Cerita Commuter Line

 

Di KRL stasiun Pasar Minggu, aku turun sesaat untuk mempersilahkan orang keluar dari kereta karena posisiku nempel pintu. Seperti biasa ya, keluar 2 orang yang naik lebih banyak, termasuk seorang mbak-mbak. Karena saya panik sudah telat (hari ini upacara), saya dorong tuh supaya saya bisa ngepas masuk kereta. Si mbak ini posisinya ga mau masuk ke dalam, tangannya malah ngotot pegangan sama handle di tepi pintu kereta. Terus seperti biasa deh, drama, “hssss.. hssss.. hssss” kayak kesiksa banget. Dih ga pernah naik krl apa?

“Jangan ditahan dong,” saya berbisik sendiri tapi kayaknya sih kedengeran. Saya dorong kan supaya dia lebih masuk ke dalam. “Hsss.. hsss.. ” lanjut si mbak itu.

Pintu pun tertutup. Lalu dia bilang, “Ini (yang duduk) hamil semua ya?”

Astagfirullah.. ternyata mbaknya lagi hamil. Hiks..

 

Saya lebih suka di gerbong umum, karena gerbong wanita lebih kejam daripada ibukota.

“Tahan dong udah ga muat nihh… Itu yang di pintu suruh tahan (supaya orang ga masuk lagi ke dalam)” Padahal di dalam masih bisa bergeser.

“Itu ada lagi keretanya di belakang!” Aduh Ibu, emangnya Ibu aja yang pengen pulang cepet? Itu sih yang saya paling tidak suka, sok-sok nahan orang untuk masuk ke dalam kereta. Kalau di gerbong umum, sampai dempet-dempetan kaki melayang tangan di mana, selama masih bisa muat “dorong terus baaang”

“Aduh aduh aduh….” atau dikit-dikit ngeluarin “hssssss..” macam kesiksa padahal cuma kedorong sama gaya kereta. Terus sok-sokan marah, “aduh mbak jangan dorong-dorong dong..”

Pernah saya menyaksikan drama “berasa kedorong” antara dua wanita. Yang berasa kedorong mbak cantik, sampai mengelurkan kata-kata kasar dan menuduh mbak satunya “ngejambak” rambutnya. Karena kesal, dia turun di Tebet.

Mbak satunya anggun berjilbab. Ketika si mbak cantik sudah turun, baru deh dia buka suara “Iya sih emang saya Tarik rambutnya, abis saya kesal.”

Itu sih ga seberapa yaa.. ini yang sering diceritain teman sesame roker, ada Ibu-ibu yang menolak memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil, simply karena “Bu, kalau mau duduk ya kayak saya dong balik dulu ke stasiun Bogor (stasiun paling hulu)”

atau yang pernah saya saksikan, “Mbak di sana aja di kursi prioritas..” padahal gerak aja ke kursi prioritas susah sulit karena banyak orang, ini ibu hamil mau disuruh dempet-dempetan demi duduk doang?

Oh iya, jangan lupa juga, mayoritas Ibu-ibu dan wanita tulen pada umumnya DOYAN NGATUR. “Mbak hadap sini”, “Mbak jangan gini”, “Mbak itu nanti yang mau keluar kehalang jadi mbak posisinya gini”. Saya paling sering kena tegur soal posisi.

 

 

Tapi bukan berarti saya aman di gerbong umum, setidaknya sampai saat ini saya sudah dilecehkan 6 kali oleh laki-laki. Dari yang saya merasa ga yakin apakah lelaki di belakang saya goyang karena kereta, sampai yang jelas banget karena suara nafasnya memburu. Pernah juga dalam satu perjalanan krl Tanjung Barat – Gondangdia, saya “digituin” sama 3 laki-laki yan berbeda. GILA! Mungkin karena waktu itu kereta sedang gangguan jadi si otong pada stress.

 

Satu pengalaman yang juga tak terlupakan adalah, ASI saya sampai keluar karena gencetan di kereta. Posisi saya terjepit antara palang kursi dan orang yang luar biasa banyaknya saat itu. Sehingga ketika kereta bergoyang, orang di dalamnya ikut bergoyang, badan saya terhimpit dan terdorong tertahan dengan palang kursi tersebut menciptakan gerakan memerah ASI. Keluar deh, padahal ASI saya sedang sereeeet banget.

 

Tapi itu semua juga tidak menjamin I’m not behaving like a douchebag. Saya suka main hp (dan ini cenderung tidak disukai karena seperti tidak tanggap dengan keadaan). Mungkin tas saya (yang seringkali jarang saya naikkan ke atas bagasi) mengganggu orang di depan saya. Mungkin berat badan saya membuat orang lain merasa terdorong-dorong dan “disenderin”. Well I’m trying to behave well too, but sometimes too much people inside can bring negative thoughts over coincidental act.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged , , , , ,

One thought on “Cerita Commuter Line

  1. nadiafriza says:

    Serem ya di gerbong cowok sampe dilecehkan begitu😦 Aku lebih pilih gerbong wanita, walopun udah tau wanita sesama wanita bisa lebih kejam.. lebih berasa aman soalnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: