Contemplating on Career

Jadi ketawa pas dulu tahun 2008 (wowww sudah 7 tahun yang lalu) aku pernah nulis soal “Wasiat” karir dari Papa.

Supaya aku bekerja di bidang perekonomian.

Aku aja udah lupa sih sama hal itu.

Ternyata 7 tahun kemudian aku kerja di bank sentral (oke ini bidang ekonomi kan?) tapi di bagian sistem informasi (tetap seperti apa yang kuinginkan).

Sebagai seorang Teknik Industri yang bisa masuk ke mana aja (katanya), sebenarnya aku bisa masuk ke core businessnya bank sentral sebagai analis ekonomi atau pembuat kebijakan. Yah pokoknya yang benar-benar bekerja dengan data-data ekonomi deh. Nyatanya aku bekerja untuk memastikan operasional data-data mereka berjalan dengan sistem informasi. Hahaha… Apa daya, aku keterima jadi swakelola di SI duluan baru keterima PCPM. Saat penempatan pun, kesempatan untuk berkarir di bidang ekonomi akhirnya ludes karena aku dipanggil ke bagian SI.

Gakpapa sih. Toh aku ga pernah suka banget sama teori ekonomi. Dulu pernah niat banget belajar tapi ujungnya sama: teori yang aku baca dan pelajari sampai merutul pun aku tetap ga paham jalannya, saking terlalu banyak variabel yang berinteraksi (makanya jangan heran pemerintah dengan pengamat ekonomi selalu beda pendapat, variabel fokusnya beda sih). Lebih baik sama yang pasti-pasti aja, yang bisa disistemkan. Makanya aku lebih seneng kalau disuruh jadi pengawas bank atau ngurusin sistem pembayaran, dibandingin ngomong ngalor ngidul soal kenapa dolar naik turun menyimpang dan inflasi mau berapa.

Eeee ternyata pengawasan bank pindah ke otoritas lain. Dan aku terjebak dalam dunia XBRL serta proyek apapun yang berkaitan dengannya, sampai sekarang aku sudah 4 tahun di Bank Indonesia. Mending kalau proyek-proyekku maju ya… Ini ga. Satu-satunya yang jalan cuma pelaporan bank syariah, yang lainnya pending. Dipolitisir terus. Cape… Sedih. Mau maju ke kancah internasional juga dihalangi (e tapi sekarang agak lumayan bergerak sih, tapi sayang pas aku lagi cuti jadi dihandlenya sama rekan lain).

Susan, Susan, Susan, kalau gede, mau jadi apa?

Mau jadi pegawai negeri, ngapain ya tergantung penempatan.

Damn I hate the statement, but sadly it happens to my life. Hidup kita, mental kita, tergantung dari kebijakan orang SDM yang menilai kita “kira-kira” cocok di mana. Untuk jalur kepegawaianku, kami dianggap kertas putih yang menunggu ditulis dan dibentuk. There are sets of psychological and psychiatric test to ensure that the white paper is easy to form. And I fall onto that scheme. No.. not fall… But ensuring myself that I am easy to form, karena di saat test, aku belajar untuk menjawab ala pegawai.

Nulis ginian aja, contemplating… Nyesel… Padahal dulu pas keterima, seneng juga kan? Dasar manusia ga pernah puas.

Yep… Soalnya kita selalu punya pilihan untuk melakukan hal yang kita suka, tapi belum tentu menjamin rezekinya dapat dari sana. Banyak banget kejadian orang curhat di 9Gag, bikin post bagus mengenai “Do what you like as your Job” or “My Job is My Hobby” atau ada yang pernah curhat mengenai susahnya cari kerja sesuai jurusan dia. Yang ada malah dimaki. Ngapain juga lo ngambil jurusan aneh-aneh kalau lo tau itu ga bakal ngejamin kehidupan lo? Gitu kasarnya…

Ya sudah, untuk sekarang disukuri saja. Kalau punya energi lebih, baru mikir mau melakukan loncatan apa. Yang penting bersyukur.. bersyukur…

One thought on “Contemplating on Career

  1. nina says:

    Mba aku bisa minta emailnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: