Threadneedles Autograph Collection – Hotel Review

Ini review Bahasa Indonesia aja yah.. kalau Bahasa inggris keliatan katronya nanti wakakaka..

Mei 2016 saya berkesempatan menginap di hotel ini selama 4 malam saya di London. Super deket sama tempat benchmark saya (Bank of England) yang ada di jalan yang sama. Super deket sama Bank tube station yang pernah dibom dan The Royal Exchange, di mana high street shopnya macam L’Occitane dan Jo Malone yang lagi ngehits abis itu, dilewatin tiap hari ketika saya pergi pulang ke BoE. Gimana gak ngilerrr…

Deket sama Starbucks, Pret a Manger, Tesco Express. Jadi kalau mau ngopi-ngopi or cari makanan, agak aman. Masalahnya ini karena business district jadi ya makanannya kalau ga mahal banget ya langsung Tesco *Wakaka.. Sedih sih sebenarnya pas dibandingin sama hotel kolega lain yang “lebih modern” Andaz Hotel di Liverpool Street, lingkungannya lebih rameee, apa aja ada (money changer, shoe repair, dsb), makanan juga banyak.

Threadneedles hotel ini hotel tua. Agak spooky gimana gitu. Sarapannya ga sempat cobain karena orang kantor lupa bilang untuk booking kamar +sarapan (dan akhirnya hampir tiap pagi numpang makan di Andaz Hotel).

Terus yah.. saya curiga kamarku kamar sisa. Karena memang pas booking cuma tinggal sisa 2 kamar. Kamarku yang standar n kamar yang agak gedean (saya ngalah, kasih kamar yang agak gedean buat kolega yang bawa istri). Nah dari kamar yang standar inipun,  kamarku lebih kecil lagi. Kelihatan banget posisinya mojok di bawah atap apa tangga gitu, soalnya plafonnya dan bentuk kamarnya diagonal, masuknya juga lewat lift belakang (hiks).

Ini hotel katanya sih bintang lima… yah bener sih. Service ga ada yang ngecewain, kecuali ya itu, kamar sisa..

Anyway, ini hotel emang cocoknya buat business. Jadi ga ada seneng2nya, apalagi saya waktu itu kesini sendirian.. antara seram dan kesepian hahahaha..

Threadneedles hotel lobby.jpg

photo from Threadneedles Autograph Collection

Tagged , , ,

Cerita Commuter Line

 

Di KRL stasiun Pasar Minggu, aku turun sesaat untuk mempersilahkan orang keluar dari kereta karena posisiku nempel pintu. Seperti biasa ya, keluar 2 orang yang naik lebih banyak, termasuk seorang mbak-mbak. Karena saya panik sudah telat (hari ini upacara), saya dorong tuh supaya saya bisa ngepas masuk kereta. Si mbak ini posisinya ga mau masuk ke dalam, tangannya malah ngotot pegangan sama handle di tepi pintu kereta. Terus seperti biasa deh, drama, “hssss.. hssss.. hssss” kayak kesiksa banget. Dih ga pernah naik krl apa?

“Jangan ditahan dong,” saya berbisik sendiri tapi kayaknya sih kedengeran. Saya dorong kan supaya dia lebih masuk ke dalam. “Hsss.. hsss.. ” lanjut si mbak itu.

Pintu pun tertutup. Lalu dia bilang, “Ini (yang duduk) hamil semua ya?”

Astagfirullah.. ternyata mbaknya lagi hamil. Hiks..

 

Saya lebih suka di gerbong umum, karena gerbong wanita lebih kejam daripada ibukota.

“Tahan dong udah ga muat nihh… Itu yang di pintu suruh tahan (supaya orang ga masuk lagi ke dalam)” Padahal di dalam masih bisa bergeser.

“Itu ada lagi keretanya di belakang!” Aduh Ibu, emangnya Ibu aja yang pengen pulang cepet? Itu sih yang saya paling tidak suka, sok-sok nahan orang untuk masuk ke dalam kereta. Kalau di gerbong umum, sampai dempet-dempetan kaki melayang tangan di mana, selama masih bisa muat “dorong terus baaang”

“Aduh aduh aduh….” atau dikit-dikit ngeluarin “hssssss..” macam kesiksa padahal cuma kedorong sama gaya kereta. Terus sok-sokan marah, “aduh mbak jangan dorong-dorong dong..”

Pernah saya menyaksikan drama “berasa kedorong” antara dua wanita. Yang berasa kedorong mbak cantik, sampai mengelurkan kata-kata kasar dan menuduh mbak satunya “ngejambak” rambutnya. Karena kesal, dia turun di Tebet.

Mbak satunya anggun berjilbab. Ketika si mbak cantik sudah turun, baru deh dia buka suara “Iya sih emang saya Tarik rambutnya, abis saya kesal.”

Itu sih ga seberapa yaa.. ini yang sering diceritain teman sesame roker, ada Ibu-ibu yang menolak memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil, simply karena “Bu, kalau mau duduk ya kayak saya dong balik dulu ke stasiun Bogor (stasiun paling hulu)”

atau yang pernah saya saksikan, “Mbak di sana aja di kursi prioritas..” padahal gerak aja ke kursi prioritas susah sulit karena banyak orang, ini ibu hamil mau disuruh dempet-dempetan demi duduk doang?

Oh iya, jangan lupa juga, mayoritas Ibu-ibu dan wanita tulen pada umumnya DOYAN NGATUR. “Mbak hadap sini”, “Mbak jangan gini”, “Mbak itu nanti yang mau keluar kehalang jadi mbak posisinya gini”. Saya paling sering kena tegur soal posisi.

 

 

Tapi bukan berarti saya aman di gerbong umum, setidaknya sampai saat ini saya sudah dilecehkan 6 kali oleh laki-laki. Dari yang saya merasa ga yakin apakah lelaki di belakang saya goyang karena kereta, sampai yang jelas banget karena suara nafasnya memburu. Pernah juga dalam satu perjalanan krl Tanjung Barat – Gondangdia, saya “digituin” sama 3 laki-laki yan berbeda. GILA! Mungkin karena waktu itu kereta sedang gangguan jadi si otong pada stress.

 

Satu pengalaman yang juga tak terlupakan adalah, ASI saya sampai keluar karena gencetan di kereta. Posisi saya terjepit antara palang kursi dan orang yang luar biasa banyaknya saat itu. Sehingga ketika kereta bergoyang, orang di dalamnya ikut bergoyang, badan saya terhimpit dan terdorong tertahan dengan palang kursi tersebut menciptakan gerakan memerah ASI. Keluar deh, padahal ASI saya sedang sereeeet banget.

 

Tapi itu semua juga tidak menjamin I’m not behaving like a douchebag. Saya suka main hp (dan ini cenderung tidak disukai karena seperti tidak tanggap dengan keadaan). Mungkin tas saya (yang seringkali jarang saya naikkan ke atas bagasi) mengganggu orang di depan saya. Mungkin berat badan saya membuat orang lain merasa terdorong-dorong dan “disenderin”. Well I’m trying to behave well too, but sometimes too much people inside can bring negative thoughts over coincidental act.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged , , , , ,

About That Hitch

Yay. Me time. In this particular me time, I turned on the TV. Search for good movies and there’s Hitch – a 2005 drama comedy movie starred by Will Smith and Eva Mendes.

I’ve watched this movie quite a few times. But I don’t know why that this time, I watched it in full detail. About how great the acting was – it’s so natural. Anyway, I’m not a movie critic so my judgement about Will Smith and Eva Mendes act is totally subjective. It’s just fun to see small gestures Sara gave to Hitch when he (tried to) confess…

And so many Hitch expressions.

He reminds me of someone.

END.

*

Why do I bother to write this? Consider this as a stretch. It’s so hard for me to find time to write (despite many memos I’ve written in the office). Today, I went to a talk show in my office. The guests are my office employee who had written book(s), one of them even paint regularly and fund his social activities through his paintings. The only question in my mind (and my coworker’s), is how do they manage their time to do office job and write (and paint and do social activities)?

He just answered “work life balance”. But what do I got from his explanation, to do more, you have to sacrifice more. He painted at 2 AM if he got the idea and he had to do it that time. It means less sleep time, right?

So here I am. Writes. I’d like to do this more often. Maybe starts with something small. Like this piece😛

*Hitch movie poster taken from wikipedia

Fitur vs Fungsi, Bagaimana Memilih Stroller yang Sesuai Kebutuhan?

Horee akhirnya (mama) Kiyo punya stroller baru. Mereknya Mamas Papas Armadillo Flip. Apa itu Mamas Papas aja baru kudengar hari ini pas ditunjukin sama yang jual. Jadi bagaimana cerita pilih-pilih strollernya?

Berawal dari sejak Hamil 7 bulan aku masih galau pilih stroller. Pengennya yang ringan, tapi kuat. Fully featured, tapi murah. Buat newborn bisa, tapi bisa sampai gede juga. Yaa ga bakal dapat itu mah yah haha..  Akhirnya aku dipinjemin stroller Graco Mosaic lengkap dengan Car Seat 0 – 6 bulan. Karena temen kantorku bilang, itu car seat cuma bisa dipake sampai 6 bulan jadi pake aja dulu sambil milih-milih stroller idaman.

Karena tiap fitur pasti ada plus minusnya….

+ Ringan

  • Cenderung tidak stabil
  • tidak bisa ngegantung belanjaan
  • cuma bisa dipake di jalan mulus dan datar

+ One hand fold

  • ukuran lipat cenderung besar (biasanya masih mempertahankan ukuran lebar)

+ Lega

  • cenderung berat
  • ukuran lipat cenderung besar

+ Dari newborn

  • tidak reclined 180 derajat, biasanya 170 derajat

+ Reversible

  • kalau handle yang dibalik manuvernya ga oke (karena roda depan yang bisa muter posisinya jadi di belakang)
  • kalau kursi yang dibalik ribet amat anaknya mesti diangkat-angkat dulu

Semuanya bilang Aprica adalah yang paling ringan. Jadi ketika salah satu ol shop yang juga memiliki offline shop di Muara Karang mencantumkan APRICA KAROON diskon jadi 3 JUTA, kubujuk-bujuklah Papa Kiyo untuk beli stroller sendiri. So jauh-jauhlah kita pergi dari ujung Jakarta Selatan paling selatan ke ujung Jakarta Utara paling utara (oot: wow gilak Muara Karang – Pluit itu warbiyasak ya panasnya) supaya bisa lihat langsung barangnya karena masih galau plus minus itu.

Wah untung koko pemilik tokonya baik dan dengan sabar menjelaskan panjang lebar, ambil keluar – masuk display stroller, dan bolak-balik mendemokan setiap fitur stroller.

Setelah banding-banding tiap fitur, mulailah tercerahkan rumus untuk memilih stroller. Jangan liat fiturnya, tapi lihat fungsinya. Aku ingin stroller yang bisa berfungsi:

  • Ke mall! Ini sulit diakui, tapi ya kenyatannya aku hampir tiap weekend bawa Kiyo ke mall

Dengan demikian, ga butuh tuh aku stroller all terrain. Rodanya yang biasa-biasa aja juga oke. Cuma karena lift di mall suka penuh, ada baiknya si stroller gampang dilipat dan ditenteng. Then Aprica Karoon would be a good choice.

  • Kalau Kiyo ketiduran di stroller, dia bisa tidur dengan nyaman

Kalau mau ini, bisa pilih stroller yang punya kanopi full, atau reversible bisa hadap si pengasuh. Aprica Karoon reversible sih dari handlenya, tapi manuvernya jadi aneh ketika hadap pengasuh (biasanya ban depan yang bermanuver, ini ban belakang). Kalau mau yang manuvernya sudah bagus (baca: ketika handle diset untuk bayi menghadap pengasuh, roda depan otomatis terkunci manuvernya, roda belakang terbuka kuncinya jadi bisa bermanuver), ada Aprica Soraria yang harganya 6 juta (harga mall 13 juta katanya, ajegile!). Opsi lainnya adalah reversible seat, tapi ya repot aja mesti angkat bayinya dulu baru bisa putar kursi.

  • Bisa naruh tas popok Kiyo yang segede gaban, plus belanjaan (ya karena ke mall itu)

Kalau begini mesti pilih stroller yang punya “bagasi” luas, atau yang berat dan memiliki 4 roda. Biasanya yang punya bagasi luas adalah stroller yang punya jarak antara tempat duduk dan lantai cukup tinggi. Aprica Karoon ga bisa memenuhi syarat ini. Tinggi tempat duduknya masih rendah (40 cm-an) sementara kalau mau ditaruh di handle, strollernya langsung terjungkal.

  • Bisa dipake dari newborn sampai nanti 3 tahunan lah

Kiyo umur 4 bulan aja begitu di tes duduk di Aprica Karoon, kepalanya jadi terlalu menunduk karena tingginya dia sudah menyentuh kursi bagian atas yang ada pinggirannya. Kiyo termasuk ramping, itupun lebar kursinya seperti sudah penuh sama badan Kiyo. Wah a big no no deh ini mah walaupun bisa dipake sampai 18 kilo, fisik anaknya belum tentu masih bisa.

Jadi setelah melihat beberapa model lain, jatuhlah pilihan ke Mamas Papas Armadillo Flip. A few sacrifice, though, tapi yang penting memenuhi syarat fungsionalitas. Armadillo Flip beratnya hampir 9 kilo, tapi in return dia punya handle untuk ditenteng dengan satu tangan, jarak lantai ke kursi tinggi sehingga bisa naruh lebih banyak barang (dan ga capek bungkuk-bungkuk untuk ngomong sama Kiyo), jelas ga akan terjungkal kalau naruh tas di handlenya, kursinya lebar dan tinggi.

Armadilo Flip one hand fold sih, tapi tetep harus melakukan 3 step untuk folding. Walaupun begitu, ukuran lipatnya masih lebih kecil dibandingkan stroller sekelasnya, apalagi graco mosaic. Manuver oke, tapi ya reversible seat. Gapapa juga toh kanopinya super lebar (XXL istilahnya) jadi kalau males putar kursi karena Kiyo keburu bobo, tinggal pasang kanopi.

Trus yang paling aku suka, kursinya itu kokoh tapi ringan. Kalau mau diangkat untuk putar masih masuk akal beratnya. Aprica kursinya “ngegantung” dan ga punya struktur sendiri, tinggal dibayangin aja si Bayi tidur di semacam Hammock. Kalau kursinya punya struktur sendiri kan dia bisa tidur telungkup dengan nyaman tanpa khawatir foam dari kursi menutupi hidungnya.

Dan harganya masih masuk kantong (3,85 juta) dibandingkan beli Aprica Soraria (di mana aku bisa mendapatkan semua plusnya Armadillo Flip plus RINGAN), yah I guess the price is the weight trade-off (itupun melebihi budget beli Aprica Karoon yang lagi diskon). Bisa juga cari Aprica Karoon Plus, tapi ini pun barangnya discontinue dari distributor. Mau diganti sama Soraria seri baru (yang hari ini kucek harganya di Lotte Shopping Avenue, ehem, 15 juta saudara-saudara).

Menyesal ga ya? Ga sih, untungnya setelah baca di web review, Armadillo Flip ini banyak menuai pujian (mungkin berat 9 kilo ringan kali ya buat bule-bule, secara iklannya aja ceritanya seorang ibu seorang diri nenteng Flip sambil gendong anaknya). Dan ternyata keluaran baru (2014) juga, jadi ga jadul-jadul amat lah. Kalau Aprica Karoon kan dari jaman kapan yak, hahaha… Dan ternyata (lagi) Armadillo Flip kursinya bisa diganti dengan car seat, carry cot (buat newborn), sama carry cot yang untuk winter.. Tapi ya karena kita di Indonesia dan aku udah beli car seat lain ya fitur ini ga terlalu guna juga.

Setelah 5 kali pakai kondisi indoor (mall dan pesta), memuaskan *jempol. Mungkin karena apa yang tadinya jadi minus sudah terkompromikan, ekspektasi jadi lebih baik juga.

Hari ini jalan-jalan ke Mother and Baby Fair, ternyata ada Jette Jimmy dengan segala kelebihan Armadillo Flip, berat cuma 4,7 kg, dan harga cuma 2,9 juta (di ol shop bisa 2,7 juta). Tapi yaaa kurangnya cuma manuvernya kurang oke karena reversible handle dan kursinya ga berstruktur. Ya sudahlah ya… Mungkin kalau belum beli Armadillo Flip, pilihan bisa jatuh ke Jette Jimmy😛

Ukuran Lipat Graco Mosaic. Mempertahankan tinggi, tapi lebarnya dan panjangnya terkompres separuhnya

Ini warna Armadillo Flip punya Kiyo hehe… Ukuran lipat panjang, lebar, dan tinggi semua terkompresi. Walaupun kompresinya ga sampai separuhnya, masih lumayan kecil kok dibandingkan stroller sekelasnya

Jadi, saranku untuk emak-emak lain yang juga bingung pilih stroller, lihat kebutuhan fungsinya apa. Mau dipakai ngapain sih. Bukan kebutuhan fiturnya yang dilihat. Dengan memilih fitur berdasarkan kebutuhan fungsi (Dan bukan sebaliknya), kita jadi lebih terbuka dengan berbagai macam fitur yang ternyata… fitur yang tadinya kita inginkan bukan harga mati lho. Happy stroller-hunting!

Tagged , , , , , , ,

The 1st Indonesia XBRL Conference

Tanggal 19-20 Agustus yang lalu, akhirnya berhasil juga IDX dan OJK beserta XBRL International (XII) menyelenggarakan konferensi XBRL pertama di Indonesia. BI mana? Hadir. Cuma sebagai pembicara dan undangan. Karena atas inisiatif sendiri (pada akhirnya) tidak menjadi panitia.

Acara ini diadakan karena sedang banyak “momentum”. Pertama, pelaporan emiten berbasis XBRL milik IDX yang sudah live walaupun masih percobaan. Kedua, OJK juga mau menyusul inisiatif XBRL (semoga) tahun ini. Ketiga (meski ragu ini masih aktual) pelaporan bank syariah sebagai inisiatif XBRL pertama di Indonesia yang sudah berjalan sejak 2013 lalu. Keempat, sudah seharusnya yurisdiksi XBRL Indonesia dibangun.

Penting sekali untuk punya yurisdiksi. Semua cita-cita regulator dan gimmicks dari XBRL International yang menyatakan bahwa dengan XBRL, akan terjadi efisiensi dalam pelaporan oleh entitas kepada regulator, bisa lebih mudah terwujud dengan kehadiran XBRL yurisdiksi Indonesia. Tanpa yurisdiksi, saya minder cita-cita mulia efisiensi pelaporan bisa tercapai. Setiap regulator pasti akan kembali pada egonya masing-masing. Yurisdiksi memberikan greater cause pada regulator-regulator yang berkepentingan dan membutuhkan laporan dari entitasnya.

Sayang… sudah susah payah diadakan di hotel mewah, mengundang media, akademisi, penggiat IT, perusahaan emiten IDX, perbankan, dan petinggi XBRL International dan yurisdiksi Asia,  rasanya yurisdiksi Indonesia itu masih sebatas angan-angan. Kami para praktisi XBRL cuma bisa menghibur diri, toh ini konferensi pertama, toh ini baru pertama kalinya regulator kakap itu ketemu, cukup lah “The 1st” ini sebagai media untuk membangun awareness XBRL di Indonesia.

Jadi si “The 1st” ini pada akhirnya diisi oleh pembicara dari BI, OJK, IDX, Akademisi, dan XBRL Asia untuk berbagi cerita mengenai pengalamannya masing-masing dengan XBRL. Tak ada kesimpulan. Tak ada gong. Tak ada batu loncatan untuk mencapai  “greater cause” untuk (mimpinya) national financial reporting. Entah perjalanan masih panjang, atau sudah buntu. Apa ini masih jadi pekerjaan rumah? Atau siswanya sudah dianggap tidak lulus. Yang jelas pelaporan nasional bukan mukjizat yang tiba-tiba bisa turun mandatnya dari Tuhan. Ya harus regulator-regulator itu yang bergerak. Ya ga?

Tagged , , ,