Errrr…

Emang serba salah ya bikin kebijakan di era informasi ini. Kalau dulu ketok UU mau berkualitas mau bikin ancur sih sebodo amat, kagak ada yang ngerti. Sekarang kebijakan apapun komentarnya bisa 360 derajat, dari yg paling ga nyambung sampai yg rasional.

Ki-ka, atas-bawah:
(1) desain uang itu pasti lewat persetujuan ahli waris. Ini persis kayak ribut2 Tjut Nyak Dien ga pake jilbab di uang 10000 lama. Kompornya tetep sama, akun Serambi Mekah. Tapi yang ini lebih ga nyambung, bisa-bisanya dihubungkan ke Sari Roti.
(2) Gantian to ya.. banyak banget pahlawan di Indonesia. Kalau maksa banget pengen ada pahlawan Islam di mata uang baru, tengok uang 1000 ada pendiri NU.
(3) orang yang ada di uang sebaiknya yang mati. Kenapa? Kalau masih hidup bisa jadi alat kampanye. Dilengkapi syarat lain seperti punya kontribusi terhadap negara alias pahlawan nasional. Mau jadi pahlawan nasional, mati dulu. Insya Allah jika disetujui sejarawan, akademisi, pemda, kementrian sosial, kementrian keuangan, presiden, dan ahli waris, Habib Rizieq bisa masuk mata uang yaa..
(4) problemnya sih di komentarnya. Kalau pada ga suka, sini duitnya buat saya aja.

View on Path

1/2 jam sy habiskan buat bikin blast email yg menunjukkan ketidakpuasan sy terhadap tim kerja lain. Di draft terakhir, bahasanya sudah ga karuan.

Selama ngedraft, di dalam pikiran selalu ada suara lain. Kamu kan cuma grassroot… Yakin kamu mau ngomong kasar begini? Kamu ga nyesel nanti semua pertemanan km sia-sia? Apa sih manfaatnya marah-marah diblast pula?

Ah ga peduli. Tinggal send doang nih. Kirim, ga, kirim, ga…

Diam sesaat, tarik napas dalam-dalam, hembus panjaaaaaaang.. Lalu saya berpikir ulang. Kemudian sy discard emailnya.

Ga sampai 10 menit tim lain itu approach sy, mengajak diskusi soal hal yang hampir saya marah-marah itu. Alhamdulillah, untung saya ga jadi send emailnya.

Sebagaimana dalam Islam kita diajarkan, kalau mau marah baca istigfar. Sebelum keluar amarah maka diam. Kalau marah sedang berdiri, maka duduk. Sedang duduk, maka berbaring.

Kalau tadi saya udah ga inget istigfar 😅Tapi saya diam dan ambil napas. Paling dua detik. Dan hasilnya berbeda.

Moga-moga bisa jadi reminder buat yang baca. Soalnya, sekarang marah-marah bisa pakai jari 👆

Tapi klo saya kebobolan.. mohon dimaafkan yaa. Mungkin PMS 😋 * taichiiii master cyaat *

View on Path

Threadneedles Autograph Collection – Hotel Review

Ini review Bahasa Indonesia aja yah.. kalau Bahasa inggris keliatan katronya nanti wakakaka..

Mei 2016 saya berkesempatan menginap di hotel ini selama 4 malam saya di London. Super deket sama tempat benchmark saya (Bank of England) yang ada di jalan yang sama. Super deket sama Bank tube station yang pernah dibom dan The Royal Exchange, di mana high street shopnya macam L’Occitane dan Jo Malone yang lagi ngehits abis itu, dilewatin tiap hari ketika saya pergi pulang ke BoE. Gimana gak ngilerrr…

Deket sama Starbucks, Pret a Manger, Tesco Express. Jadi kalau mau ngopi-ngopi or cari makanan, agak aman. Masalahnya ini karena business district jadi ya makanannya kalau ga mahal banget ya langsung Tesco *Wakaka.. Sedih sih sebenarnya pas dibandingin sama hotel kolega lain yang “lebih modern” Andaz Hotel di Liverpool Street, lingkungannya lebih rameee, apa aja ada (money changer, shoe repair, dsb), makanan juga banyak.

Threadneedles hotel ini hotel tua. Agak spooky gimana gitu. Sarapannya ga sempat cobain karena orang kantor lupa bilang untuk booking kamar +sarapan (dan akhirnya hampir tiap pagi numpang makan di Andaz Hotel).

Terus yah.. saya curiga kamarku kamar sisa. Karena memang pas booking cuma tinggal sisa 2 kamar. Kamarku yang standar n kamar yang agak gedean (saya ngalah, kasih kamar yang agak gedean buat kolega yang bawa istri). Nah dari kamar yang standar inipun,  kamarku lebih kecil lagi. Kelihatan banget posisinya mojok di bawah atap apa tangga gitu, soalnya plafonnya dan bentuk kamarnya diagonal, masuknya juga lewat lift belakang (hiks).

Ini hotel katanya sih bintang lima… yah bener sih. Service ga ada yang ngecewain, kecuali ya itu, kamar sisa..

Anyway, ini hotel emang cocoknya buat business. Jadi ga ada seneng2nya, apalagi saya waktu itu kesini sendirian.. antara seram dan kesepian hahahaha..

Threadneedles hotel lobby.jpg

photo from Threadneedles Autograph Collection

Tagged , , ,

Cerita Commuter Line

 

Di KRL stasiun Pasar Minggu, aku turun sesaat untuk mempersilahkan orang keluar dari kereta karena posisiku nempel pintu. Seperti biasa ya, keluar 2 orang yang naik lebih banyak, termasuk seorang mbak-mbak. Karena saya panik sudah telat (hari ini upacara), saya dorong tuh supaya saya bisa ngepas masuk kereta. Si mbak ini posisinya ga mau masuk ke dalam, tangannya malah ngotot pegangan sama handle di tepi pintu kereta. Terus seperti biasa deh, drama, “hssss.. hssss.. hssss” kayak kesiksa banget. Dih ga pernah naik krl apa?

“Jangan ditahan dong,” saya berbisik sendiri tapi kayaknya sih kedengeran. Saya dorong kan supaya dia lebih masuk ke dalam. “Hsss.. hsss.. ” lanjut si mbak itu.

Pintu pun tertutup. Lalu dia bilang, “Ini (yang duduk) hamil semua ya?”

Astagfirullah.. ternyata mbaknya lagi hamil. Hiks..

 

Saya lebih suka di gerbong umum, karena gerbong wanita lebih kejam daripada ibukota.

“Tahan dong udah ga muat nihh… Itu yang di pintu suruh tahan (supaya orang ga masuk lagi ke dalam)” Padahal di dalam masih bisa bergeser.

“Itu ada lagi keretanya di belakang!” Aduh Ibu, emangnya Ibu aja yang pengen pulang cepet? Itu sih yang saya paling tidak suka, sok-sok nahan orang untuk masuk ke dalam kereta. Kalau di gerbong umum, sampai dempet-dempetan kaki melayang tangan di mana, selama masih bisa muat “dorong terus baaang”

“Aduh aduh aduh….” atau dikit-dikit ngeluarin “hssssss..” macam kesiksa padahal cuma kedorong sama gaya kereta. Terus sok-sokan marah, “aduh mbak jangan dorong-dorong dong..”

Pernah saya menyaksikan drama “berasa kedorong” antara dua wanita. Yang berasa kedorong mbak cantik, sampai mengelurkan kata-kata kasar dan menuduh mbak satunya “ngejambak” rambutnya. Karena kesal, dia turun di Tebet.

Mbak satunya anggun berjilbab. Ketika si mbak cantik sudah turun, baru deh dia buka suara “Iya sih emang saya Tarik rambutnya, abis saya kesal.”

Itu sih ga seberapa yaa.. ini yang sering diceritain teman sesame roker, ada Ibu-ibu yang menolak memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil, simply karena “Bu, kalau mau duduk ya kayak saya dong balik dulu ke stasiun Bogor (stasiun paling hulu)”

atau yang pernah saya saksikan, “Mbak di sana aja di kursi prioritas..” padahal gerak aja ke kursi prioritas susah sulit karena banyak orang, ini ibu hamil mau disuruh dempet-dempetan demi duduk doang?

Oh iya, jangan lupa juga, mayoritas Ibu-ibu dan wanita tulen pada umumnya DOYAN NGATUR. “Mbak hadap sini”, “Mbak jangan gini”, “Mbak itu nanti yang mau keluar kehalang jadi mbak posisinya gini”. Saya paling sering kena tegur soal posisi.

 

 

Tapi bukan berarti saya aman di gerbong umum, setidaknya sampai saat ini saya sudah dilecehkan 6 kali oleh laki-laki. Dari yang saya merasa ga yakin apakah lelaki di belakang saya goyang karena kereta, sampai yang jelas banget karena suara nafasnya memburu. Pernah juga dalam satu perjalanan krl Tanjung Barat – Gondangdia, saya “digituin” sama 3 laki-laki yan berbeda. GILA! Mungkin karena waktu itu kereta sedang gangguan jadi si otong pada stress.

 

Satu pengalaman yang juga tak terlupakan adalah, ASI saya sampai keluar karena gencetan di kereta. Posisi saya terjepit antara palang kursi dan orang yang luar biasa banyaknya saat itu. Sehingga ketika kereta bergoyang, orang di dalamnya ikut bergoyang, badan saya terhimpit dan terdorong tertahan dengan palang kursi tersebut menciptakan gerakan memerah ASI. Keluar deh, padahal ASI saya sedang sereeeet banget.

 

Tapi itu semua juga tidak menjamin I’m not behaving like a douchebag. Saya suka main hp (dan ini cenderung tidak disukai karena seperti tidak tanggap dengan keadaan). Mungkin tas saya (yang seringkali jarang saya naikkan ke atas bagasi) mengganggu orang di depan saya. Mungkin berat badan saya membuat orang lain merasa terdorong-dorong dan “disenderin”. Well I’m trying to behave well too, but sometimes too much people inside can bring negative thoughts over coincidental act.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tagged , , , , ,

About That Hitch

Yay. Me time. In this particular me time, I turned on the TV. Search for good movies and there’s Hitch – a 2005 drama comedy movie starred by Will Smith and Eva Mendes.

I’ve watched this movie quite a few times. But I don’t know why that this time, I watched it in full detail. About how great the acting was – it’s so natural. Anyway, I’m not a movie critic so my judgement about Will Smith and Eva Mendes act is totally subjective. It’s just fun to see small gestures Sara gave to Hitch when he (tried to) confess…

And so many Hitch expressions.

He reminds me of someone.

END.

*

Why do I bother to write this? Consider this as a stretch. It’s so hard for me to find time to write (despite many memos I’ve written in the office). Today, I went to a talk show in my office. The guests are my office employee who had written book(s), one of them even paint regularly and fund his social activities through his paintings. The only question in my mind (and my coworker’s), is how do they manage their time to do office job and write (and paint and do social activities)?

He just answered “work life balance”. But what do I got from his explanation, to do more, you have to sacrifice more. He painted at 2 AM if he got the idea and he had to do it that time. It means less sleep time, right?

So here I am. Writes. I’d like to do this more often. Maybe starts with something small. Like this piece 😛

*Hitch movie poster taken from wikipedia