just you. Imagine all people are standing on a different foundation based on their strength. Some people are standing on a very thin glass. Some people are standing on a very hard rock. In one on one communication, if you know what type of foundation does the person you’re talking to, you can adjust the transparency of your speech. You might need white lies to people with glass foundation. But you will need strength to tell the truth to people with rock foundation. But if it’s a mass communication, what would you do?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: