Kontemplasi Pagi

Morning rays

Morning rays

Pagi ini mendung. Aku terbaring diam menatap langit-langit kosan dan mencoba menelaah rasa. Rasa-rasa sepi, penyesalan, sedih, gundah, dan rindu bercampur jadi satu. Satu per satu masa berkilat di benakku. Sudah lama aku tak begini. Biasanya aku bisa menahan semua emosi negatif yang muncul.

Malam sebelumnya aku memilah 11,4 GB foto untuk kubuat video. Mendengarkan lagu yang menguras emosi sampai puluhan kali. Sampai akhirnya lagu itu tak dapat menguras emosiku lagi. Sampai akhirnya foto yang kupilih tidak mewakili perasaan apapun.

Sore sebelumnya aku mengacuhkan pesan Ibu untuk tidak pulang dengan motor jika hujan. Pulang dari LPPI sudah gerimis, sudah gelap. Tapi kebrutalan kerasnya kepalaku membuatku menembus jalanan. Hanya dalam 200 m aku menembus Bundaran Senayan, aku bak sehabis direndam di kolam. Kalau bukan karena sayang notebook dan tas yang takutnya tidak tahan air, kubuka ponco yang selama ini kutolak untuk kupakai. Aku anggap bentuknya dan baunya yang sudah tidak jelas tidak memadai, tapi ternyata itu menyelamatkanku sampai ke kosan. Itu di luar kejadian motor dari sebelah kanan menyalip dan mencipratkan genangan air tepat ke wajahku.

Beberapa hari sebelumnya aku memutuskan untuk (lagi-lagi) tidak pulang ke Bandung akhir Minggu ini karena merasa ada pertemuan kelompok tugas. Aku sampai bertengkar dengan Yozzi lewat telepon di perpustakaan hanya karena ini. Sesal. Bodohnya diriku, aku bukan lagi anak kuliah. Kami adalah rekan kerja yang memiliki prioritas keluarga masing-masing di akhir pekan. Kemarin siang diputuskan bahwa kelompok kami bisa bekerja tanpa harus berkumpul. Seharusnya aku pulang.

Jadi pagi ini aku menulis hanya untuk menumpahkan segala perasaan negatif yang ada. Pagi-pagi sudah kalut. Pagi seharusnya ceria. Pagi seharusnya aku melihat wajah Ibu yang berseri karena hari ini dia bisa istirahat. Pagi seharusnya aku melihat wajah adik-adikku yang bahagia karena bisa jalan-jalan. Pagi seharusnya aku mencium bau rokok kretek dan kopi hitam Papaku. Sesuatu yang tak pernah kurasakan lagi sejak 14 tahun yang lalu.

Aku ingin pergi ke sudut dunia di mana hanya ada aku dan kehijauan. Jauh dari hingar bingar sosial. Juga jauh dari figur yang seharusnya kujauhi. Bayangan itu telah menutup lembaran hidupnya untukku. Tapi terkadang aku masih menoleh ke belakang, berharap bayangan itu masih ada.

Sebenarnya, mungkin aku hanya kesepian. Aku memiliki keluarga yang mencintai, pasangan yang mengayomi, dan teman yang mengamini, tapi aku menutup mata dan merasa bisa melakukan semuanya sendiri. Aku merasa aku butuh waktu sendiri. Tapi di ujung waktu sendiriku aku kembali merutuk matahari pagi. Kenapa sinarnya tidak membawa kebahagiaan untukku?

Pertanyaan. Pertanyaan. Dan tulisan ini pun semakin panjang. Sebuah kontemplasi tiada akhir. Seharusnya kugurat saja di atas pasir, agar aku bisa melihat semuanya terhapus dalam hitungan ombak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: