Mengikuti Arus Global Regulasi Perbankan

image

Krisis global yang berlangsung sejak 2007 membuat Basel Committee merevisi kerangka regulasi perbankan yang dikenal dengan Basel. Kini Basel III telah diperkenalkan dan bank sentral di seluruh dunia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kerangka tersebut, termasuk Indonesia. Basel III ini digembor-gemborkan oleh negara maju (yang kini terkena resesi) sebagai langkah preventif dari krisis selanjutnya. Apakah hal ini juga berlaku bagi Indonesia?

Basel III adalah pengembangan dari Basel Accord yang berisi rekomendasi pengaturan dan pengawasan perbankan yang dikeluarkan oleh Basel Committee on Banking Supervision (BCBS). Basel Accord yang pertama, atau yang lebih dikenal dengan Basel I, merupakan sebuah regulasi dalam penyediaan modal minimum bagi bank. Kerangka Basel bukanlah suatu kewajiban yang harus diikuti, akan tetapi regulator regional yang memiliki kekuatan penetapan dapat memaksa sebuah negara untuk mengimplementasikannya. Karena pada awalnya BCBS merupakan representasi dari negara yang tergabung dalam G-10 major economics, negara yang tergabung dalam grup ini biasanya mengimplementasikan kerangka Basel, termasuk Indonesia yang kini menjadi anggota G-20.

Indonesia, di bawah Bank Indonesia, telah menerapkan Basel II sejak tahun 2007. Belum selesai dengan Basel II, krisis global melanda. Basel Committee pun melakukan pengkayaan kembali terhadap kerangka regulasi tersebut sehingga dipublikasikanlah Basel III yang dinamakan International Regulatory Framework for Banks pada tahun 2011 yang diharapkan akan bisa selesai diimplementasikan di seluruh dunia pada awal tahun 2019.

Banyak kritik yang diajukan pada Basel II, salah satunya adalah Basel II sendiri merupakan penyebab dari krisis global 2007. Kerangka regulasi yang diterapkan dalam Basel II justru tidak mencerminkan prinsip kehati-hatian dan malah memperparah keadaan ekonomi suatu negara. Walaupun banyak yang berargumen bahwa krisis terjadi sebelum Basel II selesai diterapkan, sentimen negatif terhadap Basel III terus bergulir.

Pertama, justru karena Basel II belum selesai diterapkan, apa yang menjamin bahwa perubahan yang diperkenalkan di Basel III akan lebih baik dari yang sebelumnya? Basel III menyaratkan kewajiban penyediaan modal minimum yang sama besar tetapi dengan instrumen pemodalan yang lebih ketat. Belum lagi kewajiban penyediaan modal tambahan apabila Bank tersebut termasuk bank yang berdampak sistemik secara internasional, plus modal cadangan yang dimaksudkan menjadi bantal ekstra ketika terjadi krisis. Walaupun kondisi rata-rata modal Indonesia lebih dari dua kali lipat modal minimum yang ditentukan oleh Basel III, tetap saja penyesuaiannya merupakan pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi perbankan Indonesia.

Kedua, regulasi di Basel III masih menyisakan ruang diskresi bagi regulator nasional untuk menetapkan kebijakannya. Diskresi, yaitu kebebasan dalam menetapkan kebijakan yang tidak ditetapkan dalam Basel III, merupakan pedang bermata dua. Diskresi bisa berarti fleksibilitas sekaligus ancaman risiko lain yang disebabkan oleh perbedaan regulasi antar negara. Fleksibilitas bisa berarti hal yang baik karena regulator masing-masing negara dapat menerapkan apa yang menurut mereka cocok dan sesuai di negaranya. Tapi jika masing-masing negara memiliki standar yang berbeda-beda, dikhawatirkan akan terjadi arbitrase internasional alias “iri-irian” karena pelaku perbankan akan lari ke negara dengan regulasi yang lebih longgar.

Ketiga, ini juga merupakan pertanyaan besar bagi setiap negara yang berniat menerapkan Basel, apakah Basel III benar-benar dibutuhkan? Kerangka regulasi yang diterapkan di Basel III cenderung membahas aktivitas perbankan yang terlalu canggih seperti sekuritisasi, lindung nilai, dan trading book. Perbankan Indonesia, untungnya, tidak sepintar perbankan barat sehingga instrumennya cenderung primitif tetapi rendah risikonya. Mungkin ini yang namanya blessing in disguise, karena kondisi perbankan Indonesia yang seperti inilah yang membuat Indonesia aman dari krisis global sejak 2007.

Jangan-jangan Basel III ini juga memiliki hidden agenda dari negara tertentu untuk menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Negara berkembang kini menjadi penyelamat negara maju. Apakah negara maju tersebut tidak malu meminta-minta? Ibarat pelari yang sudah tertinggal dari lawan-lawannya, mereka melobi juri agar juri mau merubah aturan perlombaan.

Terlebih lagi, karena kita sendiri yang mengetahui kondisi perbankan kita, seharusnya kita tidak telan mentah-mentah seluruh kerangka regulasi Basel. Misalnya, aturan sekuritisasi yang baru mungkin tidak diperlukan bagi bank lokal karena mereka sejauh ini belum terlibat dalam instrumen tersebut. Ambil yang baik dan cocok bagi perbankan Indonesia dan lakukan penyesuaian. Tinggalkan yang tidak perlu tetapi tutuplah risiko dari apa pengaturan yang tidak kita ambil tersebut dengan kebijakan yang kuat dan komprehensif.

Ini adalah tulisan yang awalnya saya buat untuk training General Writing Skills di pendidikan klasikal PCPM 30. Berhubung makalah saya mengambil topik tentang Basel III, jadi saya ga kepikiran hal lain buat ditulis. Jadilah tulisan tersebut saya kembangkan lagi jadi sebuah post di blog ini. Semoga bermanfaat🙂

Tagged , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: