The 1st Indonesia XBRL Conference

Tanggal 19-20 Agustus yang lalu, akhirnya berhasil juga IDX dan OJK beserta XBRL International (XII) menyelenggarakan konferensi XBRL pertama di Indonesia. BI mana? Hadir. Cuma sebagai pembicara dan undangan. Karena atas inisiatif sendiri (pada akhirnya) tidak menjadi panitia.

Acara ini diadakan karena sedang banyak “momentum”. Pertama, pelaporan emiten berbasis XBRL milik IDX yang sudah live walaupun masih percobaan. Kedua, OJK juga mau menyusul inisiatif XBRL (semoga) tahun ini. Ketiga (meski ragu ini masih aktual) pelaporan bank syariah sebagai inisiatif XBRL pertama di Indonesia yang sudah berjalan sejak 2013 lalu. Keempat, sudah seharusnya yurisdiksi XBRL Indonesia dibangun.

Penting sekali untuk punya yurisdiksi. Semua cita-cita regulator dan gimmicks dari XBRL International yang menyatakan bahwa dengan XBRL, akan terjadi efisiensi dalam pelaporan oleh entitas kepada regulator, bisa lebih mudah terwujud dengan kehadiran XBRL yurisdiksi Indonesia. Tanpa yurisdiksi, saya minder cita-cita mulia efisiensi pelaporan bisa tercapai. Setiap regulator pasti akan kembali pada egonya masing-masing. Yurisdiksi memberikan greater cause pada regulator-regulator yang berkepentingan dan membutuhkan laporan dari entitasnya.

Sayang… sudah susah payah diadakan di hotel mewah, mengundang media, akademisi, penggiat IT, perusahaan emiten IDX, perbankan, dan petinggi XBRL International dan yurisdiksi Asia,  rasanya yurisdiksi Indonesia itu masih sebatas angan-angan. Kami para praktisi XBRL cuma bisa menghibur diri, toh ini konferensi pertama, toh ini baru pertama kalinya regulator kakap itu ketemu, cukup lah “The 1st” ini sebagai media untuk membangun awareness XBRL di Indonesia.

Jadi si “The 1st” ini pada akhirnya diisi oleh pembicara dari BI, OJK, IDX, Akademisi, dan XBRL Asia untuk berbagi cerita mengenai pengalamannya masing-masing dengan XBRL. Tak ada kesimpulan. Tak ada gong. Tak ada batu loncatan untuk mencapai  “greater cause” untuk (mimpinya) national financial reporting. Entah perjalanan masih panjang, atau sudah buntu. Apa ini masih jadi pekerjaan rumah? Atau siswanya sudah dianggap tidak lulus. Yang jelas pelaporan nasional bukan mukjizat yang tiba-tiba bisa turun mandatnya dari Tuhan. Ya harus regulator-regulator itu yang bergerak. Ya ga?

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: