Fitur vs Fungsi, Bagaimana Memilih Stroller yang Sesuai Kebutuhan?

Horee akhirnya (mama) Kiyo punya stroller baru. Mereknya Mamas Papas Armadillo Flip. Apa itu Mamas Papas aja baru kudengar hari ini pas ditunjukin sama yang jual. Jadi bagaimana cerita pilih-pilih strollernya?

Berawal dari sejak Hamil 7 bulan aku masih galau pilih stroller. Pengennya yang ringan, tapi kuat. Fully featured, tapi murah. Buat newborn bisa, tapi bisa sampai gede juga. Yaa ga bakal dapat itu mah yah haha..  Akhirnya aku dipinjemin stroller Graco Mosaic lengkap dengan Car Seat 0 – 6 bulan. Karena temen kantorku bilang, itu car seat cuma bisa dipake sampai 6 bulan jadi pake aja dulu sambil milih-milih stroller idaman.

Karena tiap fitur pasti ada plus minusnya….

+ Ringan

  • Cenderung tidak stabil
  • tidak bisa ngegantung belanjaan
  • cuma bisa dipake di jalan mulus dan datar

+ One hand fold

  • ukuran lipat cenderung besar (biasanya masih mempertahankan ukuran lebar)

+ Lega

  • cenderung berat
  • ukuran lipat cenderung besar

+ Dari newborn

  • tidak reclined 180 derajat, biasanya 170 derajat

+ Reversible

  • kalau handle yang dibalik manuvernya ga oke (karena roda depan yang bisa muter posisinya jadi di belakang)
  • kalau kursi yang dibalik ribet amat anaknya mesti diangkat-angkat dulu

Semuanya bilang Aprica adalah yang paling ringan. Jadi ketika salah satu ol shop yang juga memiliki offline shop di Muara Karang mencantumkan APRICA KAROON diskon jadi 3 JUTA, kubujuk-bujuklah Papa Kiyo untuk beli stroller sendiri. So jauh-jauhlah kita pergi dari ujung Jakarta Selatan paling selatan ke ujung Jakarta Utara paling utara (oot: wow gilak Muara Karang – Pluit itu warbiyasak ya panasnya) supaya bisa lihat langsung barangnya karena masih galau plus minus itu.

Wah untung koko pemilik tokonya baik dan dengan sabar menjelaskan panjang lebar, ambil keluar – masuk display stroller, dan bolak-balik mendemokan setiap fitur stroller.

Setelah banding-banding tiap fitur, mulailah tercerahkan rumus untuk memilih stroller. Jangan liat fiturnya, tapi lihat fungsinya. Aku ingin stroller yang bisa berfungsi:

  • Ke mall! Ini sulit diakui, tapi ya kenyatannya aku hampir tiap weekend bawa Kiyo ke mall

Dengan demikian, ga butuh tuh aku stroller all terrain. Rodanya yang biasa-biasa aja juga oke. Cuma karena lift di mall suka penuh, ada baiknya si stroller gampang dilipat dan ditenteng. Then Aprica Karoon would be a good choice.

  • Kalau Kiyo ketiduran di stroller, dia bisa tidur dengan nyaman

Kalau mau ini, bisa pilih stroller yang punya kanopi full, atau reversible bisa hadap si pengasuh. Aprica Karoon reversible sih dari handlenya, tapi manuvernya jadi aneh ketika hadap pengasuh (biasanya ban depan yang bermanuver, ini ban belakang). Kalau mau yang manuvernya sudah bagus (baca: ketika handle diset untuk bayi menghadap pengasuh, roda depan otomatis terkunci manuvernya, roda belakang terbuka kuncinya jadi bisa bermanuver), ada Aprica Soraria yang harganya 6 juta (harga mall 13 juta katanya, ajegile!). Opsi lainnya adalah reversible seat, tapi ya repot aja mesti angkat bayinya dulu baru bisa putar kursi.

  • Bisa naruh tas popok Kiyo yang segede gaban, plus belanjaan (ya karena ke mall itu)

Kalau begini mesti pilih stroller yang punya “bagasi” luas, atau yang berat dan memiliki 4 roda. Biasanya yang punya bagasi luas adalah stroller yang punya jarak antara tempat duduk dan lantai cukup tinggi. Aprica Karoon ga bisa memenuhi syarat ini. Tinggi tempat duduknya masih rendah (40 cm-an) sementara kalau mau ditaruh di handle, strollernya langsung terjungkal.

  • Bisa dipake dari newborn sampai nanti 3 tahunan lah

Kiyo umur 4 bulan aja begitu di tes duduk di Aprica Karoon, kepalanya jadi terlalu menunduk karena tingginya dia sudah menyentuh kursi bagian atas yang ada pinggirannya. Kiyo termasuk ramping, itupun lebar kursinya seperti sudah penuh sama badan Kiyo. Wah a big no no deh ini mah walaupun bisa dipake sampai 18 kilo, fisik anaknya belum tentu masih bisa.

Jadi setelah melihat beberapa model lain, jatuhlah pilihan ke Mamas Papas Armadillo Flip. A few sacrifice, though, tapi yang penting memenuhi syarat fungsionalitas. Armadillo Flip beratnya hampir 9 kilo, tapi in return dia punya handle untuk ditenteng dengan satu tangan, jarak lantai ke kursi tinggi sehingga bisa naruh lebih banyak barang (dan ga capek bungkuk-bungkuk untuk ngomong sama Kiyo), jelas ga akan terjungkal kalau naruh tas di handlenya, kursinya lebar dan tinggi.

Armadilo Flip one hand fold sih, tapi tetep harus melakukan 3 step untuk folding. Walaupun begitu, ukuran lipatnya masih lebih kecil dibandingkan stroller sekelasnya, apalagi graco mosaic. Manuver oke, tapi ya reversible seat. Gapapa juga toh kanopinya super lebar (XXL istilahnya) jadi kalau males putar kursi karena Kiyo keburu bobo, tinggal pasang kanopi.

Trus yang paling aku suka, kursinya itu kokoh tapi ringan. Kalau mau diangkat untuk putar masih masuk akal beratnya. Aprica kursinya “ngegantung” dan ga punya struktur sendiri, tinggal dibayangin aja si Bayi tidur di semacam Hammock. Kalau kursinya punya struktur sendiri kan dia bisa tidur telungkup dengan nyaman tanpa khawatir foam dari kursi menutupi hidungnya.

Dan harganya masih masuk kantong (3,85 juta) dibandingkan beli Aprica Soraria (di mana aku bisa mendapatkan semua plusnya Armadillo Flip plus RINGAN), yah I guess the price is the weight trade-off (itupun melebihi budget beli Aprica Karoon yang lagi diskon). Bisa juga cari Aprica Karoon Plus, tapi ini pun barangnya discontinue dari distributor. Mau diganti sama Soraria seri baru (yang hari ini kucek harganya di Lotte Shopping Avenue, ehem, 15 juta saudara-saudara).

Menyesal ga ya? Ga sih, untungnya setelah baca di web review, Armadillo Flip ini banyak menuai pujian (mungkin berat 9 kilo ringan kali ya buat bule-bule, secara iklannya aja ceritanya seorang ibu seorang diri nenteng Flip sambil gendong anaknya). Dan ternyata keluaran baru (2014) juga, jadi ga jadul-jadul amat lah. Kalau Aprica Karoon kan dari jaman kapan yak, hahaha… Dan ternyata (lagi) Armadillo Flip kursinya bisa diganti dengan car seat, carry cot (buat newborn), sama carry cot yang untuk winter.. Tapi ya karena kita di Indonesia dan aku udah beli car seat lain ya fitur ini ga terlalu guna juga.

Setelah 5 kali pakai kondisi indoor (mall dan pesta), memuaskan *jempol. Mungkin karena apa yang tadinya jadi minus sudah terkompromikan, ekspektasi jadi lebih baik juga.

Hari ini jalan-jalan ke Mother and Baby Fair, ternyata ada Jette Jimmy dengan segala kelebihan Armadillo Flip, berat cuma 4,7 kg, dan harga cuma 2,9 juta (di ol shop bisa 2,7 juta). Tapi yaaa kurangnya cuma manuvernya kurang oke karena reversible handle dan kursinya ga berstruktur. Ya sudahlah ya… Mungkin kalau belum beli Armadillo Flip, pilihan bisa jatuh ke Jette Jimmy :P

Ukuran Lipat Graco Mosaic. Mempertahankan tinggi, tapi lebarnya dan panjangnya terkompres separuhnya

Ini warna Armadillo Flip punya Kiyo hehe… Ukuran lipat panjang, lebar, dan tinggi semua terkompresi. Walaupun kompresinya ga sampai separuhnya, masih lumayan kecil kok dibandingkan stroller sekelasnya

Jadi, saranku untuk emak-emak lain yang juga bingung pilih stroller, lihat kebutuhan fungsinya apa. Mau dipakai ngapain sih. Bukan kebutuhan fiturnya yang dilihat. Dengan memilih fitur berdasarkan kebutuhan fungsi (Dan bukan sebaliknya), kita jadi lebih terbuka dengan berbagai macam fitur yang ternyata… fitur yang tadinya kita inginkan bukan harga mati lho. Happy stroller-hunting!

Tagged , , , , , , ,

The 1st Indonesia XBRL Conference

Tanggal 19-20 Agustus yang lalu, akhirnya berhasil juga IDX dan OJK beserta XBRL International (XII) menyelenggarakan konferensi XBRL pertama di Indonesia. BI mana? Hadir. Cuma sebagai pembicara dan undangan. Karena atas inisiatif sendiri (pada akhirnya) tidak menjadi panitia.

Acara ini diadakan karena sedang banyak “momentum”. Pertama, pelaporan emiten berbasis XBRL milik IDX yang sudah live walaupun masih percobaan. Kedua, OJK juga mau menyusul inisiatif XBRL (semoga) tahun ini. Ketiga (meski ragu ini masih aktual) pelaporan bank syariah sebagai inisiatif XBRL pertama di Indonesia yang sudah berjalan sejak 2013 lalu. Keempat, sudah seharusnya yurisdiksi XBRL Indonesia dibangun.

Penting sekali untuk punya yurisdiksi. Semua cita-cita regulator dan gimmicks dari XBRL International yang menyatakan bahwa dengan XBRL, akan terjadi efisiensi dalam pelaporan oleh entitas kepada regulator, bisa lebih mudah terwujud dengan kehadiran XBRL yurisdiksi Indonesia. Tanpa yurisdiksi, saya minder cita-cita mulia efisiensi pelaporan bisa tercapai. Setiap regulator pasti akan kembali pada egonya masing-masing. Yurisdiksi memberikan greater cause pada regulator-regulator yang berkepentingan dan membutuhkan laporan dari entitasnya.

Sayang… sudah susah payah diadakan di hotel mewah, mengundang media, akademisi, penggiat IT, perusahaan emiten IDX, perbankan, dan petinggi XBRL International dan yurisdiksi Asia,  rasanya yurisdiksi Indonesia itu masih sebatas angan-angan. Kami para praktisi XBRL cuma bisa menghibur diri, toh ini konferensi pertama, toh ini baru pertama kalinya regulator kakap itu ketemu, cukup lah “The 1st” ini sebagai media untuk membangun awareness XBRL di Indonesia.

Jadi si “The 1st” ini pada akhirnya diisi oleh pembicara dari BI, OJK, IDX, Akademisi, dan XBRL Asia untuk berbagi cerita mengenai pengalamannya masing-masing dengan XBRL. Tak ada kesimpulan. Tak ada gong. Tak ada batu loncatan untuk mencapai  “greater cause” untuk (mimpinya) national financial reporting. Entah perjalanan masih panjang, atau sudah buntu. Apa ini masih jadi pekerjaan rumah? Atau siswanya sudah dianggap tidak lulus. Yang jelas pelaporan nasional bukan mukjizat yang tiba-tiba bisa turun mandatnya dari Tuhan. Ya harus regulator-regulator itu yang bergerak. Ya ga?

Tagged , , ,

Melahirkan Itu…

WOW!

Di 39w 3d, bangun tidur, pipis, terus ternyata ada lendir darah! Ini ternyata namanya mucus plug, salah satu tanda awal kelahiran. Tapi dari keluarnya mucus plug ini pun belum tentu langsung melahirkan, ada yang langsung, ada yang masih satu minggu. Apalagi aku belum ngerasain kontraksi (dan bahkan ga tau kontraksi itu rasanya seperti apa).

Yang namanya ngebet pengen ketemu si dedek, jadilah setelah heboh keluar mucus plug itu, aku langsung jalan pagi ditemenin Yozzi. Kan katanya jalan bisa mempercepat pembukaan. Eh beneran, selama jalan aku ngerasain kontraksi yang konstan per 10 menit. Rasanya memang kayak kram menstruasi gitu. Ok ke rumah sakit.

Di rumah sakit jam 8 langsung CTG. Katanya kontraksinya belum konstan dan belum begitu kuat. Memang sih, setelah ditidurin pas CTG, rasa kontraksinya berkurang. Cek pembukaan juga bahkan belum bukaan satu (dan itu namanya cek pembukaan rasanyaaaaaaa maknyusss… diobok-obok bangettt). So aku disuruh pulang. Jalan-jalan ke Gandaria City aja deh biar cepet pembukaannya hehe… Memang sih kontraksinya berasa makin sakit sampai-sampai harus berhenti, tapi jaraknya makin ga teratur.

So aku pulanglah ke rumah… Menikmati kram perut setiap 10 menit, kadang 20 menit, bahkan kadang sampai setengah jam baru kontraksi lagi. Ibu dan Mama mertua sudah datang menemani di rumah. Jadi tenang…

39w 4d malam, balik lagi ke rumah sakit karena rasanya sih kontraksinya udah lebih teratur tiap 10 menit. Rasanya juga makin wow. Jam 9 selesai CTG, dokter nanya, “Ada lilitan tali pusar ya?”

“Waktu terakhir USG kata dokter sih emang ada di leher.”

Ternyata waktu aku kontraksi, detak jantung babynya turun. “Kita CTG lagi ya jam 11 malam nanti,” kata dokter. Kalau hasil CTGnya masih sama, melahirkan normal bisa berisiko.

Hasil CTG jam 11 menunjukkan hasil yang sama. Dokternya sudah pulang. Aku ditawarkan opsi untuk pulang kembali ke rumah dan kembali lagi jam 8 besok paginya untuk CTG. Tapi kalau mau menginap pun juga gapapa. Mempertimbangkan bahwa kalau ke RS jam 8 pagi bakal kena macet dan ternyata nginep saat itu dan besok pun kena chargenya sama, akhirnya nginep lah. Masuk kamar inap jam 1.

Jam 2, ga bisa tidur. Kontraksinya makin sakit dan yang ini bener-bener bikin meringis… Bikin mulut harus mengeluarkan kata-kata “Aduh” atau “Uuhh” atau “Sakiiiiiiiiit”. Karena Ibuku khawatir, dia panggil suster. Aku bilang, paling disuruh CTG lagi tapi ini kontraksinya belum konstan per 5 menit. Ibuku maksa dan akhirnya aku dibawa ke kamar bersalin lagi. Bener kan disuruh CTG. Tapi kok rasanya sudah konstan per 5 menit..

Jam 4 kelar CTG. Hasil detak jantung bayinya menunjukkan perbaikan. Tapi bukaan masih bukaan satu aja.

Jam 5. Yang aku bilang kontraksi sebelumnya itu sakit, ga ada apa-apanya. Setiap kali aku merasa aku bisa menahan sakit kontraksi, di kontraksi berikutnya rasanya lebih sakit lagi. Cek bukaan sudah 2 dan “Sudah lembut banget,” kata susternya (entah maksudnya apa).

Beberapa kali terdengar suara tangisan bayi dari kamar bersalin lainnya. Hari itu sedang penuh, banyak yang lagi lahiran, termasuk teman kantornya Yozzi yang lahir tengah malam. Oiya ngomong-ngomong soal Yozzi, dia di sampingku terus. Kalau kontraksinya mulai berasa puncaknya, tangannya habis aku cengkram. Pas Yozzi harus ninggalin aku untuk ngobrol sama dokter atau solat, langsung panik banget… Digantiin sama Ibu sih tapi Ibu kan tinggal tulang doang, ga enak dipegang haha… Untungnya punya suami bulat.

Jam 6.30… Waktu benar-benar gak terasa. Aku dah ga bisa solat subuh saking sakitnya. Pas 6.30 itupun aku tiba-tiba merasa pengen ngeden (dan kutahan, karena katanya ga boleh kan?). Tadinya aku ga mau bilang, tapi lama-lama ga ketahan sampai aku keceplosan “Pengen NGEDEEEEEEEN…” Ibuku yang kebetulan lagi di samping langsung manggil suster. Cek bukaan, eh taunya bener aja udah bukaan 5.

Dokter dipanggil. Eh doi udah jalan ke RSCM buat ngawas ujian. Berhubung RS nya di Jaksel ya wassalam aja dia ga mungkin balik. Diserahkanlah aku ke dokter yang jaga. Untung dokter yang jaga dokter favorit juga, yang antriannya lebih ga nahan lagi karena katanya doi omnya Dian Sastro (penting banget..). Kamar bersalin pun disiapkan, tapi katanya sih masih ngantri karena masih ada Ibu lain. Susternya pun rada buru-buru karena ga nyangka bukaannya bakalan secepat itu.

Kayaknya sekitar 7.30 aku dibawa masuk ke kamar bersalin. Cek bukaan udah bukaan 8. Dokter dipanggil, eh masih pegang jahitan Ibu lain. Aku dipandu untuk ngeden sama suster, soalnya selama ikut senam hamil masih di bawah 38 w, belum sempet belajar ngeden. Suster ngasitau, “Waktu terasa mau kontraksi, tarik napas, buka matanya, lalu ngeden ya… Ngerti?”

“GAAAAA!” Aje gile, lagi dalam kondisi nahan sakit aku udah ga ngerti lagi dia ngomong apa.. Tarik napas dulu atau buka mata dulu??

Susternya akhirnya ngedampingin sekali pas mau kontraksi, di kasitau setiap stepnya. Oh gitu toh caranya… Tapi tetep, aku ga mau ditinggal susternya takutnya salah langkah. Eh doi malah wara-wiri ngurusin perlengkapan peralatan lahir.. Huuu paniiiiiik dong disuruh ngeden sendirian… Tinggal sama Yozzi doang yang masih bacain Quran di samping.

Di “bawah sana” udah mulai ada suster yang masukin kateter… Terus kayaknya ngurusin ketuban yang pecah. Kayaknya cuma sekitar 4-5 kali ngeden, tiba-tiba ada rasa panas yang turun di jalan lahir.

“Waaaa kepalanya udah keluar, Ras” kata Yozzi. Suster langsung panik manggil dokter yang katanya masih cuci tangan.

“Pengen ngeden!”

“Tahan yaaa.. tunggu dokternya,” kata suster.

Ajegile pengen ngeden banget disuruh tahan… Maaak… Pas dokter datang, dia cuma bilang, “Ngedennya pelan-pelan ya supaya ga robek.. Sini saya pandu, 1.. 2.. 3…” So aku praktekin itulah ngeden yang pelan-pelan agak ditahan. Berasa ada sesuatu yang objek “berjalan” di jalan lahir dan ga lama kemudian rasa objek berjalan itu hilang.

“Waaa selamat ya anak perempuan. Lahir tanggal sekian jam 8.09,” kata dokter. Alhamdulillaaaaaaaaaah… Sampai ga bisa berkata-kata. Rasa sakit juga langsung hilang (well, ada sih dikit tapi ga sebanding lah sama sebelumnya). Kata Ibu, waktu di kamar bersalin aku silent banget dibandingin Ibu lain yang melahirkan di kamar lainnya (ya iyalah, kan pas ngeden ga boleh teriak bukan? Lagipula pas ngeden memang ngilangin rasa sakit banget, untungnya aku ngeden cuma butuh sebentar…)

Yozzi adzanin, potong tali pusar… Aku ditanya, mau lihat plasentanya ga? Ya ga lah… Lihat darah sendiri aja ga berani…

Ga lama, malaikat kecilku ditaruh di dada. Kulitnya masih abu-abu. Jari-jarinya panjang, kukunya juga panjang dan tajam-tajam. Rambutnya lurus ga seperti waktu USG, dibilang keriting haha… Dia bergerak mencari puting. Subhanallah, sekecil itu, hidup dan bergerak dan sudah punya naluri untuk mencari makan… Tapi IMDku setelah 2 jam ditunggu masih ga berhasil. The little beauty kept missing the nipples, 2 cm behind her was the closest one.

Jahitan berapa banyak? Dokternya ga mau ngasitau, katanya berapa banyak bukan itungan lagi sekarang. Tapi aku masih bisa ngeliat tangan dia yang narik-narik benang dari “bawah sana”. Setelah dijahit, perutku ditekan-tekan untuk mengeluarkan darah sisa lahiran. Rasanya serrr serrrr banyak banget ya ga abis-abis hahaha…

Alhamdulillah banget.. Bersyukur persalinannya luar biasa lancar.. Bersyukur ga mesti melalui induksi. Atau mengalami pembukaan besar lama-lama (cuma 3 jam dari bukaan 2 ke lahiran!). Ga tau gimana rasanya kalau harus ngalamin bukaan 2-7 selama berhari-hari. Bersyukur dan berterima kasih sama Ibu udah ngedampingin dan udah ngelahirin aku dulu.

Sore harinya aku sudah bisa jalan :D alhamdulillah, bersyukur lagi ga c-sect yang pemulihannya lama.

Sekarang tinggal “menikmati” menjadi orang tua newborn deh.

Tagged

Contemplating on Career

Jadi ketawa pas dulu tahun 2008 (wowww sudah 7 tahun yang lalu) aku pernah nulis soal “Wasiat” karir dari Papa.

Supaya aku bekerja di bidang perekonomian.

Aku aja udah lupa sih sama hal itu.

Ternyata 7 tahun kemudian aku kerja di bank sentral (oke ini bidang ekonomi kan?) tapi di bagian sistem informasi (tetap seperti apa yang kuinginkan).

Sebagai seorang Teknik Industri yang bisa masuk ke mana aja (katanya), sebenarnya aku bisa masuk ke core businessnya bank sentral sebagai analis ekonomi atau pembuat kebijakan. Yah pokoknya yang benar-benar bekerja dengan data-data ekonomi deh. Nyatanya aku bekerja untuk memastikan operasional data-data mereka berjalan dengan sistem informasi. Hahaha… Apa daya, aku keterima jadi swakelola di SI duluan baru keterima PCPM. Saat penempatan pun, kesempatan untuk berkarir di bidang ekonomi akhirnya ludes karena aku dipanggil ke bagian SI.

Gakpapa sih. Toh aku ga pernah suka banget sama teori ekonomi. Dulu pernah niat banget belajar tapi ujungnya sama: teori yang aku baca dan pelajari sampai merutul pun aku tetap ga paham jalannya, saking terlalu banyak variabel yang berinteraksi (makanya jangan heran pemerintah dengan pengamat ekonomi selalu beda pendapat, variabel fokusnya beda sih). Lebih baik sama yang pasti-pasti aja, yang bisa disistemkan. Makanya aku lebih seneng kalau disuruh jadi pengawas bank atau ngurusin sistem pembayaran, dibandingin ngomong ngalor ngidul soal kenapa dolar naik turun menyimpang dan inflasi mau berapa.

Eeee ternyata pengawasan bank pindah ke otoritas lain. Dan aku terjebak dalam dunia XBRL serta proyek apapun yang berkaitan dengannya, sampai sekarang aku sudah 4 tahun di Bank Indonesia. Mending kalau proyek-proyekku maju ya… Ini ga. Satu-satunya yang jalan cuma pelaporan bank syariah, yang lainnya pending. Dipolitisir terus. Cape… Sedih. Mau maju ke kancah internasional juga dihalangi (e tapi sekarang agak lumayan bergerak sih, tapi sayang pas aku lagi cuti jadi dihandlenya sama rekan lain).

Susan, Susan, Susan, kalau gede, mau jadi apa?

Mau jadi pegawai negeri, ngapain ya tergantung penempatan.

Damn I hate the statement, but sadly it happens to my life. Hidup kita, mental kita, tergantung dari kebijakan orang SDM yang menilai kita “kira-kira” cocok di mana. Untuk jalur kepegawaianku, kami dianggap kertas putih yang menunggu ditulis dan dibentuk. There are sets of psychological and psychiatric test to ensure that the white paper is easy to form. And I fall onto that scheme. No.. not fall… But ensuring myself that I am easy to form, karena di saat test, aku belajar untuk menjawab ala pegawai.

Nulis ginian aja, contemplating… Nyesel… Padahal dulu pas keterima, seneng juga kan? Dasar manusia ga pernah puas.

Yep… Soalnya kita selalu punya pilihan untuk melakukan hal yang kita suka, tapi belum tentu menjamin rezekinya dapat dari sana. Banyak banget kejadian orang curhat di 9Gag, bikin post bagus mengenai “Do what you like as your Job” or “My Job is My Hobby” atau ada yang pernah curhat mengenai susahnya cari kerja sesuai jurusan dia. Yang ada malah dimaki. Ngapain juga lo ngambil jurusan aneh-aneh kalau lo tau itu ga bakal ngejamin kehidupan lo? Gitu kasarnya…

Ya sudah, untuk sekarang disukuri saja. Kalau punya energi lebih, baru mikir mau melakukan loncatan apa. Yang penting bersyukur.. bersyukur…

Memilih Bumper Untuk Box Bayi

Akhirnya setelah bingung si bayi mau tidur di mana, aku memutuskan untuk tetap pake box bayi. Walaupun katanya sih banyak box bayi yang jadinya ga kepake karena si Ibu males bolak-balik mindahin bayi ke boxnya pada malam hari. Termasuk box bayi yang akhirnya aku beli ini, pemilik sebelumnya bilang dia cuma pake beberapa bulan udah gitu ga pernah kepake lagi dan bayinya keburu gede. Iyalah, lagi ngantuk, mesti nyusuin, enakan bayinya ditaro di samping Ibunya. Kalau laper tinggal deketin, buka pabrik susu, slebbb.. bayinya anteng nyusu, Ibunya masih bisa tidur merem melek.

Jadi setelah box bayi dipastikan, berikutnya adalah mencari bedding set. Alamak lucu-lucu ya… Apalagi ditambahin bumper, ruffles, ho ho berasa putri tidur. Tapi ternyata setelah browsing sana-sini, penggunaan bedding set yang berlebihan merupakan salah satu penyebab SID (sudden infant death).

Pertama, bumper. Bumper ini gunanya untuk mengamankan si bayi agar tidak kepentok pagar box bayi yang keras. Jadi dibuatlah bumper seempuk mungkin. Tapi ternyata, ada kejadian di mana si bayi yang lagi doyan berguling saat tidur, malah terhalang pernapasannya karena hidungnya nempel di bumper, dan meninggal. Ada juga yang tercekik tali pengikat bumper. Sudah ada beberapa states di US yang melarang penggunaan bumper.. Asosiasi Dokter Anak Amerika juga merekomendasikan untuk tidak menggunakan bumper, karena belum ada bukti bahwa bumper benar-benar bermanfaat seperti yang menjanjikan. Yang ada hanyalah penelitian mengenai SID gara-gara bumper tadi. Rekomendasi ini lebih keras dibandingkan rekomendasi sebelumnya di tahun 2005 untuk menggunakan bumper yang tipis, ajeg, dan ga “pillowy”.

Kebayang kan kenapa bumper “pillowy” kayak begini ternyata berbahaya?
*foto dari instagram @memmommahouse

Tetep aja ada mak mak khawatir di luar sana, yang belum bisa merelakan anaknya kepentok pagar baby box. Dicarilah alternatif bumper pillowy yang lebih aman. Dua di antaranya yang lagi naik daun adalah Wonder Bumper dan Breathable Mesh Liner.

Untuk Wonder Bumper merupakan inovasi dari perusahan bernama Go Mama Go Designs. Idenya adalah mengamankan bagian pagar yang keras tapi tetap memberikan ruang untuk bernapas bagi si bayi seandainya si bayi gulang-guling. Makanya, yang di”bumper”in cuma bagian ruas-ruas tiang pagar aja (slate).

Wonder Bumpers by Go Mama Go Design

Wonder Bumpers by Go Mama Go Design

Sedangkan breathable mesh liner benar-benar menghilangkan faktor pillowy dan menggunakan bahan yang dipastikan tidak akan mengganggu pernapasan si bayi (makanya dinamain “liner” alih-alih “bumper”. Hmm lebih mirip kawat nyamuk dipasang kayak bumper menurutku, hehe… Tapi lebih lembut dan ada motifnya.

Breathable Mesh Liner from diapers.com

Breathable Mesh Liner
from diapers.com

Ada artikel blog bagus yang membahas mengenai keamanan berbagai jenis bumper (dan liner). Dia ga setuju untuk benar-benar tidak melindungi anaknya dari risiko pagar box bayi. Oleh karena itu dia menekankan timing alias kapan waktu yang tepat untuk menggunakan bumper. Menurutnya, waktu baru lahir, sebaiknya tidak pakai bumper apapun. Soalnya bayinya belum bisa ngapa-ngapain. Kalau bayi sudah bisa berguling, baru dipakai bumpernya (Wonder atau liner atau 2 desain lain yang menurut dia baik). Ketika bayi sudah bisa manjat-manjat, bumpernya dicopot lagi karena bayi bisa menggunakan bumper untuk manjat pagarnya. Tapi secara personal, dia sendiri tidak mencopot bumpernya saat bayi sudah bisa berdiri karena boxnya seperti benteng, katanya. Mau pakai bumper atau ga, ga ngaruh.

Dia juga membahas, kalau Wonder Bumper tetap memiliki kelemahan bagi bayi yang sangat aktif, yang bisa saja menyelipkan salah satu bagian tubuhnya ke celah antara slate. Sedangkan Breathable Liner ga mempan untuk bayi yang doyan “jedak-jeduk” karena ga ada bagian empuknya.

Setelah baca pengalaman orang sana-sini, aku pribadi memilih untuk menggunakan bumper ketika baru lahir (justru karena baru lahir ga bisa ngapa-ngapain, jadi bumpernya punya nilai estetika, hahahahahaha) sampai dia bisa berdiri. Alias, bumpernya dipakai terus. Oleh karena itu aku pilih desainnya Wonder Bumper dan memastikan bumper tersebut ga bisa dipanjat, jadi harus dipasang sepanjang slate. Kalau pilih yang breathable, rata-rata tinggi linernya pendek. Justru di situ kemungkinan bisa dipanjat bayinya. Risiko yang mungkin kuhadapi adalah bagian tubuh bayi yang nyelip – but she can cry if she feels uncomfortable, right? I’ll take that risk.. Itu rencananya sih, realisasinya kita lihat nanti, wong bayinya belum lahir hehe…

Jadi karena Wonder Bumper ini belum ada yang jual di Indonesia, aku pesan custom dari @Memommahouse (instagram). Sebenarnya ada banyak video DIY Wonder Bumper di Youtube. Tapi karena keputusan untuk punya “Wonder” Bumper ini udah mendekati HPL, pesan sajalah. Ukurannya aku sesuaikan dengan baby boxku. Aku minta bumper ini dibuat bolak-balik, berpadding, dan pemasanganya menggunakan resleting. Sama seperti bedding set yang ditawarkan oleh berbagai penjual, bahannya cuma bisa pilih dari katun (catra, tergantung dari motif yang dipilih). Setelah diitung-itung sama penjualnya, mahal juga yak sampai 1,5 jt (huaaa nangis). Tapi karena memang bumpernya jadi banyak, sampai 38 biji dan kudu dijait satu-satu, memang segitu kali ya ongkosnya. Sebagai perbandingan bedding set dengan bumper biasa harganya “cuma” 750ribu (Oh God, perlengkapan bayi apa sih yang murah…)

Tapi hasilnya, ga mengecewakan. Penjualnya bikin benar-benar sesuai spesifikasi yang aku pengen. Ga ada kurangnya sih. Cuma ada rasa penyesalan aja hahahahaha (masih ga rela sama harganya) karena sebenarnya mungkin ada beberapa komponen dari bedding set yang bisa dikurangin supaya bisa lebih murah. Contohnya, ternyata dikasih bantal dan guling 2 buah. Padahal aku udah punya bantal peyang, dan niatnya sih ga mau naruh banyak barang di box bayi, cukup bantal aja. Soalnya ini salah satu safety tips yang kudapat dari berbagai artikel mengenai keamanan box bayi, yaitu don’t overstuffed things inside the box. Semakin banyak barang, semakin sedikit ruang gerak bayi dan memperbesar risiko suffocating.

IMG_1618

“Wonder” bumper

Ada celah di antara slate, memperkecil risiko tercekik tapi tetap mengandung risiko "kaki nyelip"

Ada celah di antara slate, memperkecil risiko tercekik tapi tetap mengandung risiko “kaki nyelip”

Kepala resleting ditaruh di sisi bawah, dengan resleting diletakkan memanjang di samping slate supaya lebih aman dan lebih enak dilihat

Kepala resleting ditaruh di sisi bawah, dengan resleting diletakkan memanjang di samping slate supaya lebih aman dan lebih enak dilihat

Mungkin kalau breathable liner bisa dibikin setinggi pagar bayi dan banyak yang jual di Indonesia, it will be a safer option. Ga khawatir kejeduk pagar box bayi? Aku yakin bayi juga pintar, once dia kejeduk, nangis, dia pasti belajar untuk tidak melakukannya lagi kalau terasa sakit.

Tapi semua tulisan ini akan berarti kalau akhirnya orang tua menyerah mendisiplinkan bayinya untuk tidur di box sendiri dan tidur bersama orang tuanya. Haha…

Tagged , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers