Hamil itu…

Everyone has their pregnancy story. Well, this is mine, of the first (I hope) pregnancy.

Tadinya ga mau hamil dulu untuk banyak alasan. Pertama, belum vaksin kanker serviks. Kedua, ga tau siapa yang nanti bakal bantu urus anak. Ketiga, yah bisa dibilang karir – atau masih ingin banyak main-main sama suami dan teman, kan ane masih 25.

Vaksin kanker serviks itu butuh rentang waktu 6 bulan dan selama itu kita disarankan tidak hamil. Kalau hamil ya gapapa sih ga ada pengaruhnya, tapi vaksinnya harus diulang lagi selama 6 bulan (3x suntik, di bulan nol, bulan ke-satu atau dua tergantung merek vaksin, dan bulan ke-enam). Makanya vaksin ini sebaiknya dilakukan sejak belum menikah, jadi ga ada takut hamil atau gimana. Kalau efektivitasnya sih aku pernah baca jurnal, tetap sama.

So setelah permintaanku untuk penggantian biaya vaksin disetujui kantor, aku divaksin di awal Juli dan dijadwalkan kembali di bulan September untuk vaksin kedua. Selama periode Juli dan Agustus itu aku banyak dikuliahi, diceramahi, dan ditakut-takuti mengenai bahayanya menunda anak, temasuk oleh suami. Walaupun Yozzi sebenarnya tidak mau menunda, tapi sepertinya dia menghormati keputusanku untuk vaksin terlebih dahulu. For my sake.

Sampai suatu sore, Yozzi pulang membawa berita. Temannya sudah delapan tahun menikah dan belum punya anak, dicurigai karena vaksin tersebut.

Tentunya aku tidak percaya. Jadi aku googling mengenai bahaya vaksin tersebut.

It turns out that… memang ada beberapa kasus di mana wanita bervaksin ini akhirnya tidak memiliki anak. Bahkan ada yang sampai mengajukan tuntutan kepada produsen vaksin. Juga sudah ada beberapa studi di mana vaksin ini memiliki efek samping yang “outweigh its benefit”, walaupun belum ada studi yang meyakinkan bahwa ada korelasi positif antara penggunaan vaksin dan ketidakmampuan untuk hamil. Yang jelas, karena efek samping yang banyak ini, pemerintah Jepang memutuskan untuk tidak memasukkannya ke dalam program vaksin yang wajib. Wanita Jepang yang ingin mendapatkan vaksin ini harus memiliki rekomendasi yang kuat dari dokter, jadi tidak bisa asal vaksin. Beda dengan di sini yang justru lagi “digalakkan”.

Memang, katanya karena ga berhasil di negara maju seperti Jepang, vaksin ini banyak diturunkan ke negara dunia ketiga, dan negara seperti Indonesia yang penetrasi vaksinnya masih rendah.

Sebenarnya kanker serviks juga dapat dicegah dengan safe sex, tidak berganti-ganti pasangan, serta menjaga kebersihan genital wanita. Anyhow, tulisan ini ga bermaksud untuk menjelek-jelekkan vaksin kanker serviks. Tapi dengan studi googling yang kulakukan tersebut, kuputuskan untuk tidak menunda kehamilan lagi. Kalau misalnya memang belum dikasih sama Allah, ya vaksinnya lanjut terus.

Jadi setelah itu aku sama Yozzi mulai giat deh berhubungan. Hahahahaha…

Sempet test pack, tapi negatif. Kemudian muncul flek. Kukira mau menstruasi, karena sudah tanggalnya. Eh ternyata munculnya hanya sekali itu (padahal langsung ga solat, huhu). Jadi seminggu kemudian, pas sekali di jadwal kunjungan vaksin, aku ke dokter dan jawaban yang kudapat adalah aku hamil. Dari hari terakhir menstruasi, diperkirakan umur babynya 5 minggu. Flek yang kualami, ternyata memang salah satu tanda kehamilan di mana ovum yang sudah dibuahi “menggerus” dinding rahim supaya bisa menempel dengan kuat. Ukuran janinnya sendiri masih sangat kecil sampai-sampai harus USG dalam dan diyakinkan dengan tes hormon. Test pack yang digunakan pun walaupun sudah lebih kuat dari Sensitif sejuta umat itu, belum tentu bisa mendeteksi perubahan hormon sehingga kemungkinan harus tes darah juga. Tapi ternyata dengan test pack tersebut sudah langsung bisa mendeteksi kehamilan, jadi ga perlu tes darah lagi untuk mengonfirmasi hasil USG dalam tersebut.

Wow, bahkan aku sendiri tidak menyangka akan sebegitu bahagianya mendapat kabar demikian. I know, itu tanggung jawab baru. Tapi gimana yaaaaa, rasanya bahagia saja sampai ga bisa disembunyikan dari teman kantor. Yozzi juga senang banget. Malah Ibuku yang pas kutelepon malah reaksinya kebalik. Dia concern sama siapa yang ngurus anak nanti dan concern dengan karirku. Makanya pas awal-awal hamil, Ibuku belum bisa menerima dan bisa dibilang aku jadinya berantem terus sama beliau (hehe dosaaa.. jangan diikutin ya)

Tapi alhamdulillah, bayi ini rasanya berkembang dengan baik dan ga macam-macam. Bisa dibilang aku hampir ga pernah mual dan muntah. Kadang mual sih, tapi sangat-sangat tolerable. Ngidam juga ga aneh-aneh. Yaaa paling aneh adalah aku pengen banget Indomie warung Abang Adek di Tomang yang pedes itu, padahal sebelum hamil Yozzi suka ngajak ke sana aku suka merasa “apa enaknya sih ini Indomie”. Lalu aku yang biasanya alergi sama udang dan emang ga suka, jadi kepengen dan kuhiraukan gatal-gatalnya. Aku juga jadi nyari buah, padahal biasanya ga. Anggur yang termasuk buah paling kubenci selama aku hidup jadi teman makan yang lumayan menghibur. Pernah sekali kebelet Pepper Lunch, tapi itu mah mungkin karena akunya aja doyan haha…

Juga jadi suka yang manis-manis. Sebelumnya, selain air putih is a big NO. Sekarang abis makan kudu dikomplemen sama yang manis, mau coke, teh manis, orange juice, susu coklat, dan yang paling bahaya adalah I always crave for CAKE! Rasanya emang harus ada dessert berupa cake lembut yang manis dan menentramkan hati.

Then, karena Yozzi sayang banget kali ya ama bayinya. Dia menyetujui rencana untuk pindah mendekati kantorku supaya aku ga perlu naik commuter line tiap hari. So segera setelah mengetahui kehamilanku, setiap weekend kami tidur di sebuah kos-kosan daerah Kuningan selama dua bulan, lalu ke apartemen di daerah Karet sampai aku cuti hamil. Oke, aku ga perlu naik commuter line. Tapi aku juga ga dibolehin naik angkutan umum. Jadilah aku tiap hari nyetir mobil ke kantor. Manual.

Memang jadi ibu hamil banyak perjuangannya. Untuk ukuran aku yang sepertinya udah dikasih fasilitas sana-sini, masih ada aja kejadian yang bikin Yozzi was-was. Tepat sehari sebelum pindah kosan, aku hampir terperosok ke celah antara kereta CL dan platform, saking padatnya orang dorong-dorongan untuk masuk dan keluar kereta. Untung aku bersama temanku yang sigap menangkap tanganku jadi aku tidak terbentur apa-apa.

Banyak orang juga yang mengkhawatirkan aku masih menyetir manual sampai sekarang (37 minggu). Istrinya temanku ada yang pendarahan gara-gara nyetir manual, 5 menit doang dan tanpa macet. Tapi aku dan bayiku alhamdulillah ga pernah kenapa-kenapa sampai sekarang, selain jarak antara perut dan setir yang cuma tinggal 2 cm, haha… Durasi nyetirku memang dibatasi, paling top 1 jam deh gara-gara macet. Kalau lebih dari itu, harus disetirin Yozzi. Tapi kadang aku suka merasa mampu, pas pulang ke rumah pernah juga nyetir 2,5 jam sendirian. Terkadang memang ngeri sih ketika harus ngerem mendadak, atau ada suatu kejadian pas nyetir yang membuat kita keringat dingin karena hampir nabrak, stress gara-gara macet… The baby can feel it, I hope she’s fine along the way.

Dan yang paling epic adalah, menjelang cuti hamil aku sempat jatuh tersandung kabel extension di ruang rapat. ku jatuh dengan posisi perut menghadap lantai, yang untungnya tidak jadi karena kutahan dengan tangan dan lutut lalu berbalik sehingga jatuhnya telentang. Langsung panik dan nangis. Temen kantor juga. Dibawalah ke poli kantor dengan kursi roda (lebay) dan dokter kantor (yang kebetulan adalah pengganti dokter biasanya, dan juga itu adalah praktek pertamanya sebagai obgyn) heboh karena katanya aku kontraksi. Disuruh bedrest 3 hari ga boleh bangun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi. Karena ga percaya dan katanya masih kontraksi, dibawalah aku dengan ambulans ke RS Pondok Indah (biasa konsultasi ke sini, selain ke dokter kantor). Kurang lebay apa ya coba… Di RSPI pun ternyata aku bukan pasien gawat darurat, masih antri seperti biasanya ke obgynnya.

“Kena perut ga jatuhnya?” kata dokter.

“Ga sih dok, ketahan sama tangan dan lutut. Cuma kata dokter kantor, ini kontraksi aja,”

Dokter periksa. Selama jatuhnya tidak kena perut langsung, tidak menyebabkan ari-ari bayinya putus, dan tanda vitalnya baik, tidak apa-apa katanya. Kandungan kita itu ternyata kuat menahan impak. So aku cuma perlu istirahat sehari dan minum obat pengurang kontraksi.

Memang, semakin besar kandungan, semakin besar potensi ibu untuk jatuh karena titik berat yang bergeser. Plus kondisi fisik lainnya seperti sakit kepala, pusing, tekanan darah rendah… So ketika jatuh, don’t be panic because the baby can feel it too, jika perlu periksa ke dokter untuk memastikan tidak ada perubahan pada kondisi janin.

Dalam persiapan kelahiran, aku dan Yozzi ikut kelas edukasi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Diracun sama Mbak Anggi untuk ikut, and it turns out to be a good investment. Walaupun aku udah tahu beberapa ilmu IMD dan asi eksklusif dari teman-teman kantor dan dari majalah, masih banyak yang aku belum tau dan kelas ini sangat membantu kepercayan diri dalam “aku pasti bisa menyusui eksklusif”. Plus Yozzi yang ga keberatan untuk ikut juga jadi nilai tambah utama sebagai garda terdepan asi eksklusif. Sekarang dia ga terjebak mitos-mitos atau bad practice lagi yang dia liat dari teman-temannya.

Aku juga sempet mengalami krisis kepercayaan diri. Hingga saat ini aku sudah naik 22 kg. Belum lagi stretchmark (kasusku, di perut sih ga banyak.. tapi paha sampai betis korban semua). Leher dan ketiak hitam. Jerawat, ga muncul di muka seperti biasa sih, tapi di leher dan di punggung. Benar-benar bikin down. Sampai suatu hari ada rekan kantor juga bilang, “Eee kalau kamu ga pede, nanti anaknya juga ga pede.”

Berhubung aku ingin anakku juga punya rasa percaya diri yang cukup, mulai saat itu aku menerima badanku apa adanya. Apalagi berat badanku ini tidak begitu berkorelasi dengan BB bayi, hahaha… jadi sekarang mah makan ga dibatasi, cuma dilihat yang penting lengkap gizinya buat bayi. Kacau sih, tapi yang penting aku bahagia😛

Oiya, kalau diperhatiin, BB aku naik gila-gilaan cuma gara-gara satu hal: karbohidrat. BBku melonjak parah waktu di kosan, masa-masa di mana aku ga bisa masak dan makanan yang tersedia cuma fast food atau nasi goreng gerobak. Weekend juga berkontribusi, karena di saat itulah aku dan Yozzi selalu makan di luar dan biasanya lebih banyak karbohidratnya dibanding sayuran atau buah. Begitu pindah ke apartemen dan rumah dan aku rutin masak, BB cenderung ga nambah.

Yah begitulah kisah kehamilanku… Tinggal menghitung hari.

Semoga kamu lahir dengan sehat, lengkap, dan sempurna ya nak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: